
Saat ini, adalah hari yang cerah dan dingin, akibat deras hujan yang terus mengguyur setiap penjuru pantai, di bulan Desember. Jarum pendek pada jam yang menunjuk angka sepuluh, dan jarum panjang yang menunjuk pada angka dua belas, membuat mata Arash terpaksa harus terbuka, akibat sinar mentari yang memaksa menembus sela tirai kamar hotel.
Matanya mendelik, karena melihat dua gadis yang sangat penting baginya, yang sejak semalam tertidur pulas di dalam dekapannya.
Tidak ada alasan untuk meninggalkan ranjang ini, di musim yang begitu dingin. Ini adalah waktu terbaik untuk menatap puas ke arah mereka, yang sedang tertidur pulas di bahunya.
‘Apa masih boleh seperti ini?’ batin Arash, yang memandang sendu ke arah wanita yang sangat ia cintai pada masa itu.
Batin sebelahnya terus melawan gejolak perasaan yang salah, ‘tidak boleh. Biar bagaimanapun juga, dia ... yang sudah membuat keluarga ini hancur berantakan. Ayah dan ibu yang pergi dengan sia-sia, hanya karena memperebutkan posisi, siapa yang paling benar, di antara yang benar.’
Sangat sulit bagi Arash untuk menentukan pilihan hatinya, mengingat kejadian ayah dan ibunya yang sangat tragis, membuatnya hanya berputar pada satu circle percintaan saja.
Pandangannya terhadap wanita setelah membenci sosok Bunga, selalu tentang kepuasan dan birahi.
Bagaimana tidak?
Ayahnya bersikap acuh, hanya karena permasalahan birahi yang tak tersalurkan.
Bahkan gadis yang ia sukai, melakukan hal yang sangat menyimpang, dengan ayah kandungnya sendiri, membuat Arash semakin memandang rendah kedudukan wanita dalam hidupnya.
Arash memandangnya dengan tatapan dingin, ‘kalau bukan karena Ara dan Ares adalah perempuan, saya mungkin sudah menyamaratakan semua wanita yang saya lihat,’ batin Arash, berusaha untuk menghibur dirinya, yang sedikit banyaknya telah kalut dalam hikayat semu sepanjang hayatnya.
Semoga Tuhan membalas semua yang terjadi
Kepadaku suatu saat nanti
Hingga kau sadari sesungguhnya yang kau punya
Hanya aku tempatmu kembali sebagai cintamu
Begitulah dering handphone Arash, membuatnya sedikit kalut dalam keadaan dan perasaannya kala itu.
Ia bergerak, berusaha meraih handphone-nya yang berada cukup jauh di atas meja, samping ranjang.
Dengan perasaan yang masih meraba, Arash mencoba memandang ke arah handphone yang tidak berhenti berdering.
__ADS_1
Walau sulit, ia tetap berusaha untuk menekan tombol hijau yang ada di sebelah kanan bagian bawah layar handphone-nya.
Dan telepon pun terhubung ....
“Halo?” sapa Arash.
“Selamat pagi, Pak Arash. Apa saya mengganggu waktunya?” tanya seseorang yang tak lain adalah Ilham, Sang Kaki Tangan dari Arash, yang sudah beberapa kali menolong Arash jika ia membutuhkan pertolongan.
“Santai saja bahasanya, kita lagi enggak di kantor, kok,” lirih Arash.
“Baik, Rash.”
“Gimana keadaan Jessline?” tanya Arash.
Percakapan mereka di telepon, membuat Bunga terbangun dari tidurnya.
Arash yang merasa terusik dengan Bunga yang sudah sadarkan diri, segera bangkit dan meninggalkan dirinya beserta Ares di sana.
Bunga memandang ke arah perginya Arash, membuat dirinya melontarkan senyuman tipis ke arah Arash.
Bunga pun menoleh ke arah Ares yang masih tertidur pulas di sebelahnya.
“Gimana tadi?” tanya Arash, kembali meminta pengulangan pada Ilham.
“Saya sudah mengantarkan Jessline, ke alamat yang kamu berikan waktu itu.
“Syukurlah,” lirih Arash yang terdengar lega dengan yang Ilham ucapkan.
“Tapi badan saya jadi remuk seperti ini, karena semalam kurang tidur. Jadi, saya terpaksa cuti bekerja hari ini, dan semua laporan mungkin akan saya kerjakan secepatnya,” ucap Ilham dengan berterus-terang pada Arash.
“No problem.”
“Tapi ... semalam tidak semudah yang saya duga,” ucap Ilham, membuat Arash mengerenyitkan dahinya.
“Memangnya semalam, apa yang terjadi?”
__ADS_1
Ilham menghela napas, “saya gak sengaja melihat kakak Jess, yang hampir saya dimanfaatkan dengan wanita yang sepertinya tidak bertanggung jawab.”
Ucapan Ilham sontak membuat Arash mendelik kaget.
“Morgan?” lirih Arash.
“Ya, Morgan. Karena keadaannya yang mabuk, wanita asing itu sepertinya ingin menjebaknya, dengan cara membawanya ke sebuah kamar hotel.”
“Wanita mana yang kamu maksud?” tanya Arash yang masih penasaran dengan yang Ilham maksudkan.
“Saya tidak mengenalinya,” jawab Ilham.
Arash mengerenyitkan dahinya, ‘sepertinya, ada yang mau main-main dengan Ara,’ batin Arash yang merasa kasihan dengan nasib adiknya itu.
“Lantas, gimana keadaan Ara?” tanya Arash.
“Ara ... keadaannya baik. Tapi malam saat saya ingin berkunjung ke rumah, gak tahu kenapa, Ara terlihat seperti orang yang khawatir, dan berjalan tak tentu arah,” jawab Ilham, membuat Arash mendelik.
“Hah? Terus, gimana keadaan dia sekarang?” tanya Arash terdengar khawatir sekali dengan keadaan adiknya itu.
“Aman,” jawab Ilham membuat Arash menghela napasnya, “saya mengikuti Ara dari belakang. Dan gak segaja Ara digodain sama banyak preman. Saat saya ingin menolong, ada seorang laki-laki yang sudah menolong Ara lebih dulu. Ara pun pergi, dan kebetulan bertemu dengan Morgan setelah kejadian itu. Jadi, saya hanya bisa memantaunya dari jauh saja,” sambung Ilham menjelaskan pada Arash.
“Syukurlah. Yang penting, gak ada sesuatu yang terjadi sama Ara, Jess dan Morgan,” lirih Arash.
Bunga tiba-tiba saja membuka pintu kamar Arash, hendak menuju ke arah kamarnya yang berada di sebelah ruangan ini. Tapi, langkahnya terhenti, karena mendengar percakapan Arash bersama dengan orang yang ia tidak ketahui.
Ilham tersenyum, “lain kali, jangan ninggalin sesuatu yang berharga, demi sesuatu yang tidak penting,” ucap Ilham membuat Bunga mendelik kaget, mendengar ucapan Ilham yang seperti itu.
Bunga pun menunduk sendu, ‘apa aku ini gak penting bagi Arash? Apa Ares juga gak penting?’ batin Bunga yang sendu mendengarnya, tapi ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
“Gak, kamu salah, Ham. Saat ini, saya juga sedang bersama orang yang sangat penting untuk saya, yang hanya bisa saya temui setiap sebulan sekali, bahkan lebih. Saya cuma ingin memberikan sedikit waktu saya yang berharga, untuk mereka,” tepis Arash, membuat Bunga mendapatkan kembali sinar di matanya.
Wajahnya bersemu merah, Bunga sudah mendengar langsung perkataan Arash dari mulutnya, membuatnya sangat senang dan bergairah kembali.
“Orang yang paling penting ya? Lebih penting mana, antara Arasha dan dia?” tanya Ilham.
__ADS_1
“Keduanya sangat penting, tapi ... dia sudah terlalu sering saya abaikan. Saya selalu mempunyai waktu luang untuk Ara, tapi tidak untuk dia,” jawab Arash, membuat Bunga berasumsi bahwa Arash memang benar-benar menyayangi Ares, sama seperti Arasha yang memang merupakan adik kandung Arash.
‘Terlihat jelas pada setiap perlakuan kamu, saat memperlakukan Ares. Betapa jahatnya diri ini, sudah menghianati pria setulus kamu,’ batin Bunga yang sendu, dan tak sadar mulai membuat genangan air lagi di pelupuk matanya.