
“Ada di kelas, dia lagi belajar. Gak mau diajak juga,” jawab Fla, membuat Ara mengangguk kecil.
“Loe ke mana sih tadi, Ra? Kenapa gak masuk kelas? Loe dihukum?” tanya Rafa.
Ara pun mengangguk kecil padanya.
“Pantesan, gue kira loe keasyikan diskros sampe lupa masuk kampus,” jawab Rafa asal, membuat Ara yang sedang gundah, menjadi sedikit terhibur karena ucapannya.
Fla tiba-tiba saja menimbrung, “asyik ngobrol sendiri aja, kasian aa ganteng yang di sebelah gak diajak ngobrol,” ucap Fla dengan nada yang sangat lembut, seperti sedang berusaha menggoda Hatake.
Ara mengerti dengan maksud dan tujuan Fla.
Fla nampaknya sedang suka pada Hatake, pikir Ara.
Ara saling melempar pandangan pada Ray dan juga Rafael, membuat mereka berganti sikap.
“Ehmm ... gue kayaknya harus balik deh ke kelas. Soalnya ... Farha minta ajarin pelajaran ... emm pelajaran ... matematika! Bye,” ucap Ray kemudian segera pergi dari sana, tanpa menunggu persetujuan dari mereka.
Fla yang melihat kelakuan Ray sangat terkejut mendengarnya.
“Heh, mana ada pelajaran Matematika, orang ujian kedua itu pelajaran Fisika!” bentak Fla yang tak dihiraukan oleh Ray.
Melihat Ray yang sudah melancarkan aksinya, Rafa pun mengambil kesempatan untuk menyusulnya, “aduh ... perut gue kayaknya sakit deh abis makan seblak tadi, gue cabut duluan deh ya. Mau ke toilet,” Rafa ikut-ikutan pergi.
Fla mendelik, “Raf! Jangan ngadi-ngadi deh ya, loe tadi makan bakwan, gak makan seblak!” teriak Fla yang semakin membuat dirinya kesal sendiri dengan perlakuan teman-temannya.
Sekarang, giliran aku yang harus mencari alasan agar bisa pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi harus dengan alasan apa? Pikir Ara.
Ara memutuskan untuk diam sejenak.
“Kenapa semua orang pergi?” tanya Hatake terdengar sedih sekali.
Ara jadi tidak tega meninggalkan dia di sini bersama Fla.
Ara menyeringai ke arah mereka, “emm ... gue juga mau permisi dulu ya ....”
“Mau ke mana, Ra?” tanya Hatake, membuat Ara menyeringainya.
“Emm anu ... gue, mau ....”
“Mau ....”
__ADS_1
Ara bingung sendiri dengan jawabannya, harus dengan alasan apa agar bisa pergi dari tempat ini.
“Mau ... ambil tas di lapangan ... ya! Ambil tas. Takut hilang nanti ada yang ngambil,” ucap Ara secara spontan.
Kebetulan sekali Ara mengingat perihal tasnya yang masih tertinggal di lapangan.
“My bag are there too!” ucap Hatake, sampai Ara lupa kalau ia juga terkena hukuman, sama seperti Ara.
“Nanti gue ambilin. Bye,” ucap Ara dengan kekeh, yang tidak mau kalah dengan keadaan.
Ara berlari menghindari mereka berdua, demi memberikan mereka waktu bersama. Tak tahu harus melangkah ke mana, Ara hanya bisa mengikuti arah kakinya melangkah saja.
Melihat kelakuan teman-temannya yang sangat absurd, membuat Fla menghela napasnya dengan panjang.
“Huft … kenapa sih, mereka suka banget bikin kesel?” gumam Fla yang kesal sendiri dengan kelakuan temannya itu.
Fla tak sadar melihat ke arah Hatake yang juga sedang melihat ke arahnya.
“Ya, karena udah seperti ini keadaannya, mau bagaimana lagi,” gumam Fla yang sudah tidak bisa lagi berbicara apa pun.
Fla mendelik ke arah Hatake dengan tatapan mematikan, membuat Hatake merasa sedikit takut karena merasakan aura yang sangat aneh dari Fla.
“Ada hubungan apa loe sama Ara?” tanya Fla dengan tajam.
...***...
Beberapa waktu kemudian, Ara berhenti tepat di depan ruangan UKS, karena kelelahan dan merasa kehabisan napas. Tenggorokannya kini terasa kering sekali karena dehidrasi.
Ara menyeka keringatnya yang sudah bercucuran di keningnya, “duh, kok jalan begitu aja capek, ya?” lirih Ara, membuatnya menjadi kesal sendiri.
“Tuuuuttt ....”
Terdengar suara microfon yang baru saja dihidupkan. Ara berusaha tenang, untuk mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan.
“Perhatian, untuk mahasiswa bernama Arasha dari kelas 01TPLP001, ditunggu kehadirannya secepatnya ke ruang dosen. Terima kasih.”
Ara mendelik tak percaya, “hah? Kenapa gue dipanggil?” ucap Ara yang kaget dengan keadaan.
“Apa karena gue tadi dihukum, jadi gue dipanggil?” gumam Ara lagi, membuatnya kesal sendiri dengan keadaan, karena jika memang benar ia dipanggil karena mendapat hukuman, itu berarti bukan hanya dia yang dipanggil.
Ara terdiam sejenak, kemudian segera menuju ke ruangan dosen untuk memenuhi panggilan tadi.
__ADS_1
...***...
“Huft ….”
Rafael menghela napasnya dengan panjang, karena merasa sudah bebas, meninggalkan Fla dan Hatake di sana.
“Akhirnya, Fla menemukan tambatan hatinya,” gumam Rafa, membuatnya tersenyum kegirangan, melihat sahabatnya mendapatkan tambatan hatinya.
“Nanti malam, ke rumah Kim lagi! Gue mau bawain masakan rumah ahh buat dia,” lirih Rafa yang hanya senyum-senyum sendiri mengingat kejadian malam yang indah itu.
Dengan kegigihan dan keyakinan Rafa untuk meyakinkan Kim, membuat Kim kini sudah menerima niat baik dan kesungguhan Rafa. Kim merasa dirinya sangat beruntung sudah bisa bertemu dengan pria se-gentle Rafa.
Tugas Rafa kini adalah, berusaha meyakinkan kedua orang tuanya untuk menerima wanita pilihannya, dan juga menemui orang tua Kim, untuk meyakinkan mereka dan meminta restu pada mereka.
Ini semua Rafa lakukan untuk Kim, yang sangat ia idamkan untuk menjadi istrinya kelak.
Di sisi lain, Ray yang hendak masuk ke dalam ruang kelasnya, tak sengaja melihat seseorang yang sangat familiar baginya.
“Farha, kenapa dia?” lirih Ray yang bingung dengan gerak-gerik Farha yang sangat aneh menurutnya
Ray berhenti sejenak, untuk melihat yang Farha lakukan dari balik jendela kelasnya.
Ia melihat Farha yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Farha hanya menunduk, sembari memegang selembar foto dan melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
“Kalau bukan karena loe, gue gak akan juga mau susah payah begini! Gue gak rela ngeliat loe bahagia, meskipun bahagia bersama kakak kandung gue sekalipun!” geram Farha, sembari menusuk-nusuk foto yang ia pegang menggunakan pulpennya.
‘Hah, apa katanya tadi?’ batin Ray yang nampak bingung dengan sikap Farha yang terlihat sangat aneh baginya.
Karena keterbatasan jarak, membuat Ray tidak bisa mendengar dan melihat dengan jelas keadaan Farha saat ini. Ia hanya bisa melihat Farha dari kejauhan, membuatnya agak kesal sedikit pada dirinya sendiri.
‘Kalau begini mah gak akan bisa denger gue,’ batin Ray.
Ray sengaja melihat ke arah kaca dengan lebih tinggi lagi, agar bisa melihat dengan jelas apa yang sedang Farha lakukan di dalam.
Saking seriusnya memperhatikan Farha, ia sampai tak sengaja kehilangan keseimbangannya.
“Ehh ….”
“Brukk ….”
Farha yang mengetahui ada seseorang di sana, segera menyembunyikan foto yang baru saja ia pegang. Ia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui tentang perasaan gundahnya saat ini.
__ADS_1