Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Morning, Pacar! 2


__ADS_3

“Cuppppsss ….”


Morgan mengecup bibir Ara dengan lembut, membuat Ara melotot kaget. Wajah Ara seketika menjadi panas karena perlakuan anehnya itu.


Apa yang barusan aku dengar hanyalah ilusi, bukan? Pikir Ara yang masih tidak percaya.


“A-apa?” tanya Ara yang sudah kehabisan kata.


Ara terdiam menganga sembari menunggu penjelasan darinya. Bukannya kaget karena Morgan yang mungkin saja sudah mengetahui ucapan kasarnya tadi, malah membuat Ara semakin kaget dengan pernyataan yang sama sekali tidak Ara mengerti.


Apa maksudnya itu? Pikir Ara.


“Kenapa, sayangku?” tanya Morgan, membuat Ara menjadi jijik mendengarnya.


“Aduh, jangan ngomong gitu, deh! Sayangku sayangku, sikat gigi dulu sana! itu jigong udah bertumpuk juga! Sumpah gue jijik banget dengarnya!” bentak Ara yang tidak suka dengan panggilan sayang yang dilontarkan Morgan.


Morgan tersenyum ke arah Ara.


“Kamu, pacar saya sekarang. Terhitung sejak tadi malam,” ucap Morgan yang sangat percaya diri.


Entah bagaimana wajah Ara sekarang. Pasti sudah berubah menjadi merah semu. Ara tidak bisa menahan malunya di hadapan Morgan, jika Morgan terus-menerus menggodanya seperti ini.


Apa aku sedang bermimpi? Pikir Ara masih tidak percaya dengan yang ia dengar.


Ara terlihat sedang melayangkan tangannya, untuk menampar pipinya agar lebih yakin dengan hal yang menurutnya mimpi.


“Greeeppp ….”


Morgan dengan sigap, langsung menahan tangan Ara. Morgan tidak ingin Ara sampai menyakiti dirinya sendiri.


“Jangan nyakitin diri kamu sendiri. Kamu lagi gak mimpi, kok,” ujar Morgan membuat Ara semakin malu.


Ara berusaha untuk menguatkan hatinya yang sudah dilanda kegelisahan, “ke-kenapa gue gak boleh nyakitin diri gue sendiri? Kan ini gak ada hubungannya sama loe! Suka-suka gue lah, mau ngelakuin apa aja! Mau gue tengkurep kek, jungkir balik, kayang, lari marathon sambil jongkok kek, mau gue joget-joget di pinggir jalan kayak orang gila kek, orang ini diri gue kok, bukan diri loe!” bentak Ara dengan ragu, membuat Morgan mendekatkan Ara padanya yang masih terbaring di atas ranjang itu.


“Eh … apaan nih?” tanya Ara bingung dengan perlakuan Morgan yang menurutnya sangat absurd.


“Tentu ada hubungannya dengan saya lah, saya ini kan … pacar kamu sekarang,” jawab Morgan dengan nada yang santai, ia tahu kali ini dirinya pasti akan menang dari Ara.

__ADS_1


Ara melotot kaget, lalu menutup wajahnya dengan selimut yang sedang Morgan pakai.


‘Duh ... gimana nih? Kok Morgan gitu sih responnya? Apa aja yang dia lakuin semalem? Bibir sampe bengkak, terus kok bagian bawah sakit banget ya? Mau nanya tapi malu!’ batin Ara yang semakin menahan malu.


Morgan hanya tersenyum melihat Ara yang tampaknya sudah terlihat malu. Ia tidak ingin mempermainkan Ara lagi.


“Tseeettt ....”


Morgan menarik selimut yang Ara pakai untuk menyelimuti wajahnya yang indah itu, meskipun tanpa make up sekalipun.


Morgan menatap Ara dengan tatapan selekat permen karet yang menempel di rambut, membuat pandangan Ara tidak bisa lagi menatap ke arah Morgan. Ya, saking malunya, Ara sampai tidak bisa menatap Morgan.


Kemana Ara yang dulu sangat pemberani itu? Kenapa ketika dihadapkan dengan orang ini, dia selalu ciut dan takut?


“Kalau kamu mau nyakitin, jangan nyakitin diri kamu. Yang ada nanti kamu yang ngerasain sakitnya,” Morgan menyodorkan wajahnya ke arah Ara, membuat Ara mendelik kaget, “silakan sakiti saya, as much as you want. Saya gak mau terjadi sesuatu dengan wajah kamu yang cantik itu. Nanti … kamu jadi gak bisa selingkuh lagi, hohoh …,” ucap Morgan dengan nada yang sangat aneh, membuat Ara tidak bisa lagi berkata apa pun.


Mimpi apa aku semalam? Kenapa Morgan memperlakukan aku seolah-olah aku adalah kekasihnya? Pikir Ara.


“Yeh! Siapa juga yang bakal ngelarang, kalau gue selingkuh?” sinis Ara, Morgan hanya tersenyum.


Ara tidak bisa berkata apa pun lagi, dirinya sudah tidak bisa mengelak lagi dari Morgan.


“Gimana semalam?” tanya Morgan, sontak membuat wajah Ara kembali menjadi panas.


Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Pikir Ara.


Ara lagi-lagi mendelik, “loe ngapain gue semalem?” tanya Ara yang agak sedikit takut.


Morgan tersenyum hangat pada Ara, berusaha memberikan kehangatan untuk Ara yang selalu berpikiran buruk tentang Morgan.


“Cuppppsss ....”


Morgan mengecup lembut kening Ara. Ara merasakan ketulusan Morgan saat ini. Rasa bimbang di hati Ara mulai muncul kembali, karena sikap Morgan yang turun-naik dan menarik-ulur perasaannya.


Mungkin, Ara adalah orang yang paling ceroboh karena telah membiarkan perasaannya untuk mengalahkan logikanya.


Tapi jujur, ini sangat nyaman rasanya! Apakah ada sesuatu yang terjadi, sehingga aku bisa merasakan kenyamanan sedahsyat ini? Pikir Ara.

__ADS_1


“Mau peluk saya, nggak?” tanya Morgan, sekali lagi membuat wajah Ara bersemu.


Dengan keadaan setengah sadar, Ara malah mengangguk kecil ke arah Morgan, membuat Morgan tersenyum karena responnya.


Morgan mengubah posisinya menjadi telentang, dan Ara memeluknya dari sebelah kirinya. Ara tak menyangka,ia akan mau memeluk Morgan seperti ini.


Sejenak, Ara melupakan semua masalahnya dengan Morgan. Belaian tangannya begitu halus dan lembut, membuat Ara ingin berlama-lama bersama Morgan.


“Sesuatu memang terjadi di antara kita semalam. Jadi saya harap, kamu bisa maafin kesalahan saya,” jelas Morgan yang membuat Ara sedikit terkejut.


Tapi Ara memberikan rasa salut dengan keberanian Morgan untuk meminta maaf kepadanya.


Morgan menoleh ke arahnya, “apa benar, kamu cinta sama saya?” tanya Morgan.


Pertanyaannya lagi-lagi membuat Ara tidak bisa berkata apa pun.


Aku harus menjawab apa? Aku sama sekali tidak mengetahui jawaban apa yang harus aku berikan. Karena memang aku tidak tahu perasaanku padanya saat ini, seperti apa? Aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri, pikir Ara.


Ara yang bingung, langsung membuang pandangannya, “gu-gue nggak tau!” jawabnya untuk menutupi rasa malunya.


Morgan tetap membelai halus rambut Ara. Morgan melontarkan senyum, pada Ara yang tidak ingin memandangnya itu.


“Hei bocah, jangan cinta sama saya, ya?”


Morgan selalu mengulang-ulang pernyataannya, membuat Ara semakin tidak paham, apa yang Morgan maksudkan.


Ara yang tak terima, langsung melontarkan tatapan sinis ke arahnya, “eh om, lagian siapa juga yang suka sama om!” jawab Ara dengan nada meremehkannya.


Morgan nampak diam, tak berekspresi sama sekali.


“Udah, jangan berusaha menghalau rasa kamu lagi. Apa kamu mau menyesal nantinya? Yang seperti saya, cuma ada satu di dunia ini,” tepisnya, membuat Ara semakin tidak terima dengan perkataannya.


“Maksud loe apa? Lagian juga, siapa yang berusaha menghalau? Gue emang gak ada rasa suka sama loe! Loe aja yang terlalu percaya diri,” sanggah Ara, membuat Morgan semakin menggeleng.


Morgan bangkit, dan mengambil handphone yang sejak semalam ia pasang untuk merekam ucapan Ara saat sedang mabuk, yang tidak selaras dengan ucapan Ara saat ia sedang dalam keadaan sadar.


Morgan menunjukkan video yang berhasil ia rekam, “apa tanggapan kamu?”

__ADS_1


__ADS_2