Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Percakapan Ayah dan Anak


__ADS_3

Ilham menghentikan mobilnya tepat di garasinya. Ia melihat di sebelahnya, terdapat mobil ayahnya yang diparkir dengan rapi.


"Akhirnya ayah pulang," gumam Ilham, yang memang menunggu kepulangan ayahnya, yang sudah satu minggu terakhir ini tidak pulang ke rumah.


Ilham segera bergegas menuju ke dalam rumahnya, untuk melihat keadaan ayahnya, sekaligus untuk memberi kabar tentang keputusannya untuk menikahi Ara.


Biar bagaimana pun juga, ia harus mengatakan hal penting ini pada ayahnya. Ilham ingin, ayahnya memberikannya restu, untuk pernikahan mereka, yang sebentar lagi akan dilangsungkan.


"Cklekk ...."


Ilham membuka pintu rumahnya, dan segera masuk ke dalam rumahnya untuk bertemu dengan ayahnya.


Ilham berjalan, dengan membawa plastik berisi makanan di tangannya, bergegas duduk di sofa rumahnya.


"Ahh ...."


Ilham menjatuhkan tubuhnya tepat di atas sofa.


"Ayah ...," pekik Ilham dengan suara yang keras, untuk memanggil ayahnya yang belum terlihat.


Beberapa waktu kemudian, seorang pria paruh baya, dengan memakai piyama tidur pun datang menghampiri Ilham yang terlihat sangat lelah itu.


Pria itu duduk di hadapan Ilham, sembari tersenyum ke arah anak semata wayangnya itu.


"Habis dari mana kamu?" tanya ayahnya dengan sangat lembut, membuat Ilham melontarkan senyuman ke arah ayahnya itu.


Ayahnya memang sangat lembut, sama persis dengan sikap Ilham saat ini. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah yang dialami Ilham.


"Dari rumah Arash, Yah," jawab Ilham, membuat ayahnya menghela napas panjang.


"Bagaimana keadaan Arash?" tanya ayahnya, yang gantian membuat Ilham menghela napas panjang.


"Dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Siapa pun pasti akan terguncang, kalau perusahaan atau bisnis yang dirintis mengalami kegagalan total," jawab Ilham, membuat ayahnya tersenyum formalitas pada anaknya.


Buah memang jatuh, tidak jauh dari pohonnya.

__ADS_1


Jika melihat ayahnya, sama seperti kalian melihat Ilham. Sama persis antara sikap dan sifatnya.


"Ya, ayah pun pasti sedikit banyaknya akan seperti yang Arash lakukan. Tidak bisa dipungkiri, itu pasti berat untuk Arash lalui," gumam ayahnya, membuat Ilham mengangguk kecil.


"Ya, sebisa mungkin, saya selalu menemani Arash dalam kondisi apa pun, supaya dia tidak merasa sendirian," ucap Ilham.


"Bagus, memang harus seperti itu. Apalagi, Arash sudah tidak memiliki tempat bersandar lagi. Hanya dia satu-satunya penerus yang tersisa, dan masih memiliki tanggungan untuk kebutuhan adiknya," ucap ayahnya, membuat Ilham kembali teringat dengan tujuannya berbincang dengan ayahnya.


"Nanti kalau sudah waktunya, tanggungan adiknya itu akan saya yang teruskan, kok," gumam Ilham dengan suara yang sangat lirih, sampai dapat dipastikan ayahnya tidak akan mendengar Ilham bergumam.


Ayahnya mengerenyitkan dahinya, "Kenapa, Ham?" tanya ayah, membuat Ilham menyeringai ke arahnya.


"Oh ini, tadi saya bawa camilan. Siapa tahu, ayah lapar," jawab Ilham, membuat ayahnya teralihkan dengan bungkusan yang ada di hadapannya.


Ayahnya langsung mengambil bungkusan yang Ilham bawa, dan melihat apa yang ada di dalamnya.


Matanya berbinar karena senang dengan makanan yang Ilham bawa, "Wah ... enak nih, malam-malam seperti ini makan martabak manis," gumam ayahnya yang sangat senang dengan makanan yang Ilham bawakan untuknya.


Sebenarnya, Ilham tidak sengaja membelinya saat perjalanan pulang ke rumahnya. Ia juga tidak menyangka, ayahnya akan pulang malam ini, jadi ... itu semua hanyalah kebetulan semata.


Ayahnya kembali meletakkan makanan itu di atas meja dekat sofa tempat ia duduk.


"Ya, sebab itu ayah pulang hari ini," jawab ayahnya membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.


"Kenapa gak ngasih kabar?" tanya Ilham.


"Maaf, baterai habis," jawab ayah, membuat Ilham mengangguk kecil.


Suasana nampak hening seketika, membuat Ilham mulai mencari celah, agar dirinya bisa mengatakan kejujurannya tentang sesuatu yang ia pendam itu.


Ilham menatap ke arah ayahnya, "Yah ... saya mau bicara serius," gumam Ilham membuat ayahnya mengerenyit.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya ayahnya, membuat Ilham tersenyum.


"Enggak. Bukan masalah, kok," tepis Ilham, membuat ayahnya bisa bernapas dengan lega.

__ADS_1


"Lantas, ada hal apa yang ingin dibicarakan?" tanya ayahnya, membuat Ilham kembali mempersiapkan dirinya untuk mengatakan keinginannya.


Ilham menatap ayahnya dengan tatapan mantap, "Saya ... ingin meminta restu, untuk segera menikah, Yah," ucap Ilham, membuat ayahnya sedikit banyak terkejut dengan ucapan anaknya itu.


Saking sibuknya dia, sampai-sampai ia melupakan bahwa anak kecil yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi, saat ini sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa, yang sudah siap untuk berumah tangga.


Di matanya kini sudah menggenang air mata, membuat Ilham mendelik, karena baru dua kali ini ia melihat ayahnya menangis. Yang pertama, saat istri tercintanya, yang merupakan ibu kandung dari Ilham, pergi meninggalnya untuk selamanya, dan saat ini ia juga menangis di hadapan Ilham.


"Ayah ... gak apa-apa?" tanya Ilham yang khawatir dengan keadaan ayahnya.


"Ayah melupakan, kalau kamu sudah dewasa. Bagi ayah, kamu masih anak kecil yang selalu ikut ke mana pun ayah pergi," gumam ayahnya, membuat Ilham melontarkan senyuman ke arahnya.


"Ya, setiap yang bernyawa pasti akan tumbuh, Yah," gumam Ilham, membuat ayahnya tersentuh, karena ia juga baru menyadari kalau sedikit banyaknya sifat yang ia miliki, sudah turun pada Ilham.


"Memangnya, siapa gadis yang mau kamu nikahi?" tanya ayahnya, membuat wajah Ilham seketika memerah, saking malunya mendengar ayahnya berbicara seperti itu.


Ilham menunduk malu, "Adik dari Arash, Yah," jawab Ilham membuat ayahnya mendelik terkejut karenanya.


"Hah? Yang benar saja kamu, Ham?" gumam ayahnya, yang sangat terkejut dengan ucapan Ilham.


Ilham menghela napasnya, "Iya, Yah. Ini sudah menjadi keputusan Ilham," ucap Ilham, membuat ayahnya menghela napasnya berulang kali.


'Kenapa harus berhubungan dengan keluarga itu lagi? Saya tidak jadi dekat dengan Anggun, tapi kenapa anak saya yang malah dekat dengan anaknya? Apa ... ini karma untuk saya?' batin ayahnya, yang tak percaya dengan keadaan.


Ilham menatap ayahnya dengan sendu, "Apa ... ayah keberatan dan gak setuju dengan pilihan Ilham?" tanya Ilham dengan nada yang sendu, membuat ayahnya tersadar dari lamunannya.


Ayahnya menatap Ilham dengan tatapan bingung, sembari menepuk-nepuk bahu Ilham, "Kejar yang kamu inginkan, Nak. Ayah gak akan larang kamu," gumam ayahnya, membuat Ilham berubah gimik menjadi sumringah.


"Ayah gak bercanda, kan?" tanya Ilham, membuat ayahnya tersenyum.


"Untuk apa bercanda? Ayah sudah sangat ingin menimang cucu, tahu," goda ayahnya, membuat Ilham tersipu mendengarnya.


Ya, mirip seperti Ilham.


Oh, tidak. Ilham lah yang mirip seperti ayahnya.

__ADS_1


Ayahnya memandang Ilham dengan tatapan bangga, 'Saya pernah mencintai wanita lain setelah ibumu. Wanita itu adalah ibu dari calon istrimu,' batin ayah Ilham, sembari tetap melontarkan senyuman ke arah anaknya.


...***...


__ADS_2