
Ucap seseorang yang langsung mengalihkan fokus Rafa.
Ia menoleh ke arahnya. Terlihat Morgan sedang berjalan menuju ke arah tempat Rafa berdiri, dengan wanita asing di sebelahnya.
Belum apa-apa, Rafael sudah terkejut karena melihat wanita asing yang terus berusaha menarik perhatian Morgan.
Lama-kelamaan, mereka sudah sampai di hadapan Rafa.
“Pagi, Pak Morgan,” sapa Rafa.
Rafa memandang wanita ini dengan tatapan aneh. Ia sama sekali tidak menyukai wanita ini. Karena, ia terlihat selalu meminta perhatian dari Morgan. Wanita itu selalu memandang Morgan dengan lekat, seolah-olah hanya dia pemilik hati Morgan.
“Pagi, Rafa. Apa ... kamu yang hari ini menggantikan ketua HIMA untuk membantu saya melaksanakan acara hari ini?” tanya Morgan.
Rafa mengangguk kecil, sembari menatap ke arahnya.
“Betul, Pak. Saya membawa beberapa file yang dititipkan sebagai bahan presentasi pada acara ini,” jawab Rafa.
Morgan memandang Rafa dengan lekat.
Rafael masih saja terusik dengan tatapan dari wanita asing ini, yang tidak mengatur jaraknya dengan Morgan.
‘Kalau Ara ngeliat, udah dilabrak kali dia,’ batin Rafa sembari melontarkan tatapan penuh kebencian.
Morgan menyadari Rafa yang sedari tadi sedang melontarkan tatapan sinis ke arah wanita yang berada di sebelahnya, membuat Morgan harus menghela napasnya dengan panjang.
‘Sepertinya, aka nada konflik lagi di antara saya dan Ara,’ batin Morgan yang sudah mengetahui tentang permasalahan yang nantinya akan timbul, karena tatapan Rafa yang menurutnya sangat terang-terangan itu.
“Ekhm ….”
Morgan berdeham, membuat Rafa sedikit terkejut dari lamunannya.
“Boleh saya minta file yang diperlukan?” pinta Morgan, membuat Rafa tersadar.
“Oh, ini file-nya, Pak,” ucap Rafa lalu menyodorkan beberapa lembar kertas panduan untuk penyelenggaraan acara ini.
Morgan terlihat tersenyum, kemudian mengambil kertas yang Rafa berikan padanya.
“Oke, Rafa. Sebentar lagi acara dimulai. Kamu bisa tolong tunjukkan ibu ini …,” ucapnya sembari menunjuk ke arah wanita yang berada di sampingnya, “ke ruang meeting dosen? Sekalian untuk mereka yang sudah berkumpul, untuk mengisi daftar hadir di lembar absensi yang ada di atas meja meeting,” sambung Morgan.
Wanita itu hanya melirik sinis ke arah Morgan.
“Baik, Pak.”
“Dring ….”
__ADS_1
Handphone Morgan tiba-tiba saja berdering. Ia segera melihat handphone-nya.
“Sebentar,” ucap Morgan yang langsung pergi menjauh meninggalkan Rafa dan juga wanita itu.
“Halo Prof Handoko,” sapa Morgan yang masih terdengar dari jarak Rafa berdiri.
Rafa melirik ke arah wanita ini dengan takut. Wajahnya sangat tidak enak dipandang, membuat Rafa menelan salivanya, dan berusaha memberanikan diri menatapnya.
“Silakan, Bu,” ucap Rafa sembari mempersilakan dia untuk masuk.
Wanita itu hanya tersenyum pahit, dan segera memasuki ruangan.
Rafa bergidik takut, lalu segera mengikutinya untuk memasuki ruangan meeting dosen.
Di sudut sana, Ara seperti sedang cemas menantikan kabar dari Rafa.
Ia mengerenyitkan dahinya, “duh ... Rafa mana sih? Gak bisa dihubungin gini,” ucap Ara yang sudah terlanjur kesal dengan keadaan, sembari mondar-mandir di samping ranjang tidurnya.
Ketakutannya membuat Ara kecau. Ia mencari nama Morgan di kontaknya, dan berusaha untuk meneleponnya.
“Tuutt ... tuutt ... tuutt ....”
Teleponnya tiba-tiba saja terputus.
Ara mendelik kesal, dan segera melihat ke layar handphone-nya. Tertera tulisan “sedang berada di panggilan lain” di layar handphone-nya.
“Ihh ... lagi teleponan sama siapa si!” Amarah Ara semakin memuncak.
“Ini pertama kalinya ya, gue nelepon dia. Pas gue telepon, malah lagi nelepon orang! Kesel ya!” Ara mendengus kesal ketika mengetahuinya.
“Dringg ....”
Handphone Ara seketika berdering.
Ia melihat dengan seksama layar handphone-nya. Tertera nama Morgan di sana, membuat Ara langsung saja menerima teleponnya.
“Tutt ....”
“Halo.”
Terdengar sapaan dingin darinya, yang begitu kaku.
Datar dan dingin sekali.
Ara semakin dibuat naik darah karenanya. Tapi, Ara harus bersabar, jangan sampai ia tersulut emosi karena hal yang sepele.
__ADS_1
“Kamu ke mana aja, sih? Teleponan sama siapa dari tadi?” tanya Ara dengan sinis.
Mengetahui jika Ara sedang dilanda rasa cemburu, Morgan hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.
“Prof Handoko,” jawab Morgan dengan singkat, membuat Ara ingin sekali membuang handphone-nya.
Aku merasa kesal! Kenapa sikapnya bisa tiba-tiba berubah manis, dan bisa juga langsung berubah menjadi dingin? Pikir Ara.
Ara mengatur napasnya kembali, “bisa gak sih, kamu gak terlalu dingin banget sama aku! Bersikap lembut kek atau gimana?” sinis Ara, yang lagi-lagi membuat Morgan menghela napasnya.
“Kamu udah sarapan?” tanya Morgan, yang Ara ketahui niatnya, sedang mengalihkan topik pembicaraan.
Aku? Tentu saja semakin kesal dan ingin rasanya aku memakannya, pikir Ara.
“Belum! Mau makan kamu!” bentak Ara dengan kesal, membuat Morgan terus-menerus menghela napasnya panjang.
“Oke. Tunggu nanti malam, ya?” ucap Morgan dengan nada yang terdengar nakal.
Ara sampai bingung, kenapa Morgan mengatakan itu. Ia mencoba mencerna ucapan Morgan itu. Setelah ia pikir-pikir, ternyata ....
Ara mendelik, “ih bukan itu! Dasar cabul!” teriak Ara.
Dia pikir, aku akan memakannya dalam tanda kutip. Padahal, aku sedang kesal dengannya karena sikapnya yang terlalu ekstrim. Tapi dia malah berpikiran yang macam-macam, pikir Ara.
Morgan tersenyum tipis, “nanti malam, tunggu aja,” ucap Morgan.
Lagi-lagi Morgan mengatakan hal nakal seperti itu lagi. Ara duduk di atas ranjangnya sambil memegangi kepalanya yang sudah mulai sakit. Seperti terasa sangat pusing setelah mendengar kata itu. Tenaganya habis karena berpikiran yang tidak-tidak.
“Morgan, jangan coba-coba--”
“I love you. Jangan lupa dandan yang cantik,” potong Morgan.
“Tuutt ... tuutt ... tuutt ….”
Morgan memutuskan teleponnya.
Ara mendelik bingung, apa yang harus ia lakukan setelahnya?
Tidak kusangka, aku akan mengatakan hal yang tidak masuk akal ini kepadanya. Padahal maksudku tidak seperti itu, pikir Ara yang sudah terlalu takut dengan ucapannya tadi.
Ara terlihat meringis takut, karena memikirkan sesuatu yang mungkin akan terjadi malam nanti. Dalam benaknya, ia masih memikirkan tentang ucapan Morgan saat itu, yang akan membalaskan dendam Ara, saat dirinya menjahili Morgan saat bermesraan di mobil waktu itu.
Apalagi saat sebelum tragedi Fla masuk ke rumah sakit, mereka tidak jadi untuk bermesraan bersama, karena mereka harus secepatnya datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Fla.
Ara mendelik, “bodoh banget sih gue! Ngapain pake ngomong gitu segala ke dia! Udah tau dia itu maniak, gak bisa kalau diomongin begitu,” ucap Ara dengan sangat kesal, sembari menepuk-nepuk kepalanya yang sedang sakit itu.
__ADS_1
Ara memandang langit-langit kamarnya dengan perasaan was-was, khawatir jika hal yang ia pikirkan akan menjadi kenyataan.
“Ra ....”