
Morgan tiba-tiba menarik tangan Ara dengan kasar, Aku sampai terkejut di buatnya.
“Apaan si!” bentak Ara dengan kasar, sembari berusaha melepaskan tangannya itu.
Tak ada yang Ara rasakan, selain rasa malu itu.
Morgan menatap Ara dengan tatapan datar.
“Kamu kenapa, sih?” tanya Morgan dengan sinis.
Ara memandang Morgan dengan kesal.
“Ih ... aku malu tau ...,” ucap Ara sinis dengan lirih.
Morgan menggeleng kecil sembari mendecap.
“Cuppss ....”
Morgan mengecup bibir Ara dengan singkat, membuat Ara mendelik kaget karena tingkah Morgan yang di luar nalarnya.
Mereka memandang ke arah Ara dan juga Morgan, membuat Ara semakin malu jadinya.
“Ih ... kenapa sih pake cium-cium segala? Kan makin malu jadinya!” bentak Ara, dengan wajah yang sudah memerah saat ini.
Morgan mengerenyitkan dahinya, “kenapa harus malu? Kamu kenal sama mereka?” tanya Morgan membuat Ara bertambah malu jadinya.
“Gak gitu konsepnya--”
“Atau ... kamu malu, jalan sama saya?” tambah Morgan, memotong ucapan Ara.
Ara merasa sangat sedih ketika Morgan bertanya seperti itu, karena dirinya tidak bermaksud demikian.
Ara memandang wajah Morgan dengan tatapan sendu.
“Gak gitu, Gan--”
“Terus gimana?” Morgan memotongnya lagi.
Ara semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua orang yang memperhatikan mereka, saat ini malah berbisik ke arah mereka. Ara menjadi semakin malu karenanya.
“Kalau kamu malu jalan sama saya, it’s okay gak masalah. Kita bisa pulang sekarang,” ucap Morgan, yang sepertinya merajuk pada Ara.
Ara menjadi tidak enak hati pada Morgan. Ara menjadi serba salah jadinya.
“Ayo makan,” Ara menarik tangan Morgan, menjauhi kerumunan.
Ara tidak ingin, semua orang semakin membuat Ara bertambah malu. Ara mencari tempat duduk, sampai ke lantai atas kafe ini, demi menghindari tatapan mereka semua.
“Kenapa kita di lantai atas? Kenapa gak di bawah aja?” tanya Morgan, membuat Ara terdiam.
Ara duduk berhadapan dengan Morgan.
__ADS_1
Morgan hanya diam datar, sembari memandang ke arah Ara.
Ara jadi tidak enak hati dengannya.
Beberapa saat berlalu, Ara melirik ke arah Morgan yang masih diam mematung sembari memandang Ara dengan tatapan dingin. Ara membuang pandangannya, karena takut dengan tatapan mata Morgan yang tajam.
Suasana nampak canggung saat ini. Ara tidak bisa berbuat dan mengatakan apa-apa lagi.
Ara melirik ke arah Morgan yang hanya terdiam sembari memandangnya.
‘Duh ... kok dia diem aja, sih? Bikin mati gaya aja,’ batin Ara, yang berada dalam keresahan.
Morgan mendelik, “apa yang akan kamu lakuin satu minggu ke depan?” tanya Morgan.
Ara spontan melihat ke arahnya.
‘Akhirnya dia ngomong juga,’ batin Ara merasa sangat kegirangan.
“A-aku gak tau harus gimana. Kakak pasti gak ada di rumah, sementara aku cuma sendiri. Gak ada Fla, gak ada Ray, Rafa, Farha--” jawab Ara terpotong karena merasa tak enak untuk melanjutkan ucapannya.
“Terus gak ada ...,” ucap Ara yang masih ragu dengan perkataannya, “kamu,” sambung Ara.
Ara memandang Morgan yang terlihat seperti biasa saja. Tidak ada rasa senang sedikit pun saat ia mengatakan hal manis itu pada Morgan.
Apa dia benar-benar sudah marah denganku? Aku cukup kesal karena dia sangat dingin padaku, pikir Ara.
“Ke-kenapa diem aja sih?” tanya Ara yang terbata-bata.
“Saya gak suka kamu bersikap seperti itu. Apa lagi di depan banyak orang seperti tadi,” lirih Morgan menekankan pada Ara.
Ara menelan salivanya sendiri. Ia takut, jika Morgan tidak akan memaafkannya.
Ara menunduk, “maaf,” lirih Ara, membuat Morgan menghela napasnya dengan panjang.
‘Ya sudah, yang terpenting adalah dia sudah mengerti dengan kesalahannya,’ batin Morgan yang sudah memaafkan kesalahan Ara.
Morgan meletakkan tangannya ke atas ujung kepala Ara, membuat Ara melontarkan satu senyuman tipis ke arah Morgan.
“Permisi,” sapa seseorang, yang sudah membuyarkan suasana yang romantis itu.
Morgan menarik tangannya, sementara Ara spontan menoleh ke arahnya.
Terlihat sosok wanita cantik sedang berdiri di hadapan Ara. Ia tersenyum hangat ke arah mereka.
Lebih tepatnya, ia tersenyum ke arah Morgan.
Ara dibuat bingung dengan kehadiran wanita ini. Ara menatap Morgan dengan tatapan heran, seakan meminta agar ia menjelaskan tentang wanita yang ada di hadapan mereka saat ini.
“Morgan kan, ya?” tanyanya.
Ara menoleh ke arah Morgan. Morgan terlihat dingin sekali menatap wanita itu.
__ADS_1
Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa ia mengenal Morgan seperti ini? Pikir Ara.
“Iya. Kenapa?” ucap Morgan dengan dingin.
Ya, paling tidak, Morgan memperlakukan wanita lain dengan sangat benar di hadapan Ara sehingga, Ara tidak terlalu khawatir.
“Saya Gemi. Kamu masih ingat gak?” tanyanya.
Ada nada imut yang terselip dari ucapan wanita ini. Ara memandangnya dengan tatapan heran.
“Sepertinya tidak,” jawab Morgan asal.
Batin Ara menjadi sangat lega, saat Morgan memperlakukannya seperti itu.
Wanita itu gelagapan, saat Morgan menjawab demikian. Namun, ia masih saja tetap tersenyum ke arah Morgan.
“Saya temen sekelas kamu dulu, waktu kita masih kuliah. Saya Gemi Yasmin. Kamu sering panggil saya Gemi, kan,” ucapnya dengan nada sedikit memaksa, bertujuan agar Morgan mengingat setiap memori yang telah mereka lalui bersama.
Ara tidak tahu apa pun tentang wanita ini. Ia hanya diam sembari memandang keduanya.
“Oh,” jawab Morgan dengan singkat.
Sikapnya membuat Ara jadi tidak enak hati dengan wanita ini. Meskipun Ara tidak mengenalnya, tapi ia yang jadi merasa tidak enak.
“Boleh saya duduk dulu?” tanyanya pada Ara.
Ara hanya tersenyum tak enak padanya. Ara tidak menjawab apa pun yang dia ucapkan.
Morgan mendelik, “maaf ya, saya lagi lunch sama--”
“Sama adiknya, ya?” potong Gemi sembari melihat ke arah Ara.
Ara yang bingung, hanya tersenyum paksa ke arahnya.
Memang saat ini Ara sedang memakai seragam kuliahnya.
Tapi, Ara tidak menyangka akan dipikir sebagai adiknya Morgan.
Morgan menghela napasnya, dan hanya menatap dingin wanita itu.
Tiba-tiba, wanita itu pun duduk di samping kanan Ara.
Ada perasaan risih terhadapnya Tapi, Ara harus mengenal lebih dulu wanita ini sampai dirinya benar-benar yakin untuk menjauhinya.
“Morgan apa kabar? Gimana S-2 kamu di Jepang? Kok gak ngabarin sih kalau udah balik ke Indonesia? Nomornya juga gak bisa dihubungi lagi?” tanya Gemi dengan panjang lebar.
Ara hanya diam sembari berusaha melapangkan dada dengan pemandangan yang ia lihat ini.
Apa dia tidak menganggapku ada? Aku jelas-jelas berada di sebelahnya. Tapi, tatapannya hanya tertuju pada Morgan, pikir Ara.
Ara hanya diam menahan kesal. Lama-kelamaan Ara menjadi benar-benar risih terhadap wanita ini.
__ADS_1