Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Terjebak Cinta Sang CEO


__ADS_3

"Kalau tidak, kenapa?" potong Arash dari arah belakang mereka, yang tiba-tiba saja muncul.


Kedatangan Arash yang tiba-tiba, membuat Bunga dan Fla menjadi terkejut.


Arash berjalan menghampiri mereka, kemudian segera merengkuh pinggang Fla dengan sangat lembut, membuat Fla terdiam karena tindakan Arash yang sangat lembut baginya.


Sebaliknya, melihat Arash melakukan hal itu pada Fla, Bunga mendelik karena justru sikap Arash yang semakin bertambah mesra dengan Fla.


Arash menatap Bunga dengan tajam, "kamu gak berhak untuk mengancam Fla. Kamu juga gak berhak untuk nyuruh dia menjauh dari saya," ucap Arash, membuat tatapan kebencian dari Bunga semakin terlontar ke arah mereka.


Bunga mendelik, "saya tahu, kalian berdua gak benar-benar pacaran, kan?" bidik Bunga, yang sudah mulai tersulut emosinya.


Arash menatapnya dengan remeh, "kata siapa kita cuma pura-pura? Atas dasar apa kamu bicara seperti itu?" bantah Arash, membuat Bunga semakin mendelik kaget.


"Iya dong, kamu mana bisa melupakan saya secepat itu? Apalagi, kamu kan menjalin hubungan dengan Jessline, bukan?" ucap Bunga, membuat Fla mendelik karena khawatir dengan keadaan dirinya sendiri.


Secara tidak langsung, Fla menjebloskan dirinya sendiri ke dalam masalah yang sangat rumit.


Arash terdiam sejenak. Ia kembali menatap ke arah Bunga yang sedang tersulut emosi.


"Saya memang sempat menjalin hubungan dengan Jessline. Tapi, sejak beberapa bulan lalu, kami sudah gak ada hubungan apa pun lagi. Dan saya sekarang bertemu dengan Fla, yang sangat amat saya cintai," papar Arash, membuat suatu genangan air mata di pelupuk mata Fla.


Ia sangat tersentuh dengan ucapan Arash, membuat dirinya ingin sekali berteriak sekeras mungkin. Memang itu yang Fla harapkan, memang itu yang ingin Fla dengar dari mulut Arash, tetapi bukan dalam omong kosong seperti ini.


Mengetahui Fla yang sudah menangis, Arash pun menoleh ke arah Fla yang masih berada di dalam dekapannya.


"Ada apa? Jangan takut, ada saya di sini," gumam Arash yang tak dihiraukan oleh Fla.


Dari arah luar karena mendengar suatu keributan di dapur, Ilham pun melangkahkan kakinya ke arah dapur, untuk memastikan keadaan mereka.


Langkah Ilham terhenti, karena dirinya mendengar pembicaraan Arash dengan mereka, terlebih lagi Ilham juga tidak mau mengganggu waktu mereka untuk bernegosiasi. Ilham hanya menguntit dari belakang mereka, dan berjaga-jaga jika saja ada sesuatu yang tidak baik terjadi pada mereka.

__ADS_1


"Mana buktinya kalau kalian memang benar resmi menjalin hubungan? Biasanya, kamu akan selalu memberikan sesuatu kepada orang yang kamu sayang, atau bahkan mempertaruhkan nyawa kamu sendiri demi orang itu," tanya Bunga dengan nada menantang, membuat Arash semakin gemas terhadapnya.


"Saya memang belum pernah memberikan apa pun pada Fla. Tapi, kalung yang saya pakai ini," ucap Arash sembari memperlihatkan kalung yang ia pakai, "adalah pemberian dari Fla. Saya juga menyelamatkan dia beberapa hari lalu, saat kami terjebak di dalam lift," ucap Arash menjelaskan, kemudian membiarkan kalung itu terlihat olehnya.


Bunga tidak bisa menerima semua penjelasan yang Arash berikan. Tatapan kebencian itu terus terlontar dari wajah Bunga, membuat Fla membenamkan wajahnya di dada bidang Arash.


"Sudahlah Bunga, kamu itu tak lebih dari sekadar masa lalu. Jangan pernah meminta lebih, dari apa yang sudah saya berikan. Saat ini, saya sudah bahagia bersama Fla. Jangan kamu usik lagi kebahagiaan saya, jangan kamu bangkitkan lagi rasa cinta yang sudah 10 tahun ini saya kubur sendiri. Satu lagi ...," ucap Arash, yang berusaha menatap Bunga dengan sangat serius.


"Jangan pernah kamu sentuh Fla sedikit pun, atau saya dan Morgan yang akan membereskan kamu," gumam Arash dengan nada mengancam, membuat air Bunga tiba-tiba saja mengalir deras dari kedua pelupuknya.


Ilham menghela napasnya panjang, 'baguslah, kali ini dia sudah benar-benar bisa melupakan Bunga,' batin Ilham yang terus memantau Arash dari kejauhan.


Arash menoleh ke arah Fla, "sudah malam, saya antar kamu pulang, ya?" gumam Arash, membuat Fla mengangguk kecil.


Arash menggandeng tangan Fla dengan lembut, di hadapan Bunga, membuat Bunga lemas dan seketika tertunduk di atas lantai.


"Brukk ...."


Ilham yang mengetahui kedatangan Arash, segera kembali ke ruangan depan, dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa pun.


Ilham yang sudah menempati kembali tempat duduknya, berpura-pura menoleh dan tak mengerti dengan yang terjadi.


"Kok bikin minum lama banget?" tanya Ilham, membuat Arash menyeringai.


"Ares mana?" tanya Arash, yang bermaksud untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Memang dasar Ilham, ia sudah paham dengan yang Arash lakukan itu.


"Ares tadi ketiduran di sofa. Saya sudah gendong ke kamar Ara. Besok-besok, beresin kamar untuk Ares pakai. Dia gak mungkin selamanya tidur sama kamu," sindir Ilham, membuat Arash kembali menyeringai.


"Bantuin," lirih Arash, membuat Ilham tersenyum tipis padanya.

__ADS_1


Perhatian Ilham tertuju pada tangan Arash yang masih menggenggam tangan Fla, "kalian lagi gak nyeberang jalan, bukan?" sindir Ilham, membuat Arash tersadar dengan dirinya yang sedang memegang tangan Fla.


Dengan perasaan canggung, Arash pun segera melepaskan tangan Fla, membuat Ilham tersenyum ke arahnya.


Fla menafikan pandangannya, karena tidak munafik, ia juga sangat menyukai Arash yang sedari tadi memperlakukan dirinya sebagai kekasihnya.


"Apa sih," bantah Arash yang terlihat gugup, membuat Ilham menyeringainya.


"Saya mau antar Fla pulang dulu. Kamu mau menginap atau pulang?" tanya Arash pada Ilham.


"Saya pulang saja. Kasihan ayah di rumah," ucap Ilham, membuat Arash mengangguk-angguk kecil.


"Btw, kalungnya bagus," tegur Ilham sembari menunjuk ke arah kalung tersebut, membuat wajah Arash memerah seketika.


Fla yang melihatnya hanya tertawa kecil.


Arash memandang ke arah Ilham, "oke, saya duluan ya," pamit Arash.


Ilham mengangguk kecil, "hati-hati," lirih Ilham.


"Dah Kak Ilham," ucap Fla yang melambaikan tangannya ke arah Ilham, Ilham hanya mengangguk.


-FLASHBACK OFF-


Suasana di mobil saat ini terasa sangat canggung. Mereka hanya diam, tanpa berbicara sepatah kata pun.


Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah


Kau membuat diriku, akan slalu memujamu


Terdengar lagu berjudul Sempurna, karya dari musisi Andra and the backbone, dari radio mobil Arash, membuat suasana bertambah rancu saat ini.

__ADS_1


Arash menutupi separuh wajahnya dengan tangan kanannya, karena dirinya yang sudah merasa malu ketika tak sengaja mendengar lagu itu dari radio mobilnya.


Sementara di sana, tubuh Fla semakin terasa melebur dalam kesunyian, ketika ia juga menyadari tentang lagu yang diputar pada mobil ini.


__ADS_2