Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Morning, Pacar!


__ADS_3

Ara menjerit lirih, membuat Morgan semakin bergairah menikmati setiap sentuhan yang ada. Setiap rintihan dan ******* Ara, mempu memacu jantung Morgan untuk berdegup semakin kencang dan semakin kencang lagi, buatku mati berdiri dan tak ada kata lagi, ingin rasa yang memiliki, jangan nyanyi ya pemirsa.


Hihi.


Morgan mulai merasa bibirnya sakit, mungkin karena Ara terlalu bersemangat dan menggigitnya terlalu keras. Morgan juga tak mau kalah dengannya.


Morgan menggigitnya dengan keras, dan merasakan sesuatu yang amis yang sedang ia telan bersama dengan saliva mereka yang sudah tercampur.


Morgan pun melihat ke arahnya.


Matanya membelalak, “darah!!” pekik Morgan yang sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.


Ternyata, Morgan sudah benar lepas kendali. Morgan membuat bibir Ara berdarah, saking ia tidak bisa berpikir dengan rasional. Ia menjadi kebingungan sekarang, entah harus berbuat apa.


“Yah ... Ra!” pekik Morgan, yang mulai panik dengan keadaan.


Ara malah tersenyum, sembari memejamkan matanya. Morgan pikir, Ara menikmatinya.


Morgan yang melihat kejadian aneh ini, menjadi bingung sendiri.


Morgan melanjutkan aksinya kembali. Kali ini, Morgan tidak akan mengampuni Ara.


“Drrrriiinnngggg ….”


Telepon berdering dengan kencang, memaksa Morgan untuk menghentikan aktivitasnya. Morgan lantas melihat, siapa yang telah mengganggu aksinya dalam bercinta itu.


Rupanya, yang berdering adalah handphone milik Ara. Di sana, tertera nama Bisma. Morgan berusaha menahan kesalnya sekarang.


Aku sudah memperingatkan dia untuk tidak menghubungi Ara lagi. Tapi kenapa dia masih menelepon Ara, sampai saat ini? Pikir Morgan.


Morgan menonaktifkan handphone Ara, sehingga telepon dari Bisma pun terputus.


‘Gak akan saya biarin kamu dapetin Ara lagi,’ batin Morgan mantap.


Ara melanjutkan aktivitas panasnya bersama Ara. Ara terlihat masih menikmati setiap sentuhan yang Morgan berikan.


Ada perasaan bahagia karena bisa melakukan ini lagi dengan Ara. Morgan tidak akan berbuat kasar lagi saat mencium Ara.


Desah lirih Ara membuat Morgan menjadi sangat bergairah. Perlahan, Morgan mulai membuka celana yang sedang ia pakai. Terlihat sesuatu yang gagah dari balik celananya.

__ADS_1


Ada yang berdiri tegak, tapi bukan keadilan, hihi.


Morgan meraba halus pinggul Ara yang kecil itu.


Perlahan, Morgan melepas rok mini yang Ara pakai.


Morgan tidak menyangka akan melakukan hal seperti ini lagi dengan Ara. Jantungnya terus berdegup kencang, dengan napas yang sudah memburu tak beraturan. Morgan mulai memasukannya.


Desahannya terus terdengar, bagai alunan musik nan merdu. Morgan menikmati malam ini bersama Ara. Setidaknya, Morgan sudah lega dengan sesuatu yang selama ini ia tahan.


Morgan bergerak pelan dan lembut, agar Ara tidak terlalu merasakan sakit.


***


Beberapa saat berlalu. Morgan melihat Ara yang sudah kacau dan tidak sadarkan diri lagi.


Dia mungkin sudah terlalu lelah untuk melayaniku malam ini, pikir Morgan.


Morgan membelai lembut wajah Ara yang hampir tertutup dengan rambut. Morgan mengamati setiap sisi dari wajahnya. Ia tak menyangka, akan melakukannya lagi bersama gadis pujaan hatinya itu.


Sekuat apa pun Morgan menahannya, pasti akan selalu kalah dengan pesona yang Ara miliki.


‘Entah bagaimana nantinya, saya hanya perlu berpikir sejenak. Saya gak selamanya bisa nemenin kamu,’ batin Morgan yang terus-menerus mengelus pipi halus Ara.


Morgan tak kuasa menahan air matanya. Morgan tidak tahu nanti akan jadi seperti apa. Dirinya pun masih bingung dengan perasaannya pada Ara, mengingat Ara yang masih terus menolaknya.


‘Soal ke rumah, mungkin lain waktu, ya.’


***


Cahaya mentari memaksa masuk dari celah gorden yang sudah tertutup rapat, namun tetap menyinari wajah Ara. Kicau burung bersahutan, membuat suasana pagi menjadi terasa segar.


Ara terusik dengan cahaya yang tanpa izin menembus masuk ke dalam celah kamar. Perlahan, Ara membuka matanya. Ada sedikit rasa pusing di kepala Ara, sampai-sampai, Ara harus terus memegang kepalanya agar tidak begitu merasakan sakitnya.


Apa yang baru saja terjadi? Ara melihat keadaan sekelilingnya yang berantakan.


Ada apa sebenarnya? Pikir Ara.


Ara menyadari, ada seseorang yang tak asing baginya, yang saat ini sedang tertidur pulas di sampingnya. Ada sedikit rasa kaget di hati Ara, karena seingatnya, saat itu Ara sedang bermain bersama dengan teman-temannya.

__ADS_1


“Kenapa ada Morgan?” lirih Ara bertanya-tanya, karena tidak mengerti dengan situasi dan kondisi.


“Awwwwwsss ....”


Ara merasakan sakit di bagian bawah bibirnya, yang terlihat seperti sariawan, membuat Ara semakin bertambah bingung dengan keadaan.


Ara menoleh ke arah Morgan yang sedang tertidur pulas di sana. Ia memperhatikan setiap sisi wajah Morgan. Ia melihat suatu hal yang janggal di wajah Morgan. Bibirnya juga terlihat seperti sedang sariawan.


Kenapa ini menjadi suatu kebetulan yang membingungkan? Pikir Ara.


Matanya membelalak, ia berpikir satu hal.


Apakah kami berdua habis berciuman? Kenapa kami sama-sama punya luka yang sama? Pikir Ara.


Ara menganga kaget, sembari menyentuh bibirnya, “ah, masa gue sama dia ngelakuin itu lagi sih?” Ara bertanya-tanya keheranan.


Ara berusaha mendekati wajah Morgan, berniat untuk memperhatikan bibir Morgan dari dekat, karena lukanya tidak begitu jelas, jika dilihat dari sudut yang jauh seperti ini.


Ara membulatkan matanya, “hah ... kok bisa ya sama gini, sih?” lirih Ara yang masih bertanya-tanya.


Ara semakin memperhatikannya dengan tatapan yang dalam, dari jarak yang sangat dekat. Ia masih belum yakin dengan keadaan yang terjadi dengan mereka saat ini.


“Heh om, loe nakal ya semalem?” tanya Ara dengan nada yang seperti anak kecil.


Morgan tak kunjung merespon ucapan Ara. Sampai Ara tersenyum jahil ke arahnya.


“Gue bisa sepenuhnya ngeledekin loe, kalau gini caranya,” ucap Ara dengan senyuman yang mengandung bayak arti.


“Dasar cowok idiot, orang paling rese sedunia. Dosen yang sama sekali gak ada wibawanya! Dasar gila hormat! Gak ada prikemanusiaan, gak punya etika! Gak punya perasaan! Gak punya hati! Bisanya bikin orang kesel mulu, selalu bikin gue gengges, gak punya akhlak, gak punya nurani, bikin orang cemburuan, bikin orang kesel, bikin gue hanyut lebih dalam tapi gak pernah sekalipun bersikap peduli yang benar-benar peduli, gak peka, gak punya otak karena udah ngerebut harga diri orang, sok tebar pesona sama gadis-gadis yang gak jelas itu, udah gitu pake nerima gelang dari cewek gak jelas itu lagi! Dia dikabarin, sementara gue gak sama sekali dikasih kabar, ngomongnya handphone-nya rusak, gak taunya ada terus selalu chating-an sama cewek yang ngasih gelang itu, lagi! Dasar Morgan brengsek!” teriak Ara ke arah Morgan yang sedang tak sadarkan diri itu.


Ara sangat yakin, Morgan tidak akan sadar jika ia meledeknya seperti ini.


Morgan tiba-tiba saja membuka matanya, sesaat setelah Ara menyelesaikan makian dan caciannya terhadap Morgan, hingga membuat Ara terkejut.


Mata mereka bertemu pada satu titik. Ara sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya diam sembari memelototi Morgan yang hanya diam, tanpa ekspresi.


‘Anjrit, kenapa bisa dia bangun. Dia ngedenger gak yang yang tadi gue bilang?’ batin Ara merasa resah.


Morgan menatapnya lekat, teriring senyuman, “morning, pacar!”

__ADS_1


__ADS_2