
"Tuuuuuuttt ...."
"Halo, Fla," sapa Ara.
"Halo, Ra. Tadi loe nelpon gue? Ada apa?" tanyanya, membuat Ara seketika teringat dengan Morgan.
"Oh ya, Fla. Tadi gue mau nanyain Morgan. Apa sekarang Morgan udah sampai rumah? Soalnya gue nelepon, gak diangkat sama dia. Mungkin tadi dia lagi di jalan," ucap Ara.
"Oh ya, kak Morgan baru aja datang kok, Ra."
Dari arah luar, Morgan bergegas menuju ke arah kamar Fla untuk meminta bantuan padanya. Sayangnya, langkah Morgan terhenti bahkan saat ia ingin mengetuk pintu kamar Fla.
"Oh ya kak Morgan baru aja datang kok, Ra," ucap Fla yang membuat Morgan sedikit kesal mendengar percakapan adiknya, dengan gadis yang tak lain adalah kekasihnya.
Kenapa dia memberitahukan keberadaan aku pada Ara? Pikir Morgan yang kesal dengan adiknya.
Morgan menunggu di luar kamar Fla. Ia tidak ingin Fla sampai mengetahui kalau dirinya mendengar percakapan mereka di telepon, karena Morgan sedang tidak ingin berbicara dengan Ara untuk saat ini.
"Oh syukur deh kalau udah dateng." Suara Ara terdengar sangat lirih di telinga Morgan.
"Ra ... saya udah selesai nih."
Terdengar samar suara laki-laki yang tidak Morgan kenal. Morgan seketika mendelik, hatinya langsung bergejolak, sesaat setelah mendengarnya.
Sudah selesai katanya? Memangnya dia sudah melakukan apa? Kenapa malam-malam seperti ini, dia ada di rumah Ara? Apakah itu Arash? Pikir Morgan yang menerka keadaan.
Morgan kembali meyakinkan dirinya.
Ah, tidak mungkin Arash berbicara formal seperti itu. Lagi pula, aku mengetahui betul suara Arash seperti apa. Apalagi beberapa menit lalu, aku melihat postingan di akun media sosial Arash yang sedang berada di sebuah bar. Dengan kata lain, pasti Arash saat ini tidak ada di rumah, pikir Morgan yang terus-menerus rancu dengan keadaan yang sebenarnya sama sekali tidak ia ketahui dengan jelas itu.
"Oh ya sebentar, aku lagi telepon temen," ucap Ara, "Yaudah Fla, aku lanjut masak dulu ya. Makasih infonya Fla."
Mendengar Ara yang sedang memasak, hal itu membuat Morgan merasa semakin naik pitam.
Apa katanya? Ia memasak untuk laki-laki itu? Apa aku tidak salah dengar? Bahkan aku saja tidak pernah membiarkannya memasak untukku. Kalau sudah seperti ini, aku harus kembali ke rumah Ara. Aku tidak mau sampai laki-laki itu menyentuhnya sedikit pun, pikir Morgan yang sudah terbakar dengan rasa cemburunya.
Morgan segera kembali menuju posisi Dicky, yang sedang menunggu di ruang tamu. Dengan cepat, Morgan segera menyambar dan memakai jaket detektif yang Ara berikan padanya waktu itu.
__ADS_1
Melihat aura Morgan yang suram, Dicky pun mendelik ke arahnya, "Mau ke mana kamu? Kok buru-buru amat sih?" tanya Dicky.
Morgan tak memedulikannya dan langsung berlari menuju ke arah mobilnya. Morgan segera masuk ke dalamnya dan memakai sabuk pengamannya. Dari arah dalam rumahnya, Dicky juga berlarian mengikuti Morgan berjalan.
"Brukk ...."
Dicky menutup dengan keras pintu mobil Morgan, dan segera menatapnya dengan sinis.
Saat ini, Dicky sudah berada di sebelah Morgan. Morgan pun langsung mengeluarkan mobilnya dari garasi, dan segera melajukannya dengan kecepatan tinggi.
"Gan kamu mau ke mana? Apa yang baru aja terjadi?" tanyanya Dicky, yang diindahkan oleh Morgan.
Morgan menghela napas berulang kali, berusaha menahan amarahnya agar tidak terbuang sia-sia.
Morgan menatap ke arah jalan dengan tatapan tajam, "Ada laki-laki di rumah Ara," gumam Morgan dengan datar, Dicky terlihat memasang tampang tak paham.
"Hah laki-laki yang kamu maksud ada di rumah itu siapa? Kakaknya?" tanya Dicky, yang membuat Morgan menjadi bertambah kesal, karena mendengar pertanyaan Dicky yang asal menebak saja.
"Udah deh, jangan bikin saya tambah panas!" bentak Morgan, membuat Dicky terdiam seketika.
Morgan masih saja kesal dengan keadaan, membuat dirinya menjadi berapi-api, dan malah memarahi Dicky yang sama sekali tak bersalah.
Di sana, Ara sudah selesai memasak untuk Ilham dan juga Rangga. Ara pun langsung meletakkan semua makanan di atas meja makan, kemudian duduk di kursi yang ada di dekat meja makan.
Ara tak sengaja melihat ke arah Ilham yang tiba-tiba saja datang, dan duduk di kursi makan, tepat di sebelah Ara duduk.
Ara mengerenyitkan dahinya, "Lho, kakak asisten mana?" tanya Ara yang bingung, karena tak melihat Rangga.
"Oh, Rangga sudah tidur di kamar kakak kamu tadi. Sepertinya, dia kecapean," jawab Ilham, Ara hanya ber-oh-ria.
"Oh ... jadi kakak asisten itu namanya Rangga?" tanya Ara, Ilham mengangguk kecil.
"Terus, kak Ilham gak capek?" tanya Ara lagi.
Ilham tersenyum hangat pada Ara membuat Ara menyadari, bahwa senyum Ilham cukup manis baginya.
"Saya belum lelah," jawabnya dengan singkat.
__ADS_1
"Oke," gumam Ara.
Ilham memandangnya, "Kapan kamu tiba di Indonesia?" tanya Ilham.
"Pagi tadi," jawab Ara, membuat Ilham mengangguk-angguk.
Ara tiba-tiba saja mengingat jas yang ia berikan pada Ilham, yang ia lihat Ilham memakainya tadi.
"Oh ya, jasnya bagus. Cocok dipakai sama Kak Ilham," ucap Ara, membuat wajah Ilham mendadak terasa panas seketika, karena merasa malu dengan ucapan Ara.
Ilham menyodorkan jas yang sedari tadi ia pegang, "Ini, saya kembalikan," gumam Ilham, membuat Ara mendelik kaget ke arahnya.
"Lho, kenapa Kak?" tanya Ara yang heran dengan perilaku Ilham terhadapnya.
Ilham hanya bisa menunduk, "Saya kira, itu tertukar," jawab Ilham, membuat Ara mendelik dan tak sengaja melihat sebuah kartu ucapan yang ia berikan padanya waktu itu.
Ara mengambilnya dengan cepat, dan segera membaca isi dari kartu ucapan yang Ilham berikan.
"Hah!" pekik Ara, karena ia terkejut melihat kartu ucapan yang seharusnya diberikan kepada Morgan, dan tiba-tiba ada pada Ilham saat ini.
Melihat sekilas ekspresi Ara, Ilham pun semakin menunduk malu karenanya.
Ara memandang Ilham, "Harusnya ini untuk Morgan. Tapi, jas ini memang bener buat Kak Ilham, kok," ucap Ara, berusaha menetralkan suasana.
Ilham menghela napasnya, 'Ya, saya sudah mengira akan begitu,' batin Ilham sendu.
"Jadi, jas ini untuk saya?" tanya Ilham membuat Ara mengangguk.
'Paling tidak, hadiahnya tidak tertukar,' batin Ilham yang mulai bisa menerima keadaan.
Di sana, Morgan melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Sampai akhirnya, mereka pun sampai di rumah Ara.
Morgan dan Dicky keluar dari mobil, dan segera membuka pagar rumah Ara.
"Udah dikunci!" ucap Dicky yang berusaha membuka pagar rumah Ara. Namun ternyata pagarnya sudah dikunci oleh Ara.
Langsung saja Morgan mengeluarkan kunci cadangan yang ia miliki. Morgan diam-diam membuat kunci cadangan ini, saat teman-temannya Ara menginap di rumahnya waktu itu, Morgan juga masuk ke rumah Ara menggunakan kunci ini.
__ADS_1
"Ckleeekkk ...."