
Ara berjalan dengan gontai, melewati lorong kampus yang sudah sangat sepi keadaannya. Ia terpaksa pulang lebih akhir, karena Ilham yang memberi kabar kalau dirinya sedang ada urusan sebentar, dan akan terlambat menjemput Ara.
Teman-temannya sudah lebih dulu pulang, karena ia yang meminta. Ara juga menolak ajakan mereka untuk pulang bersama.
Seseorang pun muncul dari persimpangan. Ara menatapnya dengan pandangan yang sangat terkejut, orang yang ternyata adalah Morgan. Morgan masih saja memakai jaket pemberian Ara kala itu. Entah apa maksudnya, itu sangat membuat Ara bingung.
'Dia ngapain berhenti di hadapan gue?' batin Ara yang bingung dengan Morgan.
Dengan tidak memedulikannya, Ara pun melangkah melewati Morgan. Merasa dirinya tak dianggap ada, Morgan pun mendelik, dan seketika menarik tangan Ara dengan kasar, membuat Ara harus masuk ke dalam pelukan Morgan.
Betapa terkejutnya Ara, ketika Morgan yang tiba-tiba saja menariknya ke dalam pelukan itu. Jauh di lubuk hati Ara, ia juga sangat merindukan Morgan. Namun, ia juga tidak bisa mengubah takdir, bahwa dirinya kini sudah menjadi milik orang lain.
"Saya rindu," gumam Morgan dengan sendu, membuat Ara secara tidak sadar meneteskan air matanya lagi.
Ara hanya diam, tidak bergerak ataupun bergeming sama sekali. Ia hanya diam, tanpa tahu harus bagaimana.
"Jangan pernah loe temuin gue lagi!" bentak Ara, membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
Morgan malah mempererat pelukannya pada Ara, membuat Ara menjadi sangat sesak karenanya.
"Kenapa kamu ambil keputusan seperti ini?" tanya Morgan yang sendu mengingat kalau Ara dan Ilham sudah resmi menikah.
Ara mendelik sinis tanpa bisa melepaskan dirinya dari pelukan Morgan, "Kenapa? Loe yang kenapa? Kenapa pergi ninggalin gue, tanpa ngasih kabar? Kenapa loe ambil keputusan sepihak buat mengakhiri hubungan kita? Kenapa loe susah dihubungin, hah?" tanya Ara dengan sinis, membuat Morgan mendelik sendu mendengarnya.
"Saya salah," gumam Morgan, yang sudah sangat menyesal dengan perbuatannya.
"Telat!" bentak Ara, membuat Morgan semakin sendu mendengarnya.
Memang sudah selalu seperti itu, bukan? Penyesalan memang selalu datang terlambat.
"Lepasin gue!" bentak Ara, tetapi Morgan sama sekali tidak menggubris ucapannya.
"Ra, saya sayang sama kamu--"
__ADS_1
"Berhenti bilang sayang ke gue!" pangkas Ara, membuat Morgan terdiam sembari melotot kaget.
"Ke-kenapa, Ra?" tanya Morgan dengan nada yang tak mempercayainya.
"Masih nanya kenapa? Gue udah nikah, dan gak seharusnya loe datang lagi ke dalam kehidupan gue! Gue menghargai suami gue, jadi loe gak usah deh bikin hubungan gue sama dia hancur!" bentak Ara, membuat Morgan lagi-lagi mendelik kaget mendengarnya, "lepasin," gumam Ara, yang sekali lagi tak dihiraukan oleh Morgan.
Morgan malah memperdalam rasa sakitnya, dan mempererat pelukannya pada Ara. Tak sengaja, air mata Morgan pun menetes dengan derasnya, karena tak sanggup berpisah dengan Ara.
"Kamu gak dengar yan Ara bilang tadi?" pekik seseorang yang ada di hadapan Ara saat ini.
Ara mendelik, karena melihat sosok Ilham yang sedang berdiri di hadapannya, "Kak Ilham," gumam Ara, membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
Morgan pun perlahan melepaskan Ara, membuat Ara berlarian ke arah Ilham, lalu memeluknya dengan erat. Morgan yang melihat pemandangan ini, seketika dirinya merasa sangat terguncang.
"Ini gak seperti yang kamu lihat--"
"Tenang aja, kok. Aku selalu pengertian sama kamu," potong Ilham membuat Ara mendelik seketika, "aku gak sama seperti orang yang udah sia-siakan kamu, hanya karena kesalahpahaman yang belum jelas. Aku gak akan mengulangi kesalahan orang idiot itu. Aku gak akan lepasin kamu," ujar Ilham, yang seketika membuat emosi Morgan bergejolak.
Morgan pun mendelik, lalu segera menarik kerah kemeja Ilham yang berwarna merah maroon itu, dengan sangat kasar, sehingga dengan terpaksa ia harus melepaskan Ara dari pelukannya.
"Bukk!!"
Dengan sangat emosi, Morgan memukul Ilham, sama seperti yang ia lakukan kala itu, membuat Ilham jatuh tersungkur ke atas lantai koridor kampusnya.
Ara mendelik kaget mendengarnya, "Kak Ilham!" pekik Ara yang khawatir dengan keadaan suami tercintanya itu.
Tak tinggal diam, Ilham juga menyerang kembali ke arah Morgan, sampai Morgan merasa kalau dirinya selama ini sudah meremehkan sosok Ilham di matanya.
Ilham, tak selemah yang Morgan bayangkan.
"Stop!!" teriak Ara, tak membuat Morgan menyurutkan emosinya, dan malah semakin tertantang untuk menghabisi sosok Ilham yang ada di hadapannya.
"Brakk!!"
__ADS_1
Ilham jatuh terpental ke belakang, membuat Ara mendelik khawatir dengan keselamatan Ilham.
"Kak!" pekik Ara yang menghawatirkan sosok Ilham.
Dengan tidak memedulikan keadaan sekitar, Ara pun berlarian memeluk Ilham, tetapi Morgan yang tak tahu, harus melayangkan pukulan yang keras ke arah Ilham.
Dengan refleks yang sangat cepat, Ilham menahan kepalan tangan Morgan, yang hampir saja mengenai tengkuk kepala Ara yang sedang memeluk Ilham, membuat Morgan mendelik ketika menyadari kalau dirinya yang hampir saja mencelakakan Ara. Beruntung Ilham dengan refleks yang bagus, mampu menahan tinjuan maut Morgan, membuatnya semakin geram dengan sosok Morgan yang ada di hadapannya.
"Jangan sentuh istriku!" gumam Ilham dengan lirih, yang semakin membuat Morgan tersentak kaget.
Ilham melepaskan tangan kotor Morgan yang hampir saja mencelakai Ara, dan segera menuntun Ara untuk bangkit dari lantai. Ilham tidak ingin Ara sampai kotor sedikit pun karena tindakan konyol dosen idiot itu.
Mereka saling berpandangan, dengan Ara yang berdiri ketakutan di belakang Ilham.
Ilham menunjuk ke arah Morgan, "Jangan ganggu kami lagi," gumam Ilham dengan lirih, membuat Ilham segera membawa Ara pergi dari hadapannya.
Mereka melangkah dengan sangat lambat, karena kondisi Ilham yang hampir saja down karena sudah berkelahi dengan sengit bersama dengan rival terkuatnya.
Morgan tentu saja tidak menerima itu semua.
"Kamu pasti nerima dia karena terpaksa, kan?" tanya Morgan dengan datar, membuat Ara dan Ilham menghentikan langkahnya.
Betapa terkejutnya Ara mendengar pertanyaan itu dari mulut Morgan, karena memang sejak awal Ara hanya terpaksa menerima pernikahan ini. Ia sama sekali tidak mencintai Ilham, karena rasa cintanya hanya untuk Morgan saja.
Akan tetapi, semua yang sudah berlalu kurang lebih 4 bulan ke belakang ini, dengan hal manis yang selalu terlontar dari Ilham, membuat Ara sangat bersyukur bisa bersanding dengan sosok Ilham, yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Ara menoleh ke arah Morgan, "Gue pure mau menikah sama Kak Ilham. Itu semua karena gue sayang sama dia," jawab Ara sendu, membuat Morgan mendelik tak percaya dengan yang Ara katakan.
Ilham pun mendelik karena dirinya kini sudah bisa merasakan kesungguhan ucapan istrinya, yang hanya akan memilih dirinya saja jika Morgan kembali.
Ara kembali melangkahkan kakinya menjauhi Morgan, membuat Morgan merasa sangat kesal dibuatnya.
"Sial!!" teriak Morgan yang sudah sangat kesal dengan keadaan.
__ADS_1
...***...