Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kado Untuk Orang Spesial


__ADS_3

Akhir pekan yang Ara nanti pun tiba. Ia bangun pagi sekali, karena mendengar alarmnya yang berdering dengan sangat keras.


“Biippp ....”


Ara menonaktifkan alarmnya.


“Engghh ....”


Ara merenggangkan tubuhnya yang sedikit kaku, akibat posisi tidur yang salah. Ia berusaha membenarkan pandangannya yang masih sedikit rabun, sembari sesekali mengucek kedua matanya yang gatal.


Tiba-tiba saja, terbayang sekilas waktu yang sudah ia lalui bersama dengan Morgan, selama 6 bulan ini. Tak terasa, sudah setengah tahun mereka menghabiskan waktu bersama.


Apa yang harus aku siapkan untuk aku berikan kepada Morgan? Kado yang seperti apa yang cocok untuknya? Pikir Ara.


Ara mencari handphone-nya, dan segera membuka aplikasi chat yang biasa ia pakai untuk bertukar kabar dengan teman-temannya.


“Bipp ....”


Ara membuat panggilan grup.


"Halo ... masih pagi ...,” ucap Rafa, yang masih terlihat berada di ranjangnya.


"Bangun ... kenapa gak ada yang angkat sih, cuma Rafa doang?" tanya Ara dengan sangat kesal.


Farha, Fla, dan juga Ray sama sekali tidak mengangkat telepon Ara.


"Mereka masih pada tidur lah! ini masih jam 4 pagi, Ra. Gak usah ngaco deh!" bentak Rafa, membuat Ara memanyunkan bibirnya.


"Uhhh ... ya udah kalau gak pada bisa nganterin Ara mah," gerutu Ara dengan kesal.


"Yayaya ... main sendiri sana," ucap Rafa asal, karena kondisi dirinya yang masih mengantuk, Ara memahami itu.


"Tuuuuttt ...."


Ara mengakhiri video call tersebut.


Kenapa tidak ada yang bisa menemaniku untuk menghabiskan akhir pekan? Pikir Ara yang merasa kesal dengan keadaan.


"Haaaaaa ... mumpung masih pagi nih! Morgan gak ngasih tau sih, dia mau jemput kapan!" lirih Ara dengan kesal.


Ara berusaha berpikir apa yang harus ia lakukan sembari menunggu Morgan yang nanti menjemputnya.


Tiba-tiba saja ia teringat dengan seseorang, yang bisa ia ajak untuk bersenang-senang di akhir pekan ini.


Ara segera menekan nomor tujuannya dengan sangat bersemangat.


"Bippp ...."

__ADS_1


Ia menunggu orang itu menjawab video call yang ia buat. Ara sempat berpikir was-was, kalau saja ia tidak menjawab, Ara harus bersiap untuk pergi seorang diri, untuk membelikan Morgan hadiah.


"Angkat dong ...," lirih Ara, yang berharap besar padanya.


"Halo ...."


Tiba-tiba, terdengar suara yang tak asing, dari ujung sana. Dia benar mengangkat telepon dari Ara, membuat Ara sangat senang.


Akhirnya dia merespon teleponku, pikir Ara.


"Hatake! Temenin Gue ke mall, ya!" bidik Ara, membuat Hatake terlihat kaget.


"Hah? What time is it?" Hatake kebingungan, karena Ara yang mengajaknya ke mall sepagi ini.


"Ya gak sekarang juga ...."


"Oh. Yaudah, nanti mau dijemput?" tanyanya yang masih setengah sadar, sampai Ara khawatir kalau ia sedang melindur.


"Iya! Jangan lupa! Jam 8 nanti jemput gue, ya!" suruh Ara.


Ia mengangguk kecil dengan posisi yang masih tak sadarkan diri.


Ara menutup teleponnya, berharap Hatake tidak lupa dengan janjinya.


“Hari spesial, harus siapin hadiah yang spesial juga untuk Morgan,” lirih Ara sembari tersenyum.


Ia menggantungkan handuk, membuka shower dan membiarkan seluruh tubuhnya terkena dinginnya percikan air di pagi hari.


Agak sendu Ara memikirkan yang terjadi beberapa hari ke belakang ini, karena ia sama sekali tidak berkabar dengan Morgan.


Apa ... ada masalah yang tidak aku ketahui? Pikir Ara yang mendadak sendu dengan keadaannya.


...***...


Saat ini, sudah pukul delapan tepat. Ara bergegas menuju meja makan untuk sekedar mengisi perutnya yang lapar.


Tapi, hari tidak seperti biasanya. Pagi ini terasa sangat sepi karena Ares sedang kembali ke rumah ibunya, untuk mengurus persoalan administrasi, untuk pendaftaran ke sekolah yang ia inginkan, sementara Arash tidak tampak di ruang makan, membuat Ara bingung dengan keberadaannya.


“Kakak mana, sih?” gumam Ara, yang sedikit bertanya-tanya dengan keberadaan Arash.


Ara berusaha mencari dan menuju ke kamarnya.


"Cklekkk ...."


Ara membuka pintu kamar Arash.


Terlihat Arash yang sedang bertelanjang dada, dengan seorang wanita asing yang berada di sebelahnya. Wanita yang juga tidak mengenakan pakaian, hanya terbalut dengan selimut tipis itu, membuat Ara sedikit sendu karenanya.

__ADS_1


Ara menghela napas panjang ketika melihatnya.


"Lagi-lagi, bukan wanita yang aku kenal," lirih Ara dengan nada malas.


Ara tak menghiraukannya, dan menutup kembali pintu kamar Arash, dan segera memakan selembar roti yang sudah disiapkan Bibi.


"Tinnn ...."


Klakson mobil tiba-tiba saja terdengar dari arah depan. Ara bergegas mengunyah sisa makanannya, dan membawa tas selempang beserta sisa roti yang ada di tangannya.


“Bi, nanti kalau kakak udah bangun, tolong bilangin kalau aku mau jalan sama teman aku,” pekik Ara, yang langsung menuju ke depan rumahnya.


Terlihat mobil asing yang baru saja ia lihat. Sudah ada Hatake di sana. Ia nampak terdiam setelah melihat Ara, seperti orang yang sedang terpukau.


"Maaf kalau nunggu lama," ucap Ara, membuat Hatake tersadar dan tersenyum padanya.


"It’s okay. Ke mall jam segini, pasti belum buka," ucap Hatake, membuat Ara juga berpikir demikian.


"Iya juga sih ...."


"Gimana kalau kita coffee break?" usulnya.


Ara berpikir, idenya tidak buruk juga.


Ara pun masuk ke dalam mobil Hatake, dan mereka bergegas pergi menuju suatu kafe, untuk sekedar menghabiskan waktu sebelum mall benar-benar dibuka.


Sesampainya di sana, Ara dan Hatake duduk di suatu meja kosong, kemudian memesan beberapa makanan dan juga minuman, untuk sekedar mengisi perut Hatake yang sama sekali masih belum terisi makanan.


Hatake memandang ke arah Ara, "gimana, do you passed your exams with easy?" tanyanya, membuat Ara mengangguk kecil.


"I feels do my best," jawab Ara dengan sangat bersemangat, membuat Hatake tertawa kecil setelah mendengar jawaban Ara.


Sangat asyik bercengkerama bersama dengan Hatake. Mungkin, karena perbedaan budaya, membuat perbincangan kita semakin menarik. Dia sangat responsif, pikir Ara.


Ara menunduk, "gak terasa udah satu semester terlewati," lirih Ara tanpa sadar menjadi sendu.


Hatake pun melontarkan senyumannya, "aku malah sudah melewati semua semester. Sebentar lagi, aku lulus lho," ucapnya dengan logat khasnya itu.


Ara sedikit terkejut dengan yang ia ucapkan, karena ia ternyata jauh lebih dulu masuk ke kampus itu daripada Ara.


"What?! Kamu ternyata mahasiswa semester akhir?" tanya Ara yang tak percaya dengan pernyataannya.


Hatake mengangguk kecil, sembari memotong kecil-kecil roti yang saat ini berada di hadapannya. Ara sampai tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang jelas, Ara pasti akan merindukan Hatake saat ia sudah lulus nanti.


"Terus, rencananya kapan wisuda? Udah ngajuin judul skripsi?" tanya Ara, Hatake pun menggeleng kecil.


"Lho kenapa?" tanya Ara yang tak percaya dengan pernyataannya.

__ADS_1


__ADS_2