Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pertemuan Menegangkan


__ADS_3

Ares membuka matanya. Terlihat suasana ruangan kamar, yang sama sekali belum pernah ia lihat. Ia bangkit dari tidurnya, dan melihat sekeliling kamar tempatnya tertidur lelap.


“Aku ada di mana?” lirih Ares, membuatnya menjadi penasaran dengan keadaan sekitar tempatnya berada.


Ares pun beranjak dari ranjang, melihat seluruh isi lemari yang berada di ruangan itu.


Matanya membulat, “ini bajunya kak Arash, kan?” lirihnya sembari memperhatikan baju-baju yang tersusun rapi di lemari.


Ares berusaha mengingat kembali kejadian yang kemarin ia alami.


“Oh ya, aku kan sekarang tinggal di rumah kak Arash. Kenapa aku bisa lupa, ya?” lirih Ares yang baru menyadari yang terjadi.


“Kruuukkk ….”


Terdengar suara perut Ares yang sepertinya sudah mendemo untuk diberikan makan. Ia memegangi perutnya yang bunyi, karena merasa malu dengan suaranya yang terlalu keras terdengar, padahal tidak ada siapa pun di ruangan itu, selain dirinya.


“Aduh, aku lapar,” lirih Ares, yang merasa perutnya sudah mulai sakit.


Dengan cepat, Ares melangkahkan kakinya menuju ke luar ruangan. Ia sama sekali tidak mengetahui keberadaannya, dan hanya sembarang saja melangkah ke luar ruangan.


Terlihat beberapa orang dewasa sedang berkumpul di meja makan. Karena jarak ruangan kamar Arash dan dapur yang tidak terlalu jauh, membuat Ares bisa langsung melihat penampakan mereka dari ambang pintu kamar Arash.


‘Kakak lagi bicara sama siapa?’ batin Ares yang penasaran dengan mereka yang sedang berbincang dengan kakaknya itu.


Keadaan rumah Arash yang cukup luas, membuat perasaan mencekam menyelimuti pikiran Ares kala itu. Ares jadi sedikit takut dengan keadaan sekitarnya.


“Kakak …,” pekik Ares, membuat mereka melihat ke arah Ares berada.


Inilah pertemuan pertama antara kakak dan adik yang selama ini tidak pernah bertemu satu sama lain.


Ara mendelik, ketika melihat penampakan Ares, yang saat ini ada di hadapannya.


Melihat reaksi Ara yang sepertinya tidak baik, Arash segera mempersiapkan dirinya untuk melewati keadaan yang sangat sulit baginya itu.


“Aresha, sini …,” panggil Arash, membuat Ares berlarian kecil ke arahnya.

__ADS_1


Mendengar Arash yang memanggilnya dengan nama yang agak mirip dengan nama milik Ara, membuat Ara semakin tidak bisa mencerna keadaannya.


‘Melihat ekspresi Ara, jelas sekali ia merasa sangat shock,’ batin Ilham yang memperhatikan kondisi Ara saat ini.


Arash melihat ke arah Ara, “kenalin Ra, ini anak yang menerima telepon dari kamu waktu itu,” ucap Arash, membuat Ara semakin terkejut mendengarnya.


“Apa?” lirih Ara tak percaya dengan yang Arash katakan, membuat Ares merasa takut dengan reaksi Ara saat ini.


“Ares, ini kakak cantik yang waktu itu Ares lihat fotonya di handphone kakak,” ucap Arash yang memperkenalkan Ara padanya.


Melihat reaksi Ara yang sepertinya tidak senang, Ares merasa sedih dan hanya menunduk, tak berani menatap ke arah Ara yang kondisinya saat ini sedang shock.


Arash menghela napasnya dengan panjang, dan melemparkan pandangannya ke arah Ilham yang juga sedang melihat ke arahnya.


‘Sudah tercebur seperti ini, ya mau bagaimana lagi?’ batin Arash yang sudah lebih siap untuk mengatakan kebenarannya terhadap hal yang ia sembunyikan selama ini.


Arash menatap Ara dengan sendu, “Ra, kenalin … ini Aresha, adik kamu.”


Duarrrrrrrrrrrr!!


“Ares adalah anak dari Bunga dan ayah. Dengan kata lain, ini adalah adik kamu juga. Kakak harap, kamu bisa terima kenyataan ini, ya?” lirih Arash, membuat Ara melirik ke arah Ares.


Tanpa sadar, genangan air mata sudah membanjiri pelupuk mata Ara, hingga ia sudah tak sanggup menampungnya lagi, membuatnya menitikkan air mata dengan derasnya.


Ares yang takut dengan reaksi Ara yang baginya sangat menyeramkan, segera berlindung di belakang tubuh Arash.


“Kakak udah gak mau sembunyiin apa pun lagi dari kamu. Kakak juga tidak memaksa kamu untuk menerima Ares. Kakak cuma mau ngasih tahu kebenaran aja ke kamu, daripada kamu tahu dengan sendirinya nanti,” lirih Arash yang merasa sendu melihat Ara menangis seperti itu.


Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah seperti ini jalannya.


Ara mendelik, tanpa mengatakan apa pun segera berlarian ke luar rumah.


Arash mendelik kaget, “Ra!!” pekik Arash, yang tak dihiraukan oleh Ara.


Melihat kejadian itu, Ilham merasakan kegelisahan, “biar saya aja yang kejar,” ucap Ilham yang tanpa menunggu jawaban dari Arash, segera pergi menyusul Ara.

__ADS_1


Ara yang tidak terima dengan kenyataan, segera melangkahkan kaki ke luar gerbang rumahnya. Ia berlarian tak tentu arah, hingga tiba di persimpangan jalan blok dari perumahannya.


“Wussshhhh ….”


“Tiiinnnn ….”


Mobil dari arah belakang perumahan, menyambar cepat melewati jalanan pada depan blok perumahan Ara, membuat Ara menoleh ke arahnya.


“Hah!!” teriak Ara dengan lirih, karena sudah lemas dengan mobil yang ada di hadapannya.


“Happ ….”


Ilham berhasil menarik Ara ke dalam pelukannya, walaupun kasar, setidaknya ia berhasil menyelamatkan Ara dari maut.


Mobil itu berhenti, dan terlihat seorang pria dari arah jendela yang begegas untuk ke luar dari mobilnya.


“Brukk ….”


Ia menutup pintu mobilnya dengan sangat geram, kemudian berjalan cepat menghampiri ke arah Ara dan juga Ilham.


“Heh! Dasar cewek gila! Main lari-larian di jalanan aja! Gak sayang nyawa apa?” bentak laki-laki itu dengan sinis, membuat Ilham tersentak kaget mendengar bentakannya terhadap Ara.


Ilham melihat Ara yang sedang berada di pelukannya itu. Ilham tidak terima jika gadisnya dimaki-maki sedemikian kasarnya oleh orang asing.


Ilham mendelik ke arahnya dengan tatapan yang tajam bagai elang, “siapa yang kamu sebut cewek gila?” tanya Ilham dengan nada yang masih tertahan.


“Dia lah, siapa lagi?” sinis pria itu.


Ilham tak terima dengan yang ia katakan, “bukan cewek ini yang salah, tapi anda yang ugal-ugalan dalam berkendara! Ngapain anda mengemudi di perumahan dengan kecepatan tinggi begitu? Saya bisa saja menghajar anda kali ini, tapi, silakan anda pergi dari sini sekarang juga!” ucap Ilham dengan suara yang sangat berat, membuat pria itu hampir saja kehilangan nyali dan keberaniannya.


Ia mendelik, seperti tidak terima dengan ucapan Ilham, tapi bagaimanapun juga tetap pengendara mobil itulah yang salah.


“Sial!” bentak pria itu, kemudian segera berlari menuju ke arah mobilnya.


Ilham melihat Ara yang masih ada di dalam pelukannya. Ia memandang Ara dengan jarak yang terlalu dekat, membuat dirinya hampir tidak bisa menahan diri. Wajah Ara kini sudah terlihat sangat lusuh, karena seluruh air mata yang membanjiri wajahnya, membuat Ilham iba padanya.

__ADS_1


__ADS_2