Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Makan Malam


__ADS_3

Sepulang dari kampus, Ara langsung mengacak-acak lemari pakaiannya, berusaha mencari outfit apa yang cocok untuk ia pakai ke acara makan malam bersama dengan keluarga Fla. Ara membongkar seluruh isi lemarinya. Namun, tak ada yang sesuai dengan harapannya.


“Haduh ... gawat nih, gue kehabisan outfit!” lirihnya, sembari meremas rambutnya, karena sudah terlalu pusing mencari sebuah baju yang cocok di antara tumpukan baju yang sudah menggunung ini.


Ara melihat satu per satu pakaian lamanya, yang masih bisa ia pakai.


“Yang mana yang harus gue pake coba?” lirihnya kesal, sembari melemparkan baju-baju itu ke bawah ranjangnya.


Kenapa Ara bisa bersemangat sampai seperti ini?


Ah.


“Apaan sih? Lagian ini kan cuma makan malam biasa aja, sama Fla lagi! Bukan makan malam menuju pertunangan,” pikirnya.


“Hah ...,” geramnya, kemudian duduk diam tak tahu harus berbuat apa.


“Masa sih, harus beli baju dulu cuma buat pergi makan malam sama keluarga Fla?” lirihnya.


Ara yang kesal, lalu keluar dari kamar untuk menghirup udara sore hari.


Ara tak sengaja berpapasan dengan Arash, kakaknya. Arasha berjalan sembari membawa gaun yang anggun beserta sepatu high heels yang kelihatan mewah, di tangannya. Entah apa yang akan Arash lakukan dengan gaun dan sepatu itu.


Jiwa kleptomania-nya meronta. Ara mengunci pandangannya ke arah baju itu.


Ara Langsung saja menyambar baju dan sepatu itu dari tangan Arash.


“Kak, minjem ya!” Ara merebutnya tanpa menunggu persetujuan dari Arash.


Dengan cepat, Ara langsung berlari menuju kamarnya.


“Eh ... Ra!”


Terdengar samar pekikan Arash, yang sepertinya tidak rela barangnya diambil oleh Ara.


Terserah dia mau bagaimana. Yang penting, Ara bisa pergi ke jamuan makan malam dengan sangat anggun, pikir Ara.


“Hihi, dapat baju bagus,” lirih Ara sembari mencocokkan gaun itu di tubuhnya, sembari melihat ke arah cermin.


Tanpa basa-basi Ara langsung memakai gaun tersebut dan berdandan sewajarnya anak gadis berusia 18 tahun. Ara tidak ingin dianggap berlebihan. Walau bagaimana, ini hanya makan malam antara dia dan keluarga Fla saja. Bukan makan malam antara dia dan keluarga Bisma.


Ah.


‘Aku sampai melupakan Bisma,’ batinnya, ‘gimana rasanya, ya, makan malam bersama dengan keluarga Bisma?’ Ara menyambung halusinasinya.


Jangan berpikir aneh!


Setelah selesai memakai gaun itu, Ara kembali bercermin. Apakah ini cocok jika Ara kenakan?


“Cocok gak, sih?” lirihnya sembari tetap memperhatikan lekuk tubuhnya di cermin.


Ternyata, tidak terlalu buruk, pikirnya.


Tapi, Ara masih tetap tidak puas dengan keadaannya saat ini.


“Harus tanya kakak, nih.”

__ADS_1


Ara keluar menuju ruang tamu, dan bergegas menghampiri kakaknya.


“Kakak ...,” pekiknya yang masih berdiri di belakang Arash.


Arash yang sedang menonton televisi, beralih menengok ke arahnya. Arash nampak tercengang melihat dandanan Ara.


“Wow ....,” lirihnya yang masih terdengar samar oleh Ara.


Arash menatap Ara dari ujung rambut, hingga ujung kaki. Ara yang sedang memakai gaun 3/4 berwarna lilac dengan rambut yang dikuncir seadanya memakai hiasan rambut, kemudian sepatu high heels berwarna selaras dengan warna bajunya, berhasil membuat Arash tercengang.


Arash terpukau dengan hasilnya.


“Gimana, kak?” tanya Ara yang sangat antusias untuk dinilai.


Arash mengacungkan dua jempol ke arah Arasha. Ara tersenyum malu ke arahnya.


“Kakak gak marah, kan, kalau gaun ini aku pake?” tanya Ara.


Arash terlihat menggeleng.


“Emang gak salah pilih si Morgan itu.”


“Uhuk ...,” Ara tersedak mendengarnya.


“Apa kakak bilang? Morgan?” tanya Ara bingung.


‘Apa hubungannya, baju ini sama Morgan?’ batin Ara.


“Iya, ini baju emang buat kamu, tapi kakak bingung mau ngasihnya gimana. Habis kamu sinis banget kayaknya sama dia. Tadinya kakak mau simpan aja bajunya,” jelasnya.


Ara tercengang dengan pengakuan kakaknya.


Ara tahu, harga gaun ini tidak murah.


‘Apa? Bisa-bisanya dia ngasih gue baju sebagus ini. Pasti gak murah,’ batin Ara keheranan.


“Kenapa, Ra, kamu gak suka ya? Biar kakak simpen aja deh--”


“Ehh ... jangan kak,” pangkas Ara, berusaha menghentikkan kakaknya.


Ara tidak mungkin melepas baju ini, karena Ara sudah tidak mau repot untuk mencari baju yang kini sudah menjadi seperti tumpukan gunung itu.


Terjadi perang batin di sini.


‘Waduh... gak mungkin juga gue lepas ini baju, udah cocok banget di gue soalnya,’ batin Ara mengaduh, ‘tapi gue males pake baju dari dia! Apa-apaan coba? Nanti disangka gue kegirangan lagi pake baju dari dia,’ batin Ara yang satunya lagi membantah.


Apa-apaan ini? Kenapa mendadak menjadi dilema seperti ini, pikir Ara.


‘Tapi kalo gue lepas, gue bakal telat makan malem nih ....’ Ara masih bersikeras untuk mempertahankan gaun ini,‘udahlah bodo amat.’


“Lho, kenapa gak boleh?” tanya Arash.


Ara berusaha mencari alibi, agar kakaknya tidak jadi mengambil kembali gaun ini. Tapi pikirannya sedang kacau, tidak bisa berpikir lagi.


“Ihh ... udah ah, aku mau berangkat!” ucap Ara, berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Eh, mau kemana?” tanya Arash.


“Aku mau ke rumah temen aku. Mau makan malam,” jawab Ara.


“Mau kakak anter, gak?”


“Gak usah. Aku bisa pergi sendiri, kok,” tolak Ara, membuat kakaknya terlihat murung.


“Setidaknya, minta antar supir. Jangan pergi sendirian ke sana,” lirih Arash terdengar ragu.


Ara tahu, kakaknya berniat baik padanya. Kakaknya juga sebenarnya menyayanginya. Hanya saja, Ara tidak terbiasa menerima kasih sayangnya yang berlebihan itu.


“Oke.”


Ara pergi meninggalkan kakaknya di sana. Ia bergerak menuju mobilnya yang sudah disiapkan sebelumnya. Tentu Ara tidak sendirian. Kakaknya menyuruh supir untuk mengantarkannya ke kediaman Fla.


Lebih cepat sampai, tentunya lebih cepat selesai.


Sesampainya di sana, Ara melihat pelataran rumah Fla dengan seksama. Matanya membulat karena melihat kemewahannya.


‘Rumahnya bagus. Gede banget lagi,’ batinnya sembari memperhatikan sekelilingnya.


“Jam 9, jemput saya di sini ya, Pak,” pinta Ara.


“Baik, Non.”


Sopirnya pergi meninggalkannya. Ara langsung melangkah masuk ke depan pintu rumah Fla, dengan perasaan gugup.


“Ting ... nong ....”


Ara menekan bel rumahnya, dan menunggu seseorang untuk membukakan pintu.


“Ckrek ....”


Seseorang datang membukakan pintu untuknya. Ara melihat, dan bersiap untuk memberikan salam padanya.


“Hah ...” lirih Ara dengan mata yang membulat karena sedikit terkejut.


“Loe?” teriaknya kaget.


Tidak heran lagi, untungnya Ara sudah melakukan persiapan, kalau sewaktu-waktu ia bertemu dengan Jess pada waktu yang kurang tepat.


Akhirnya, sekarang Ara bertemu dengannya.


“Jadi, loe tamu spesial itu?” tanyanya dengan nada tinggi dan tidak percaya.


Jadi dia tidak tahu tentang tamu yang akan datang? Itu berarti, peluang untuk membubuhkan racun, akan sangat sedikit, bukan?


Ara hanya diam sembari menyembunyikan sedikit perasaan takut darinya.


“Beraninya loe nginjekin kaki loe ke sini!” bentaknya.


Ara tak terima dengan bentakannya itu. Ara mendelik ke arahnya.


“Gak usah sok gak ngijinin gue, deh. Inget, loe itu cuma numpang di sini!” tepis Ara kelihatannya membuat dia shock tidak keruan.

__ADS_1


“Apa? Demi apa, loe kurang ngajar banget sih jadi orang!”


“Ada apa ini?” pekik seseorang yang tiba-tiba datang dari balik pintu.


__ADS_2