Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Terpukul


__ADS_3

Mainan yang sudah Arash siapkan untuk anak mereka, tiba-tiba saja jatuh dari tangan Arash. Arash sangat kaget mendengar Ilham mengatakan itu.


Baru saja Ilham mengatakan kalau Ara sedang mengandung, tetapi sekarang ia mengatakan kalau Ara sudah keguguran.


"Apa ...," gumam Arash yang tak percaya dengan ucapan Ilham.


Di sana, Ilham hanya bisa menunduk sendu, khawatir dengan keadaan mental Arash yang baru saja mengetahui tentang Ara yang baru mengandung, lalu tiba-tiba saja dikejutkan dengan berita duka semacam ini.


Siapa pun akan merasa sangat terpukul.


"Saya di rumah sakit mentari. Sebentar lagi saya pulang ke rumah. Kalau kamu berkenan, silakan datang--"


"Saya ke rumah kamu, sekarang juga!" potong Arash, yang langsung memutuskan telepon mereka, membuat Ilham heran dengan sikap Arash yang masih saja tidak berubah.


Ilham mencoba menghubungi Arash kembali.


"Dringg ...."


Arash mendapati handphone-nya yang berdering, membuatnya khawatir dengan yang terjadi. Arash pun mengangkatnya.


"Halo, ada apa lagi, Ham?" tanya Arash, yang sudah terlalu panik.


"Saya belum selesai bicara, kenapa kamu akhiri? Kalau berkenan, besok saja jenguknya. Saya khawatir Ara belum bisa menerima kenyataan. Saya harus buat dia tenang dulu," gumam Ilham berterus-terang, karena khawatir kalau Arash memutuskan teleponnya kembali.


Arash menunduk sendu, tetapi hatinya menolak permintaan Ilham. Ia pun terdiam sejenak, memikirkan konsekuensinya.


Tak lama, Arash pun menghela napasnya panjang, "Ya sudah, tolong jaga Ara ya, Ham. Saya percaya sama kamu," gumam Arash yang harus pintar-pintar menahan diri, karena biar bagaimana pun juga, Ara sudah menikah dengan Ilham, dan semua tanggung jawab sudah beralih ke pundak Ilham.


Ilham menghela napas panjang. Sedikit banyaknya ia sangat sedih, dan kehilangan sekali. Biar bagaimana pun juga, itu adalah anak Ara. Ilham sama sekali tidak memandang kalau itu adalah anak dari Morgan.


Ilham mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam ruangan Ara. Ia paham, Ara pasti sangat membutuhkan sosok dirinya saat ini. Ilham juga tahu, pasti Ara akan mengamuk seperti saat itu lagi.


"Cklekk ...."


Ilham membuka pintu ruangan dengan sangat berhati-hati. Di sana sudah ada Ara, yang masih belum sadarkan diri. Wajahnya pucat pasi, membuat Ilham menjadi sendu menatap ke arahnya.


Ilham berjalan menuju ke hadapan Ara. Ia pun duduk di kursi yang tersedia di hadapan Ara. Tangannya menggenggam lembut tangan Ara yang terdapat infus dan selang. Rasa dingin tangan Ara, membuat Ilham merasa ingin sekali memberikan kehangatan untuknya. Apalagi, akhir-akhir ini, Ara memang sering mengeluh kedinginan, tetapi di saat yang bersamaan juga sering kali mengeluh kepanasan.

__ADS_1


Memang ibu hamil tidak bisa ditebak.


"Ra ... saya ada di sisi kamu, kok," gumam Ilham, yang senantiasa menatap wajah Ara, tanpa sekalipun berpaling darinya.


...***...


Ara membuka matanya, yang ia lihat di hadapannya adalah Ilham, yang sedang menggenggam tangannya dengan erat. Ara memandang sejenak sekelilingnya, membuatnya sadar, kalau dirinya sedang berada di kamar rumah mereka.


Ara melihat Ilham yang tertidur menelungkup, di pinggir ranjang. Ia merasa kepalanya sangat sakit, sehingga ia tidak memedulikan Ilham yang sedang menggenggam tangannya.


Ara berusaha bangkit, dan berusaha untuk menyandarkan dirinya di dipan ranjang.


Ara menoleh ke arah Ilham, "Kak ...," pekik Ara, membuat Ilham tersadar dari tidurnya.


Ilham melihat Ara yang sudah bangun, membuatnya menjadi sangat senang melihatnya.


"Syukurlah kamu sudah siuman," gumam Ilham, yang senang sekali melihat Ara yang sudah siuman.


Ilham pun tersadar, kalau tangannya masih menggenggam tangan Ara, membuatnya seketika melepaskan tangannya itu, karena khawatir jika Ara tak suka dengan apa yang ia lakukan padanya.


"Aku kenapa, Kak?" tanya Ara yang seketika memangkas ucapan Ilham.


Ilham menghela napas dalam, membuat Ara merasa agak takut melihat ekspresinya.


"Jangan kaget, dan terima semuanya ya," gumam Ilham, membuat napas Ara menjadi kembang-kempis.


Ara menatapnya dengan tatapan khawatir, "Memangnya, ada apa, Kak?" tanya Ara yang sangat takut mendengarnya.


"Ara, kamu ... sudah keguguran."


Duarrrrrrrrrrr!


Hati Ara sangat kacau mendengar pernyataan itu, membuat dirinya mendelik tak percaya. Ara sampai tercengang dengan yang Ilham katakan padanya. Ara mendelik, tak bisa berkata apa-apa.


"Tess ...."


Air matanya berjatuhan, membuat Ara seketika merasakan sesak yang sangat mendalam. Pengalaman pertama mengandung, tetapi ia juga mengalami keguguran, membuat hatinya tersayat dengan sayatan yang hampir saja membelah jantungnya.

__ADS_1


Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sudah hilang Morgan, hilang juga buah cinta mereka untuk selamanya.


Betapa kacaunya Ara saat ini. Bisa dibayangkan dengan kejadian yang selalu menimpa Ara. Miris bila diceritakan.


Ara meremas rambutnya, hingga beberapa helai rambutnya menjadi rontok. Ia sudah kehilangan kendali atas dirinya, membuat Ilham memandangnya dengan sendu.


"Ha!! Kenapa semuanya selalu aja begini?! Kapan gue bisa bahagia, hah?" teriak Ara dengan histeris, sembari tetap menarik rambutnya hingga rontok dari akarnya.


Ilham sangat khawatir dengan kondisi mental Ara, tetapi Ilham sangat bingung, tak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Morgan pergi, anak gue juga pergi, semuanya pergi ninggalin gue!!" teriak Ara, membuat Ilham menjadi semakin tidak tega dengan Ara.


"Gue gak bakal bisa bahagia! Apa gue dikutuk, hah?" teriak Ara lagi, sembari sesekali memukul kepalanya dengan kepalan tangannya, membuat Ilham menarik tangannya dengan kasar.


Menyadari Ilham yang ikut campur dengan dirinya, Ara merasa sangat geram dibuatnya.


"Ra, jangan sakiti diri kamu--"


"Lepasin!!" teriak Ara yang sudah sangat geram dengan sikap Ilham yang selalu ikut campur dengan dirinya.


"Jangan begini--"


"Loe gak usah ikut campur!" pangkas Ara, membuat Ilham terdiam menatap Ara dengan sangat tidak percaya dengan apa yang Ara lakukan padanya.


Ilham menatapnya tajam, "Ra! Berhenti sakiti diri kamu! Jangan begini!" bentak Ilham dengan cukup keras, membuat Ara terdiam sejenak memandangi Ilham.


Ara sangat kaget, karena ini adalah kali pertama Ilham membentak dirinya. Ara memandang Ilham dengan tatapan yang penuh kebencian.


Ara menunjuk dengan lantang ke arah Ilham, "Pergi," gumam Ara dengan lirih lalu menunjuk ke arah pintu keluar.


Ilham masih memandang Ara dengan sangat lantang. Kali ini, Ilham bertekad tidak akan kalah dengan Ara. Ia harus bisa mengendalikan sikap Ara yang sangat kasar, dan dia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri dari emosi. Pasalnya, Ilham memang sudah tersulut emosi sejak tadi, membuatnya kelepasan membentak Ara sampai seperti itu.


"Pergi!!"


"Ra!!" bentak Ilham balik, membuat Ara yang sudah kacau itu, memandang sendu ke arah Ilham.


Ilham mencengkeram bahu Ara, "Masih ada saya di sini, gak akan pernah pergi ninggalin kamu!" gumam Ilham, membuat pupil mata Ara melebar mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2