Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Malam Pertama


__ADS_3

Acara pun sudah selesai. Ara kini sudah diboyong oleh Ilham, menuju ke rumah baru yang ayahnya berikan pada Ilham waktu itu.


Ilham menghentikan mobil berhiaskan pita dengan bunga khas pernikahan itu, tepat di depan halaman rumahnya.


Ilham menghela napas panjang. Biar bagaimana pun juga, Ilham merasa sangat bingung. Jantungnya terus berdetak, lebih kencang dari biasanya. Ini adalah malam pertamanya dengan Ara. Walaupun Ilham tahu, tidak akan terjadi apa pun pada mereka malam ini, tetapi tetap saja rasanya sangat membuat Ilham senang.


Ilham menoleh ke arah Ara yang sedari tadi sudah terlelap, di samping kursi kemudinya. Riasan make up yang ia pakai, masih terlihat jelas di setiap sisi wajahnya, membuat Ilham tersenyum melihatnya.


Ilham menyentuh wajah Ara dengan sangat lembut, "Sayang ... bangun yuk, kita sudah sampai," gumam Ilham dengan sangat lembut, membuat Ara terbangun dari tidurnya.


Ara mendelik, karena Ilham yang mengelus wajahnya itu, membuatnya kaget setengah mati.


"Hah, Kak Ilham kenapa megang-megang aku?" tanya Ara yang memojokkan dirinya, ke sudut mobil, seperti orang yang sedang ketakutan.


Ilham mengerenyit, "Maaf sudah bikin kamu kaget. Saya cuma mau kasih tahu, kita sudah sampai di rumah baru kita," gumam Ilham, membuat Ara memandang ke sekelilingnya.


Ara mendelik bingung, sembari terus-menerus menghela napasnya, 'Aduh ... kok lupa ya kalau sekarang aku udah nikah sama dia?' batin Ara yang terlupa dengan statusnya, yang sudah menjadi nyonya Fauzie.


Ilham melontarkan senyum ke arahnya, "Kita masuk?" tawar Ilham, membuat Ara memandangnya, lalu mengangguk kecil.


Ilham membuka sabuk pengaman dirinya, dan juga sabuk yang Ara kenakan, membuat Ara terdiam sendu menatap Ilham.


'Kenapa malah jadi ingat Morgan?' batin Ara, yang mengingat perlakuan manis Morgan, yang selalu membukakan sabuk pengaman untuknya.


Ilham menatapnya dengan senyuman, kemudian segera keluar mobil, dan membukakan pintu untuk Ara.


Pintu mobil terbuka, Ilham pun menyodorkan tangannya ke arah Ara, membuat Ara semakin sendu dibuatnya.


Ara ragu harus seperti apa. Setelah berpikir sejenak, Ara pun meraih tangan Ilham, dan segera melangkah ke luar mobil.


Mereka pun masuk perlahan ke dalam rumah yang sangat besar, untuk mereka.

__ADS_1


"Cklekk ...."


Ilham membuka pintu rumah, kemudian membuka saklar lampu, dan seketika ruangan pun menyala dengan sangat terang.


Suasana nampak canggung di sini, karena hanya ada mereka saja di dalam rumah ini.


Ilham memandang ke arah Ara dengan ragu, "Mmm ... maaf, rumahnya gak sebagus rumah kamu dulu, dan juga gak luas. Di rumah ini juga cuma ada dua kamar. Satu kamar utama, dan satu kamar tamu. Kamar tamu belum sempat saya rapikan. Jadi, kamu boleh istirahat di kamar utama. Nanti ... saya istirahat di sofa aja," gumam Ilham, membuat Ara mendelik tak tega dengan yang ia ucapkan.


Ilham tersenyum, lalu segera meninggalkan Ara di sana.


"Kak!" pekik Ara yang membuat Ilham menghentikan langkahnya, "Kakak tidur di kamar utama aja, bareng aku," ucap Ara, yang membuat Ilham tersenyum, tanpa melihat ke arah Ara.


Ilham kembali melanjutkan langkahnya, dan segera meletakkan semua barang-barang yang belum sempat ia rapikan, di kamar tamu. Kecuali, barang-barang Ara yang memang susah sekali untuk dikeluarkan. Ia meletakkannya di dalam kamar utama.


Setelah selesai merapikan barang-barangnya, Ilham pun masuk ke dalam kamar utama, dan tak sengaja melihat Ara yang masih duduk di pinggir ranjang.


Dengan perasaan ragu, Ilham pun melanjutkan langkahnya dan duduk di sebelah Ara.


Ilham menoleh ke arah Ara, yang masih mengenakan gaun putih itu, "Kamu ... gak mandi?" tanya Ilham, membuat Ara menunduk.


Tak dipungkiri, Ara pun merasakan hal yang sama, seperti yang Ilham rasakan. Jantungnya berdegup kencang, membuatnya hampir tak bisa bernapas, ditambah korset yang ia pakai sejak pagi, semakin membuat sesak dada dan kandungannya.


"Sebentar lagi," jawab Ara, membuat Ilham menelan salivanya dengan kasar, "Kak Ilham gak mandi?" tanya Ara, membuat Ilham kaget mendengarnya.


Suasana seketika menjadi lebih rancu, karena topik pembicaraan mereka yang sepertinya hanya datar, dan rancu.


"Ma-mau. Apa kamu mau ... mandi bareng sama saya?" tawar Ilham, yang kelepasan bicara seperti itu, karena pikirannya yang sedang kacau, membuat Ara mendelik mendengarnya.


Ilham mendelik, karena melihat ekspresi Ara yang ia pikir mungkin sudah menjadi sangat terganggu. Ilham menjadi gelagapan sendiri.


"Kak ...," pekik Ara, pada Ilham yang sedari tadi hanya diam menatapnya.

__ADS_1


Ara melambaikan tangannya di hadapan Ilham, "Kak Ilham ...," pekik Ara dengan lebih keras daripada yang sebelumnya, membuat Ilham terkejut dan tersadar dari lamunannya.


Ilham memandang ke arah Ara yang sedang ada di hadapannya, sembari mengerenyitkan dahinya, "Hah, iya, kenapa?" tanya Ilham, membuat Ara mengerutkan bibirnya.


"Aku tanya dari tadi, Kak Ilham gak mandi?" tanya Ara, membuat Ilham mengembuskan napas dengan keras, karena ucapannya yang tadi hanyalah khayalan semata.


Ilham mengusap kasar wajahnya, "Iya, saya mandi dulu, ya?" ucap Ilham yang sangat malu dengan keadaan.


Ilham yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, segera melangkahkan kaki menuju ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Ara memandang heran ke arahnya, "Apa dia mandi gak bawa handuk dan baju salin?" gumam Ara, yang heran dengan kelakuan Ilham yang aneh baginya.


Ara segera mengambil peralatan untuk menghapus riasannya yang sangat tebal, sembari menunggu Ilham menyelesaikan mandinya.


Dengan kapas dan micellair water yang ia punya, ia mengusap seluruh sisi wajahnya. Ia terus membersihkan, sampai seluruh sisa make up terangkat dari permukaan kulit wajahnya.


Di dalam kamar mandi, Ilham berendam di dalam bath tub, membuat tubuhnya terasa sangat rileks. Namun, tak bisa dipungkiri, Ilham sama sekali tidak bisa menghilangkan pemikiran buruknya tentang ucapan Ara tadi.


Ia sangat kesal dengan dirinya sendiri, kalau berada di dekat Ara, malah membuatnya merasa sangat terbebani seperti ini.


"Saya malah semakin dalam mencintai kamu," gumam Ilham, yang menahan perasaannya yang sudah menggebu, karena ia tahu kalau dirinya tidak akan bisa berbuat yang lebih daripada ini.


Sama saja membuat dirinya terluka berulangkali, bukan?


"Huft ...."


Ilham menghela kasar napasnya. Pikirannya terlalu tegang, sampai tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Sekarang kalau sudah seperti ini, ruangan yang bisa saya pakai untuk menumpahkan emosi, hanya di sini," gumam Ilham sendu, lalu menenggelamkan setengah wajahnya ke dalam air.


...***...

__ADS_1


__ADS_2