
Morgan bergegas untuk melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, untuk sekedar membasuh tubuhnya yang kini sudah mulai memanas, akibat gesekan kecil dirinya dengan Ara tadi.
Morgan merasa sangat tidak nyaman dengan dirinya, yang mungkin saja sudah terlalu kuat untuk menahan hasratnya pada Ara.
Morgan menutup pintu kamar mandi, kemudian membuka shower dan membiarkan sekujur tubuhnya terkena air yang mengalir dari shower.
Ia merasa seperti kepalanya mengeluarkan asap, ketika air yang mengalir itu mengenai kepalanya. Darahnya pun ikut naik, dan seketika tubuhnya semakin memanas setelah terkena siraman air.
Morgan berusaha mengatur napasnya, dan berusaha mengontrol dirinya. Ia tidak ingin, mood-nya yang aneh itu, menjadikan holiday ini menjadi hancur.
"Saya lagi pengen ... tapi kenapa tadi dipanggil dengan sebutan bapak? Seketika jadi campur aduk hati ini," gumam Morgan, yang sedikit kecewa dengan sedikit ucapan Ara tadi.
Morgan membenamkan tubuh beserta wajahnya di dalam bath tub, masih berusaha keras untuk membuat dirinya terkontrol lagi. Ia sama sekali belum bisa mengontrol dirinya, jika dihadapkan dengan kemolekan tubuh Ara, yang sangat ia idamkan itu.
Apa dia kelepasan memanggil saya dengan sebutan bapak, karena kaget dengan keadaan yang tidak memungkinkan itu? Saya tidak sepenuhnya menyalahkan dia sih. Tapi, hati ini jadi tidak teratur saja saat ini. Jadi tidak mood, pikir Morgan yang sangat kecewa dengan sedikit ucapan Ara.
“Sudahi saja malam ini. Saya benar-benar tidak mood,” gumam Morgan, yang masih kesal dengan keadaan.
Morgan pun memilih untuk meredakan suhu tubuhnya dengan berendam di bath tub. Ia memejamkan matanya sejenak, untuk mencoba menghilangkan stres yang tengah melandanya saat ini.
Saat Morgan sudah selesai dengan aktivitas mandinya, Ara pun sudah tertidur pulas, dengan memakai kemeja, yang sangat membangkitkan hawa nafsunya.
Ara sudah tertidur, dengan menghadap arah yang tidak bisa Morgan lihat. Tapi, masih terlihat jelas belahan dada yang sedang berusaha ia tutupi itu.
Dalam hati Morgan, aku ingin sekali menciumnya, tapi aku masih merasakan hati yang mengganjal karena tadi ia memanggilku dengan sebutan bapak. Aku sudah tidak mood lagi sekarang. Aku ingin secepatnya beristirahat dan memejamkan mataku untuk esok yang lebih baik lagi.
Morgan pun menghela napasnya panjang, lalu melangkah ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya, berlawanan dengan tubuh Ara. Ia tidak mengizinkan Ara untuk melihat dan mengetahui apa yang sebenarnya ia rasakan.
Aku hanya ingin istirahat. Kuharap, ia juga seperti itu, pikir Morgan.
Di sebelah Morgan, Ara ternyata belum juga terlelap, tapi ia mengetahui bahwa Morgan sudah terlelap di sampingnya.
Aku merasa kecewa dengan Morgan. Bisa-bisanya dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun di antara kami tadi. Apa ada perkataanku yang salah? Morgan terlihat berubah mood-nya. Apa mood swing juga bisa terjadi kepada laki-laki? Pikir Ara, yang masih tidak mengerti, letak kesalahannya.
'Kesel banget ish!' batin Ara mendengus kesal.
Morgan sama sekali tidak bisa membaca keadaan. Ara sampai lelah memikirkannya.
‘Niatnya mau peluk sampai pagi, malah begini,’ batin Ara yang kesal karena tidak bisa menyalurkan keinginannya.
__ADS_1
Ara mengurangi sedikit gengsinya. Ia berbalik menghadap Morgan yang sepertinya sudah terlelap.
"Maaf," lirih Ara dengan sendu.
Mungkin saja, dia masih bisa mendengar ucapanku meski samar, pikir Ara.
Ara memeluk tubuh Morgan yang bertolak belakang dengannya. Ara merasakan kenyamanan yang selama ini sempat hilang darinya. Perlahan, Ara memejamkan matanya, karena sudah semakin lelah dengan aktivitasnya pada hari ini.
...***...
"Jangan ... jangan pergi, Gan!" pekik Ara keras sekali, tapi Morgan sama sekali tak menghiraukan ucapannya.
Morgan semakin pergi menjauh, entah ke mana. Ara terus-menerus memanggilnya, namun ia sama sekali tidak berhenti dari langkahnya. Dirinya terlihat semakin kecil, dan perlahan menghilang seiring waktu.
Ara mendelik, "hah ...," ia tiba-tiba saja bangkit dari tidurnya dan mulai mengatur napasnya yang tersengal.
Ara mendelik, karena teringat dengan Morgan.
Ia pun mengedarkan seluruh pandangannya, pada seluruh sudut ruangan ini. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan Morgan di sini.
"Srkkkkkk ...."
Tiba-tiba saja, terdengar suara air yang sedang mengucur dari kamar mandi, membuat Ara menghela napas dengan panjang.
Ara meremas pelan rambutnya yang sudah kusut dan berantakan.
Aku pikir, Morgan sudah meninggalkanku. Ternyata, ia masih di sini, dan masih bersamaku, pikir Ara yang tenang dengan keberadaan Morgan.
“Ckrekk ….”
Terlihat Morgan dari balik pintu kamar mandi, yang mengerenyitkan dahinya ke arah Ara.
"Ra ... kamu kenapa?" tanyanya yang keadaannya kini, hanya melilitkan selembar handuk pada bagian bawahnya, dan menggosokkan handuk lainnya pada kepalanya.
Persis seperti yang Ara lihat, saat ia diundang makan malam dengan Fla waktu itu. Bedanya, sekarang mereka sudah bersama, dan Ara tidak merasakan malu sedikit pun melihat Morgan dengan keadaan seperti itu.
"Gak apa-apa. Cuma mimpi," ucap Ara asal, karena masih terfokus pada Morgan yang berada di hadapannya saat ini.
Morgan lagi-lagi mengerenyit, lalu ia segera menghampiri Ara dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Siap-siap mandi ya. Kita akan terbang siang ini," suruh Morgan, sembari membelai lembut rambut Ara.
Ara mengangguk kecil, dan segera ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya.
Ara membiarkan air itu membasahi sekujur tubuhnya. Tapi, pikirannya masih entah ke mana.
Apa yang terjadi? Mimpi itu terasa nyata bagiku. Aku seperti sudah kehilangan sosok berharga dalam hidupku. Tapi, entah bagaimana bisa menjelaskan kepada hati bahwa itu hanyalah mimpi belaka, pikir Ara yang saat ini sedang berperang dengan batinnya.
Ara menepuk pelan wajahnya, "sadar dong hati ... ini tuh cuma mimpi. Morgan gak beneran pergi dari kehidupan loe," lirih Ara, yang berusaha menutupi suaranya, agar terdengar samar.
Ia hanya ingin menenangkan hatinya saja.
Karena ia sudah lelah mendengar kata-kata buruk yang terus terngiang di pikirannya, ia pun segera menyelesaikan mandinya, agar ia bisa dengan cepat menuju ke tempat tujuan mereka untuk berlibur.
Ara bersiap dan mengemasi barang-barangnya yang ia bawa. Saat mengemasi barang-barangnya, Ara jadi teringat tentang hadiah yang ingin ia berikan kepada Morgan.
Kapan waktu yang tepat untuk memberikannya, ya? Pikir Ara.
"Srrrrrtttt ...."
Morgan menutup kopernya dengan cepat, lalu ia menoleh ke arah Ara untuk memastikan kesiapan Ara.
"Sudah siap?” tanya Morgan, Ara pun mengangguk kecil.
Morgan menarik dua koper pada kedua tangannya, membuatnya tidak bisa menggandeng tangan Ara. Ara yang mengetahui itu, segera berjalan selaras dengan Morgan dan menyamai langkahnya yang jenjang.
Mereka pun tiba di tempat mobil Morgan terparkir.
Morgan melepaskan kedua tangannya dari kopernya, mencari kartu untuk membuka pintu mobil, dan mereka pun masuk ke dalamnya.
"Ckleeekkk ...."
Morgan memasang sabuk pengamannya, tak lupa ia juga memasangkan sabuk pengaman pada Ara.
Morgan pun memandang ke arah Ara, "semoga kita selamat sampai tujuan," lirih Morgan.
Ara tersenyum dan mengangguk kecil ke arahnya.
Morgan pun bersiap, kemudian mengendarai mobilnya dengan keadaan santai, sampai Ara bisa melihat keadaan Ibukota.
__ADS_1
Ara sangat menantikan akhir pekan ini. Dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya, Ara dan Morgan pun pergi menuju ke arah bandara.
...***...