
“Tebar pesona terus ...,” ledeknya pada Morgan.
Ara pun tersenyum karena ejekan Kaprodi itu.
Berbeda dengan Morgan, ia hanya memandang Kaprodi dengan datar.
Kaprodi yang mengetahui mood Morgan itu, menjadi gelagapan karena Morgan yang kelihatannya sedang tidak ingin bercanda.
Bagaimana mungkin di saat seperti ini, Kaprodi bisa melontarkan candaannya? Jika aku jadi Morgan, aku pun akan melakukan hal yang sama. Bahkan mungkin, aku akan menebas kepalanya yang hampir botak itu, pikir Ara yang sudah gemas dengan sikap Kaprodi itu.
“Sampai mana kita tadi?” tanya Morgan dengan datar, membuat Kaprodi menelan salivanya.
Kaprodi membetulkan dasinya yang terlihat sudah rapi itu. Ara hanya diam sembari menunduk dan menahan tawanya kembali.
Entah kenapa, Ara selalu tertawa ketika melihat wajah Kaprodi.
“One hit,” lirih Ara.
Kaprodi melihat ke arah Ara dengan sinis. Ia terlihat ingin marah, tapi aura Morgan membuatnya tak melakukan itu.
Ia memberikan secarik kertas dan sebuah pulpen ke arah Ara.
Ara melihat pulpen milik Kaprodi, yang ia tahu itu adalah pulpen bermerk dengan edisi yang terbatas, yang hanya dipakai untuk menulis tanda tangan saja.
Baru kali ini Ara terpukau, hanya karena melihat sebuah pulpen.
“Jangan sampai rusak, pegangnya pelan-pelan aja,” ucap Kaprodi yang merasa khawatir dengan pulpennya.
Ara masih saja memperhatikan pulpen itu, “wah … bukannya itu pulpen dari Jepang yang terkenal dan langka di Indonesia itu ya, Pak?” tanya Ara dengan sangat bersemangat.
Terlihat tatapan angkuh dari sang Kaprodi.
Ara melihat sekeliling sisi dari pulpen legendaris itu.
Apa yang membuat pulpen ini mahal harganya, selain memang biaya import dari negeri asalnya? Pikir Ara, yang masih melihat-lihat sekeliling pulpen itu.
“Iya dong ... saya beli itu waktu saya pergi ke Jepang. Harganya berapa? 10.000 yen untuk satu pulpen,” ucap Kaprodi dengan sangat sombongnya.
Ara sangat terpukau dengan pernyataannya itu. Harga sebuah pulpen, setara dengan jajan jatah setengah bulan Ara.
__ADS_1
Morgan yang melihat ekspresi Ara yang sudah di luar batas, menjadi sangat kesal dibuatnya.
Morgan menatap Ara dengan dingin, “gak usah nge-fly. Saya sudah lama menetap di Jepang untuk melanjutkan S-2 saya,” ucap Morgan yang menyadarkan Ara tentang masa lalu yang pernah Morgan ceritakan.
“Oh, sampe lupa,” lirih Ara, yang segera menoleh ke arah Morgan, “terus kamu beli pulpen ini juga, pas tinggal di Jepang waktu itu?” tanya Ara yang sedikit penasaran dengan cerita Morgan.
“Tentu. Pulpen itu sangat popular di Jepang. Saya beli untuk keperluan menulis sehari-hari,” ucap Morgan membuat Kaprodi menganga karena pulpen semewah ini dijadikan pulpen untuk menulis sehari-hari.
“Eh, mana bisa begitu?” tanya Kaprodi terkejut dengan pernyataan Morgan.
Morgan melirik dingin ke arah Kaprodi, “saya biasa stok tiga lusin pulpen ini per bulan. Karena biasanya kawan saya meminjam pulpen saya dan tidak mengembalikannya lagi,” ucap Morgan, semakin membuat Kaprodi tercengang.
“Gak dikembalikan?” tanya Kaprodi dengan nada yang setengah tidak percaya.
“Ya. Jadi, pulpen ini adalah barang lumrah,” jawab Morgan yang langsung menoleh ke arah Arasha, “kamu gak perlu terlalu terkesima dengan ini,” bantah Morgan yang membuat Ara dan Kaprodi semakin tercengang.
Apa-apaan pulpen bagus dan langka seperti ini di buat untuk menulis sehari-hari? Pikir Ara yang masih tidak percaya dengan perkataan Morgan.
“Kenapa dibilang langka? Karena mungkin saat itu banyak perusahaan baru yang memproduksi pulpen dengan kualitas yang sama, tetapi dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Sehingga jenis pulpen ini agak sulit dicari. Namun, itu sama sekali tidak berpengaruh dengan saya. Karena banyak teman saya yang bekerja di pabrik pulpen itu. Saya bisa dengan mudahnya membeli melalui mereka. Tentunya, dengan harga yang lebih murah,” tambah Morgan.
Kaprodi sudah tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia hanya diam mengaga, sembari memelototi Morgan yang ternyata jauh lebih sombong di atasnya.
“Kamu mau? Nanti saya bawakan. Masih ada beberapa kardus besar pulpen yang seperti itu. Mungkin, gak akan pernah habis sampai nanti habis usia saya,” ucap Morgan membuat Ara sangat terpukau.
Dia mempunyai barang bagus yang banyak sekali jumlahnya. Aku bisa dengan mudah meminta kapan pun padanya, pikir Ara.
Ara tiba-tiba mengubah mood karena baru sadar dengan ucapan Morgan yang asal tadi.
“Jangan ngomong gitu lagi,” rengek Ara, membuat Morgan tersadar dengan ucapannya.
“Maaf,” lirih Morgan yang berusaha menenangkan Ara.
Ara agak sensitif dengan kata ‘mati’. Wajar saja dengan segala masa lalu Ara yang suram, membuatnya masih mengalami traumatik jika mendengar kata itu.
Kaprodi memandang mereka dengan tatapan aneh.
“Kalian kenapa sih?” tanya Kaprodi yang bingung dengan respon Ara dan Morgan, yang sepertinya sangat dekat, dan memiliki hubungan spesial.
Morgan memandang ke arahnya dengan dingin, tak menggubris pertanyaan Kaprodi, membuatnya terus-menerus membenarkan dasi yang sudah benar sejak tadi.
__ADS_1
Ara menatap Kaprodi dengan sinis, dan merebut pulpen itu dari tangannya, membuat Kaprodi terkejut setengah mati.
Ara menandatangani surat perjanjian itu, tanpa basa-basi, kemudian mengembalikan pulpen itu padanya.
“Nih pak, pulpen limited edition yang bapak ceritain, saya kembalikan,” ucap Ara dengan nada yang tidak peduli, membuat Kaprodi tidak bisa menerima kekalahannya.
“Gak mungkin ... punya kamu gak ada sertifikatnya kali,” ucap Kaprodi yang masih tidak mau kalah dengan keadaan.
Morgan menatapnya tajam.
“Apa mau saya tunjukkan semua sertifikat yang sudah menggunung itu?” Morgan mencelanya.
Ara semakin terkejut, hanya karena masalah pulpen saja, mereka jadi saling beradu kekayaan seperti ini.
Lagi pula, apa benar hanya sebuah pulpen biasa tapi memiliki sertifikat? Yang benar saja? Pikir Ara.
Kaprodi pun hanya cuap-cuap tanpa mengeluarkan suara. Ia nampaknya sudah tidak bisa berkata apa pun lagi.
Ia menatap Morgan dengan sinis, tapi Morgan hanya membalasnya dengan tatapan datar yang dingin.
“Sudah-sudah. Cepat, tanda tangan saja!” suruhnya.
Ara hanya tersenyum menahan tawanya, “saya sudah tanda tangan dari zaman bahela, Pak,” ucap Ara membuat Kaprodi semakin tidak bisa berkata.
Ia mengeluarkan secarik kertas kembali, dan memberikannya pada Ara.
“Ayo, tanda tangan!” perintah Kaprodi yang tidak masuk akal, membuat Ara menatapnya dengan tajam.
‘Masa harus dua kali tanda tangan, sih?’ batin Ara kesal.
Ara yang sudah terlanjur kesal, kemudian menandatangani surat perjanjian di atas materai 3000. Setelahnya, Ara memberikan surat itu kepada Kaprodi.
“Jangan diulangi lagi. Terhitung Senin ini kamu diskors. Senin depan, kamu boleh masuk kembali dan langsung mengerjakan mata kuliah yang sedang diujikan. Kamu bisa meminta jadwalnya pada dosen Lidya. Saya rasa, sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan,” jelasnya.
Ara mengangguk paham dengan yang dia ucapkan.
Kaprodi menoleh ke arah Morgan, “besok boleh saya minta beberapa pulpennya, Pak Morgan?” tanya Kaprodi, membuat Ara tertawa.
Morgan hanya tersenyum ke arah Ara yang sedang tertawa itu.
__ADS_1