
“Surat sudah benar diberikan pada target. Tadi saya memperhatikan Jess yang memang sudah memberikannya.” Isi pesan singkat dari Dicky.
Morgan sudah bisa setengah lega, karena Dicky yang sudah mulai menjalankan rencana yang sudah Morgan berikan padanya.
Morgan sudah menunggu di danau dekat kampus. Ia ingin segera memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani menyentuh adik kesayangannya itu.
Morgan melirik ke arah jam tangannya.
“Seharusnya sih dia sudah bergegas menuju ke sini,” lirih Morgan.
Mereka sudah berhasil membagi tugas. Dicky yang bertugas untuk membuntuti gerak-gerik Aca dan kawan-kawannya, sementara Lidya sudah membantu untuk men-sterilkan tempat yang akan dipakai untuk melancarkan siasat mereka.
Sementara Morgan, berjaga di tempat, karena Morgan adalah pemeran utamanya saat ini. Demi membuat mereka mengakui perbuatannya yang menjijikan itu, Morgan rela menggunakan dirinya untuk sedikit merendah di hadapan Aca nanti.
Morgan mempersiapkan dirinya. Tak lupa ia mengenakan cincin yang waktu itu ia beli bersama Ara. Morgan mempersiapkan cincin untuknya juga. Entah kenapa, terlintas di benaknya seperti itu.
Cincin itu yang akan ia gunakan untuk memberi kejutan pada Aca.
Di sana, Dicky sudah mengintai dari kejauhan. Ia melihat Aca yang sudah menyelinap ke luar dari kelasnya.
“Target sudah on the way ke TKP,” lirih Dicky yang mengirimkan voice note pada Morgan.
Mendengar sinyal dari Dicky, Morgan segera mempersiapkan pakaian yang ia pakai, agar terlihat lebih rapi.
“Kondisi steril, tidak ada mahasiswa yang berkeliaran di sekitar danau,” Morgan mendengar voice note dari Lidya.
“Oke, saatnya bersenang-senang,” lirih Morgan sembari menyunggingkan senyumnya.
Dari sudut sana, Aca bergerak menuju tempat yang dijanjikan Morgan. Tak ada rasa curiga sama sekali pada Morgan. Yang Aca ketahui, hanyalah Morgan yang sudah mulai mencintainya, karena Ara sudah bersikap kasar padanya.
Dengan sedikit kata manis yang ada, Aca terkena jebakan dari surat yang Dicky tulis itu.
Aca melangkah menuju tempat yang tertera di surat, “harusnya sih di sekitar sini, ya?” lirih Aca, yang memang tidak pernah mengunjungi tempat ini.
Ia mengedarkan pandangannya ke segala Ara, melihat apakah ada orang yang sedang ia cari di sana.
Aca membulatkan pandangannya, “itu pasti Morgan!” lirihnya teriring senyum.
Dengan segera, Aca berlari menghampiri Morgan yang saat ini sedang membelakangi dirinya.
__ADS_1
Dengan perasaan bahagia, ia kini sudah berdiri di belakang Morgan.
“Ekhm ....” Aca berdeham, membuat Morgan segera menoleh dan berbalik ke arahnya.
Kini mereka pun saling bertatapan satu sama lain.
“Oh ... sudah sampai, kenapa nggak peluk dari belakang?” tanya Morgan dengan sangat ramah kepadanya.
Aca tertegun, “memangnya boleh?” tanya Aca.
Morgan tersenyum, “sure, why not?”
Mendengar kata-kata Morgan yang sangat manis, satu senyuman merekah di pipi Aca.
Dengan ragu Morgan melangkah untuk memeluk Aca. Aca yang bingung dengan perlakuan Morgan, hanya bisa menerima pelukannya itu.
“Maaf tentang Ara, yang sudah nyakitin kamu,” lirih Morgan, membuat Aca tersenyum.
“It's okay. Kenapa harus Pak Morgan yang minta maaf? Kan yang salah itu Ara, bukan Pak Morgan,” ucap Aca, yang heran dengan perilaku Morgan.
Morgan menyunggingkan senyumnya, “tentu saya harus meminta maaf lebih dulu kepada kamu,” jawab Morgan.
Morgan mendekat ke arah telinga Aca, “soalnya, saya ingin bersenang-senang sama kamu setelah ini,” lirih Morgan, membuat Aca bergidig karena merasa geli.
“Hah? Bersenang-senang? Di tempat seperti ini? Lagipula, apa gak terlalu cepat?” ucap Aca lirih, membuat Morgan tersenyum.
“Ya, habisnya, saya sudah tidak sabar lagi,” jawab Morgan dengan lirih, membuat Aca menelan salivanya.
“Pak Morgan, ternyata agresif banget, ya?” lirih Aca, yang semakin membuat Morgan menjadi mual.
‘Jujur saja, kalau bukan karena Fla, saya tidak akan mau susah payah mengotorkan tubuh saya, untuk memeluk kamu. Lagipula, permainan yang saya maksud itu bukan yang seperti itu,’ batin Morgan yang merasa sudah cukup menahan gejolak di hatinya.
“Apa ada kata-kata terakhir?” tanya Morgan, membuat Aca mendelik, dan segera melepaskan pelukannya itu.
“Hah, kata-kata terakhir? Maksudnya apa?” teriak Aca, yang tidak paham dengan ucapan Morgan.
“Kata-kata terakhir, sebelum pemainan dimulai,” jawab Morgan teriring senyuman yang aneh, yang hanya ia sendiri saja yang mengerti dengan maknanya.
“Permainan yang seperti apa sih yang Pak Morgan maksud?” Aca mulai responsif dengan yang Morgan maksudkan.
__ADS_1
“Maaf jika tunangan saya sudah menyakiti kamu kemarin. Saya mewakili dia, ingin sekali untuk meminta maaf kepada kamu,” ucap Morgan, lagi-lagi membuat Aca mendelik.
“Hah? Ma-maksudnya apa? Tunangan? Tunangan apa?”
Aca mulai panik, dia semakin tidak mengerti dengan apa yang Morgan ucapkan padanya.
“Ara itu, tunangan saya,” lirih Morgan, membuat Aca mendelik tak keruan.
“Apa? Tunangan?” tanya Aca tak percaya.
Morgan mengangguk, dan memperlihatkan cincin yang ada pada jari manis sebelah kanannya, membuat Aca semakin mendelik, karena hubungan Morgan dan Ara yang tidak ia ketahui itu.
Aca menggeleng kecil, “nggak mungkin ini terjadi, Pak Morgan bohong kan, soal ini?” tanyanya, yang berusaha membantah keadaan.
Morgan menyunggingkan senyumnya, “soal perasaan, saya gak pernah main-main,” ucapnya yang lalu menurunkan kembali tangan yang ia perlihatkan sebelumnya pada gadis itu.
Pukulan keras mengenai relung hati Aca saat ini. Ia sama sekali tidak bisa menerima kenyataan, yang sudah Morgan beritahu tadi.
Dirinya sudah kalah, perjuangannya selama ini untuk menaklukkan hati Morgan, ternyata sia-sia belaka.
Air mata mengalir dari pelupuk matanya, “nggak mungkin gue kalah sama pel*acur itu! Itu semua nggak akan pernah terjadi!” teriak Aca.
Sorot mata Morgan seketika berubah menjadi tajam. Kali ini Morgan benar-benar mendengar langsung dari Aca, saat ia menyebut Ara dengan sebutan yang tidak pantas.
Morgan mendelik, “yang kamu sebut pel*acur itu, adalah tunangan saya! Jangan berani-berani kamu menyebut seperti itu lagi!” bentak Morgan yang sudah geram, dengan perilaku Aca.
Aca mulai merasakan kebencian yang menjalar di area hatinya.
“Gak mungkin ini semua terjadi!” teriak Aca, yang tak bisa menerima kenyataannya.
“Saya sudah meminta maaf tadi. Sekarang saya ingin mendengar kamu meminta maaf kepada Ara, dan juga kepada Fla yang sudah kamu bully kemarin,” ucap Morgan, lagi-lagi membuat Aca mendelik.
‘Tau darimana dia mengenai Fla?’ batin Aca yang sudah terpojok dengan perlakuan Morgan.
“Gue nggak tahu soal Fla!” ucap Aca dengan tegas, membuat Morgan melebarkan senyumnya.
“Apa kamu yakin tidak tahu soal Fla, yang sudah basah kuyup seperti itu, kemudian pingsan setelahnya?” tanya Morgan, membuat Aca menelan salivanya dengan cepat.
“Gue gak tahu!! Dan satu lagi, gue nggak akan pernah minta maaf sama Ara!” bentak Aca, yang lagi-lagi membuat Morgan menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1