Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Kepoanisme Arasha 2


__ADS_3

Morgan menatap Ara dengan sendu, “nanti pasti ada yang akan marah-marah gak jelas setelah tahu kebenarannya,” ucap Morgan asal, membuat Ara mendelik kesal.


“Ih!” ucap Ara geram, tapi Morgan hanya tertawa kecil.


“Ya terus apa?” tanya Ara yang efek keponiasme-nya meronta.


“Dia sangat jenius dalam hal pelajaran. Saya suka dengan wanita yang pandai. Fisiknya gak terlalu sempurna seperti kamu. Dia jauh dari kata sempurna. Tapi, banyak temen-temen saya yang ngejar-ngejar dia karena selain pintar, dia juga ternyata anak dari konglomerat,” jelas Morgan, membuat Ara terkejut dengan jawaban dari Morgan.


“Jadi, kamu suka sama dia karena dia anak konglomerat?” tanya Ara, membuat Morgan menggeleng kecil.


“Saya sih gak tertarik sama kekayaannya. Memang sempat beberapa kali saya menyukai wanita sebelum kenal dengan Putri. Tapi, saya gak berani ungkapin perasaan yang saya rasakan. Lagi pula, saya gak punya waktu untuk mikirin itu. Saya harus kejar sekolah dulu. Jadi, saya cuma bisa memendam semuanya sendiri,” jelasnya, membuat Ara merasa sangat khawatir dengan perasaan yang ia rasakan saat ini.


“Apa … kamu sedih karena belum bisa ngungkapi perasaan yang kamu pendam selama itu?” tanya Ara, Morgan hanya menggeleng kecil.


“Saya sudah terbiasa begitu,” jawab Morgan, membuat Ara semakin khawatir dengan perasaan Morgan.


Ternyata, sosok Putri yang dia cintai itu, tidak lebih baik dariku soal fisik. Aku salut dengan Morgan yang tidak hanya memandang wanita dari fisiknya. Aku senang karena Morgan bisa menjadi milikku sekarang. Aku tidak lagi merasa galau karena tak bisa menumpahkan perasaanku yang terpendam. Memang, awalnya aku sangat membenci Morgan. Tapi, perasaan benci itu sekarang berubah menjadi benar-benar cinta, pikir Ara, sembari tersenyum tipis pada Morgan.


Ara tersadar dari lamunannya, membuat Morgan memiringkan kepalanya karena bingung dengan reaksi Ara.


“Ya udah ... intinya, aku gak suka kalau kamu terus-menerus bicara soal Putri ataupun Gemi. Aku cuma mau kamu ngeliat aku! Aku yang sekarang akan nemenin kamu ke depannya. Jadi, aku mohon banget sama kamu, jangan pernah singgung lagi masalah Putri di hadapan aku, ya?” pinta Ara, membuat Morgan terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk sembari tersenyum padanya.


Ara membalas senyumannya itu, dan tak sadar langsung memeluknya dengan erat.


Seketika mereka larut dalam kebahagiaan yang baru saja menyelimuti mereka, setelah semua pengorbanan dan usaha yang sudah Morgan lakukan terhadap Ara. Pada akhirnya, Ara kini sudah masuk ke dalam pelukannya.


“Maaf, udah bikin kamu sedih. Tapi saya rasa, saya harus ngomong ini ke kamu,” lirih Morgan.


Ara mengangguk kecil, lalu melepaskan pelukannya itu, membuat hati dan perasaan Morgan yang selama ini ia pendam, menjadi lega seketika.

__ADS_1


Terlihat Arash yang baru saja datang dari arah pintu. Sepertinya, ia sedang dalam kondisi yang kacau.


Ara tak sengaja melirik ke arah Arash dengan wajahnya yang ditekuk seperti itu.


‘Kayaknya, ada yang kakak pikirin, deh,' batin Ara, yang penasaran dengan kondisi kakaknya saat ini.


“Kakak,” pekik Ara.


Arash menoleh, dengan memasang tampang kesal sembari membuka paksa dasi yang ia kenakan. Arash segera menghempaskan dirinya ke sofa di sebelah Ara.


Ara mengerenyitkan dahinya, “lho, kirain dari tadi udah mandi. Kenapa kok mukanya kayak kesel gitu?” tanya Ara.


Arash seketika menoleh, dan menatap Ara dengan tajam, membuat Ara merasa, ada hal yang tidak beres yang sudah terjadi.


Ara mengerenyitkan dahinya, “kenapa si?” tanya Ara dengan sinis, tapi Arash hanya diam menatap Ara dengan sinis.


“Abis ngapain kamu tadi di kampus, sampai diskors gitu?” tanya Arash sinis, membuat Ara menganga.


Ara masih terdiam, sembari memikirkan jawaban apa yang tepat untuk ia berikan kepada Arash.


“Jawab!” bentak Arash, membuat Ara tersentak kaget.


“Emm ... ta-tadi itu ... aku gak sengaja, Kak,” ucap Ara dengan sangat gugup, sembari berpikir keras, jawaban apa yang harus ia katakan pada kakaknya.


“Gak sengaja?” tanyanya sinis, membuat Ara menunduk takut.


“Mukulin anak orang, kamu bilang gak sengaja?” tanya Arash yang masih dengan nada sinis, Ara semakin takut dengannya.


“Jangan mentang-mentang kamu bisa ilmu bela diri, terus kamu seenaknya ngehajar anak orang gitu, Ra!” bentak Arash yang sudah kalut dengan emosi yang ia pendam.

__ADS_1


Amarah Arash sudah membeludak, sampai Ara sudah tidak bisa menahannya lagi.


Mendengar hal itu, Morgan bingung dengan yang Arash ucapkan. Ia masih tidak percaya dengan yang Arash katakan.


“Wait, Ara bisa bela diri?” tanya Morgan dengan nada yang tak percaya.


“Pencak silat, menghabiskan lima tahun untuk belajar bela diri. Juara 1, 2 dan 3 sudah diraih olehnya. Tapi itu semua harusnya di arena dong! Gak di real life begini!” ucap Arash menjelaskan kepada Morgan.


Ara hanya bisa menunduk ngeri, melihat wajah Arash yang sekarang mungkin sudah berubah seperti iblis.


Morgan menganga, “wow,” gumam Morgan tak percaya.


Ara melihat sekilas ekspresi Morgan yang menurutnya lucu itu.


Ara memang tidak diizinkan Arash, untuk belajar bela diri. Karena mungkin menurut Arash, wanita itu pantasnya dilindungi dan bukan melindungi. Dan lagi, wanita tidak boleh beraktivitas yang berat, demi menjaga kesehatan cikal bakal kandungannya setelah nanti menikah.


Ara sebetulnya sudah mengerti dengan resiko dan konsekuensi dari kegiatan yang ia ambil. Ara juga pernah berpikir, jika ia tidak bisa mempunyai keturunan, ia tidak akan mempermasalahkan tentang itu.


Arash mendelik, “kakak gak suka ya, kalau kamu seenaknya mukulin anak orang begitu. Kalau kamu masih begitu, kamu kakak larang buat latihan, selamanya!” ucap Arash dengan tegas.


Ara hanya menunduk, sembari berpikir keras tentang jawaban apa yang harus ia berikan. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dirinya mengasah ilmu bela diri yang dipelajari. Apakah Ara akan bisa menerima kenyataan, jika kakaknya melarangnya kali ini?


Aku lepas kendali saat Aca mengatakan hal demikian yang merusak harga diriku, pikir Ara, yang masih berusaha untuk membela dirinya, tapi ia sadar, hal itu pasti tidak akan baik ke depannya untuk dirinya.


“Maaf,” lirih Ara tanpa melihat ke arah Arash.


Arash yang sudah kalut dengan emosinya, tak menjawab sedikit pun permintaan maaf Ara, dan kemudian pergi meninggalkan Ara dan Morgan di sana.


Ara menoleh ke arah Morgan, yang juga sedang melihat ke arahnya.

__ADS_1


Morgan mengelus puncak kepala Ara, “jangan salah gunakan ilmu yang sudah kamu pelajari selama ini,” ucap Morgan.


Ara hanya menatapnya dengan sendu, kemudian menunduk dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


__ADS_2