
Usia kandungan Ara sudah memasuki trimester ketiga. Pagi ini, Ilham mengantarkan Ara untuk memeriksakan kandungannya yang sudah menginjak minggu ke-32, atau setara dengan bulan kedelapan.
Masih di dalam mobil, Ilham memarkirkan mobilnya dengan rapi. Cara ia membawa mobil kali ini, sungguh sangat pelan, karena khawatir terjadi sesuatu dengan kandungan Ara.
Pagi yang cerah ini, Ilham seakan melihat bintang bertaburan di mata Ara. Entah pandangannya yang kabur, atau karena aura kebahagian Ara yang terpancar dari mata Ara.
Ilham tersenyum menatap istrinya itu, "Cantik," gumam Ilham, membuat Ara tersenyum mendengarnya.
Saking gemasnya ia memandang istrinya itu, Ilham sampai menafikan pandangannya karena terlalu gugup melihat Ara yang tersenyum. Bagi Ilham, senyuman istrinya itu sangatlah manis di matanya.
Ara memandang Ilham dengan pandangan yang sangat bahagia. Menyadari Ara yang memandang ke arahnya, Ilham pun menjadi spontan memandang ke arah Ara kembali.
Ilham mengerenyit, "Ada apa?" tanya Ilham, membuat Ara tersenyum sumringah.
"Suami aku kok semakin ganteng, sih?" gumam Ara, membuat wajah Ilham menjadi merona seketika.
Ilham menafikan pandangannya dari Ara, berusaha menahan rasa malunya karena mendengar perkataan Ara yang membuatnya tersipu malu.
Ilham kembali memandang ke arah Ara dengan malu, “Ah ... istriku sekarang sudah pintar ngegombal,” ledek Ilham, membuat Ara menyeringai ke arahnya.
“Wanita gak bisa gombal. Apa yang mereka bicarain, semuanya murni dari apa yang sudah mereka lihat atau rasakan,” ujar Ara dengan lembut, membuat mata Ilham mendelik kaget mendengarnya.
“Iya deh ... wanita,” gumam Ilham lagi, yang tidak ingin membuat perasaan istrinya menjadi kesal.
Ara memandang Ilham dengan tatapan menggoda, “Gak seperti pria, yang ucapannya selalu gombal di hadapan wanitanya,” cerca Ara dengan nada setengah meledek, membuat Ilham tersenyum, dan segera mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ara.
Ara agak memundurkan wajahnya sedikit, karena jarak dari wajah dirinya dan wajah Ilham saat ini, sudah sangat dekat.
“Aku gak pernah sekalipun bicara gombal sama kamu, bahkan sama wanita lain,” bantah Ilham dengan sangat lembut, membuat Ara menahan senyumannya itu.
__ADS_1
“Lalu?” tanya Ara, berusaha memberikan trik psikologis kembali untuk Ilham.
“Semua yang aku rasakan dan aku lihat, semuanya selalu aku ucapkan sama kamu. Sama seperti saat ini,” ucapnya membuat Ara menatap Ilham dengan tajam.
“Saat ini, kenapa?” tanya Ara, yang penasaran dengan yang Ilham maksudkan.
“Saat ini, saya melihat dan merasakan kalau kamu juga semakin cantik,” jawab Ilham, yang berhasil membuat Ara tersipu malu.
Mereka sejenak saling pandang, berusaha mengeluarkan isi hati masing-masing.
“Gimana, sudah siap periksa dan USG?” tanya Ilham, membuat Ara mengangguk mantap, “ayo kita masuk,” ajak Ilham, yang lagi-lagi membuat Ara mengangguk.
Ilham dengan sangat hati-hati, membantu Ara untuk keluar dari mobilnya. Tangan Ilham selalu menggenggam tangan Ara, dan tak pernah sekalipun melepasnya. Ia menuntun Ara dengan sangat lembut, membuat Ara menjadi sangat nyaman dan aman bila bersamanya.
'Kenapa gak dari dulu aku mengerti tentang cinta yang kak Ilham punya?' batin Ara yang tersenyum melirik ke arah suaminya itu.
Mereka sudah sampai di ruangan dokter kandungan. Dengan serangkaian pemeriksaan yang ada, Ara pun menjalaninya dengan sangat senang, karena selama pemeriksaan kandungan pertama kali, hingga pemeriksaan kali ini, Ilham selalu setia menemani Ara di sampingnya.
"Dibaringkan dulu ya. Pak Ilham, tolong dibantu istrinya," ujar sang dokter, membuat Ilham dengan sigap membantu Ara untuk membaringkan tubuh.
Sang dokter pun mulai memeriksa kandungan Ara, karena mereka meminta untuk di-USG. Ara yang sudah berbaring, sangat siap untuk segera mengikuti serangkaian kegiatan USG. Ara membuka sebagian dress over size yang ia kenakan, sehingga perutnya yang sudah nampak membuncit pun terlihat.
Sebuah alat bernama transducer, ditempelkan pada kulit perut Ara. Sang dokter meminta Ara dan Ilham untuk melihat ke layar monitor, untuk melihat perkembangan sang bayi.
Betapa bahagianya mereka, karena bayi yang di dalam kandungan Ara, bukan hanya satu tetapi ada dua. Dengan kata lain, mereka memiliki anak kembar pada rahim Ara, membuat Ilham meneteskan air mata karenanya.
“Gak cuma satu, tapi dua!” gumam Ilham, yang saking senangnya sampai air mata pun mulai berjatuhan di pipinya.
Memang selama ini, mereka sama sekali belum pernah melakukan USG, dengan alasan ingin mendapatkan kejutan tentang jenis kelamin si bayi. Mereka juga sampai belum membeli peralatan bayi, saking Ara trauma dengan pengalaman kegugurannya kemarin, membuat Ara enggan untuk mempersiapkan sesuatunya dengan cepat.
__ADS_1
Namun, karena usia kandungan Ara yang sudah memasuki masa menjelang melahirkan, Ara menjadi penasaran dengan keadaan sang bayi, yang selalu aktiv menendang perut Ara dengan sangat kencang, dan tendangannya itu seperti tidak hanya satu anak saja. Hal itu membuat Ara penasaran dengan janin yang ada di dalam perutnya.
“Wah ... mungkin yang kemarin gugur, diganti dengan sekarang, Pak! Selamat, bayi kalian kembar,” ujar dokter yang memang menangani Ara sejak kehamilan pertama.
Mendengar ucapan sang dokter, Ara pun menjadi teringat dengan kehamilan pertamanya yang masih membekas di pikiran Ara.
‘Gak ada yang mampu menggantikan bayi dari Morgan. Mereka berbeda, karena memang berbeda ayah,’ batin Ara, yang masih bisa tersenyum saking senangnya mendengar kabar baik tentang kehamilan kembarnya itu.
Ilham menatap sang dokter, “Terima kasih, dok!” ujar Ilham, “apa proses pemeriksaannya masih lama?” tanya Ilham.
“Masih ada pemeriksaan mengenai gizi. Memangnya, ada apa?” tanya dokter yang keheranan dengan pertanyaan Ilham.
Ilham mengelap sisa air mata yang masih basah di pipi, “Saya titip istri saya sebentar, karena saya ingin ke toilet,” jawab Ilham, membuat sang dokter mengangguk kecil mendengarnya.
Ilham menoleh ke arah Ara yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit, “Sayang, aku ke toilet sebentar, ya. Kamu tunggu di sini, atau kamu bisa tunggu di luar ruangan ini nanti, kalau sudah selesai. Mendadak perut aku gak bisa dikontrol,” ujar Ilham, membuat Ara mengangguk kecil mendengarnya.
“Jangan lama-lama, ya,” ucap Ara.
“Iya sayang. Gak akan lama, kok!”
Ilham pun segera melangkah keluar ruangan, untuk meninggalkan Ara. Ia menutup pintu ruangan, dan berdiri sejenak di pintu ruangan tersebut.
Ia memegang dadanya yang sudah sedari tadi ia rasakan sangat sesak, tetapi ia sama sekali tidak mau menunjukkannya pada Ara dan dokter yang ada di dalam.
Ilham mengatur napasnya yang terasa berat, membuatnya tidak tahan dengan keadaan.
Ilham berjalan meninggalkan ruangan tempat pemeriksaan kandungan.
...***...
__ADS_1