Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Mulut Jahil Netizen


__ADS_3

Ilham pergi menuju kantornya. Seperti biasa, hal yang ia lakukan adalah menuju ke ruangan Arash. Hari ini, Ilham sangat berbunga-bunga karena Ara yang sangat membuatnya jatuh lebih dalam lagi padanya.


"Tok ... tok ...."


Ilham mengetuk pintu ruangan Arash.


"Masuk."


Terdengar suara Arash dari dalam yang cukup keras, sehingga membuat Ilham masuk ke dalam ruangan.


"Brukk ...."


Ilham menutup kembali pintu ruangan Arash, "Pagi, Pak!" sapa Ilham dengan sangat bersemangat, membuat Arash dan Rangga yang sudah berada di sana menjadi heran dibuatnya.


"Tumben terlambat? Senang banget pula kelihatannya ...," ledek Arash, membuat Ilham menyeringai ke arahnya.


Ilham menghempaskan diri di tempat duduk yang tersedia di hadapan Arash. Ilham memandang kakak iparnya, dengan pandangan yang sangat sumringah.


"Ya ... biasalah. Kayak gak tahu orang yang udah berumah tangga aja," jawab Ilham, membuat Arash dan Rangga menjadi sedikit kesal dengannya.


Pasalnya, mereka belum menikah jadi mereka belum bisa melampiaskan seluruh perasaan pada gadis yang mereka cintai.


Arash mendelik, "Hah? Kalian habis ...," ucap Arash dengan tangan yang ia satukan mengisyaratkan tentang hubungan suami istri.


Wajah Ilham memerah, karena merasa malu. Letak permasalahannya adalah hubungan mereka yang memang belum terlalu jauh sampai ke sana, membuat Ilham agak malu mendengarnya.


"Gak, kita nggak melakukan itu kok tadi!" bantah Ilham dengan nada yang setengah tinggi.


Arash kemudian saling melempar pandangan ke arah Rangga, dan kembali memandang ke arah Ilham.


"Terus ngapain pagi-pagi terlambat? Terus sumringah banget lagi mukanya," tanya Arash yang semakin bingung dengan maksud Ilham.


"Tadi itu saya habis antar Ara ke kampus, makanya saya terlambat," jawab Ilham membuat Arash jadi teringat dengan kondisi adiknya.


"Hey, gimana kondisi Ara?" tanya Arash yang mendadak menjadi sendu.


Sejak saat Ara mengalami keguguran, Arash sama sekali belum menjenguknya, karena Ilham yang melarangnya agar Arash tidak menjenguknya terlebih dahulu, akibat mental Ara yang masih down.


Ilham tersenyum, "Ara sudah lebih baik dari sebelumnya. Bahkan, dia mau masuk kampus lagi. Tidak ada paksaan atau sugesti, dia yang menginginkan itu," jawab Ilham dengan nada yang masih sangat bahagia.

__ADS_1


Mendengar hal itu Arash langsung menghela napasnya panjang, "Syukurlah! Gak nyangka, Ara akan melupakan Morgan secepat itu," gumam Arash, yang terdengar masih sangat ragu tentang perasaan Ara pada Ilham.


"Tenang saja, adik iparmu ini lebih tampan dari si dosen itu. Mana mungkin Ara tidak bisa berpaling dari dia?" ucap Ilham dengan sangat percaya diri, membuat Arash terkekeh mendengarnya.


"Iya deh, babang tamvan," ledek Arash yang masih terkekeh dengan perkataan Ilham.


Arash dan Rangga pun tertawa lepas, sementara Ilham hanya tersenyum ke arah mereka.


'Ara belum melupakan Morgan, tapi dia sudah bisa menerima saya,' batin Ilham yang menyelipkan kesedihan di setiap senyuman yang ia lontarkan.


...***...


Jam istirahat pun tiba. Mereka sedang mengerubungi Ara, karena saat pertama kali mereka masuk ke kampus, mereka sama sekali belum sempat berbincang dengan Ara mengenai kehidupan pasca pernikahan.


Ray, Rafa dan Fla pun duduk di hadapan Ara, membuat Ara menjadi bingung dibuatnya.


"Ada apa?" tanya Ara yang kebingungan dengan tatapan mereka.


Fla mendekat ke arah mereka, "Ara ... kita mau bertanya beberapa hal," ujar Fla yang lebih tepat disebut dengan interogasi.


Ray juga mendekatkan wajah ke arah Ara, "Kenapa menghilang gitu aja setelah menikah?" tanya Ray yang membuat Ara tercengang mendengarnya.


Permasalahannya, handphone hadiah ulang tahun yang diberikan Ilham, sama sekali belum Ara pakai.


Rafa mendekat ke arah Ara juga, "Kenapa gak kasih kita kabar?" tanya Rafa yang juga sangat kesal dengan sahabatnya itu.


Ara semakin tak habis pikir dengan kelakuan teman-temannya itu.


"Emm ... handphone gue rusak," jawab Ara, membuat mereka menyipitkan matanya.


"Apa ... kak Ilham gak ngasih loe HP baru?" tanya Fla, membuat Ara menyeringai ke arahnya.


Awalnya Ara berpikir sudah tidak memerlukan handphone lagi, karena ia sudah menikah dengan Ilham, dan tidak perlu lagi menggunakan benda itu. Namun, ternyata Ara lupa dengan teman-temannya yang menginginkan kabar darinya.


"Dia kasih HP ke gue," jawab Ara dengan sangat ragu, membuat mereka semakin mendelik tajam hingga mengeluarkan cahaya dan seketika matanya menjadi sangat hitam.


"Kenapa gak kasih kabar?" tanya mereka serempak dengan nada yang seram, membuat Ara bergidik ngeri melihatnya.


"Ma-maaf, nanti gue langsung pake kok HP-nya. Gue belum install aplikasi di HP yang dikasih kak Ilham," jawab Ara dengan cukup takut memandang.

__ADS_1


Fla dan yang lainnya pun tersenyum mendengarnya.


"Gimana, udah isi belum?" tanya Fla yang bertanya demikian, membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.


"Iya, gimana waktu malam pertama sama kak Ilham? Rasanya gimana?" tanya Rafa yang menyambar pembicaraan.


Ara memandang mereka dengan sangat heran, 'Apa mereka semua gak tahu kalau aku udah keguguran?' batin Ara yang kebingungan dengan reaksi mereka yang sepertinya aneh.


"La-lancar," jawab Ara yang menjawab pertanyaan Rafa.


"Wah! Kapan nih punya baby? Gue gak sabar mau punya keponakan!" ujar Ray, membuat Ara menelan salivanya dengan kasar.


'Apa mereka beneran gak tahu soal ini? Apa pura-pura gak tahu?' batin Ara kaget mendengarnya.


"As soon as possible," jawab Ara, membuat mereka semua tersenyum pada Ara.


...***...


Ara dan Ilham sudah tiba di kediaman mereka. Di sepanjang jalan, mereka terlihat sangat kaku, karena teman-teman Ara yang selalu berbicara tentang first night mereka, dan juga Arash yang selalu memojokkannya tentang memiliki baby lagi.


Mereka benar-benar tidak berbicara sedikit pun, hanya berbicara formal dan seperlunya saja.


Ilham menoleh dengan ragu ke arah Ara yang masih berada di samping kemudi. Terlihat wajah yang sangat tegang, membuat Ilham merasa lebih tegang lagi dari sebelumnya.


"Kita sudah sampai," ujar Ilham, membuat Ara menoleh dengan ragu.


"I-iya aku tahu," ujar Ara dengan bingung, yang langsung masuk keluar dari mobilnya dan segera masuk ke dalam rumahnya.


Ilham memandangnya dengan sendu, "Kenapa 40 hari lama banget, ya? Baru jalan 3 hari aja, rasanya sudah mau berbuat lebih dengan istri sendiri," gumam Ilham yang terasa sangat kacau, karena sudah tidak bisa menahan gejolak asmaranya terhadap sang istri.


Ilham mengusap dengan kasar wajahnya. Ia mengeluarkan kalung milik Ara, membuatnya menjadi tersenyum seketika.


"Akhirnya, saya bisa sedikit lebih maju daripada dulu," gumam Ilham sembari tetap melihat ke arah kalung tersebut.


"Nyutt ...."


Ilham tiba-tiba saja merasa sakit yang teramat pedih di jantungnya, membuatnya hampir saja kehilangan napas. Ia berusaha menghela napasnya, dan menyeimbangkan dirinya seperti sedia kala.


...***...

__ADS_1


__ADS_2