Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Terenyuh


__ADS_3

Ara merasa terenyuh sudah mendengar semua cerita masa lalu Morgan. Ara tidak tahu harus bersikap seperti apa. Rasanya, agak sedikit sakit mendengar keseluruhan cerita yang ia ceritakan tadi.


Ara memandang sendu ke arah Morgan, yang juga sedang memandang ke arahnya.


Itulah alasan Morgan selalu bersikap demikian, karena tekanan yang ia alami sangatlah besar.


Ya! Masa lalu Morgan tak beda jauh dengan masa lalu Ara. Ara sangat mengerti dengan perasaannya sekarang.


Tapi, kenapa Morgan sudah mengenaliku saat itu? Pikir Ara.


“Jadi, karena itu saya selalu dingin sama kamu. Karena memang perasaan saya terhadap wanita sudah hampir mati. Terkadang saya lupa cara bersikap, saking nyamannya dengan sikap yang saya miliki saat ini,” ucap Morgan, lagi-lagi membuat Ara terenyuh.


“Saya gak mau mengalami hal yang sama, dengan masa lalu yang saya alami. Saya harus menjaga, apa yang harusnya saya jaga. Jangan sampai, saya kehilangan kamu lagi, seperti saya kehilangan Putri dan Meygumi saat itu,” tambah Morgan dengan nada yang penuh dengan kesedihan.


Ara sampai miris mendengarnya. Saat ini, ia merasa tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Morgan.


Masih terpikir tentang Morgan yang tadi menceritakan sedikit tentang Ara. Ara masih bingung tentang itu.


“Tadi kan loe ngomong sedikit yang menyangkut tentang gue, gue mau tau kelanjutan cerita tentang gue itu gimana,” ucap Ara, seakan memaksa Morgan untuk berbicara hal yang menyangkut dirinya.


Morgan mengubuah posisinya karena merasa tidak nyaman.


“Nanti juga kamu paham kok, tentang alasan saya bisa dekat dengan kamu seperti saat ini,” jawab Morgan, yang tidak membuat Ara puas dengan jawabannya, karena lagi-lagi ia harus menunggu saatnya agar Morgan menceritakan semuanya secara sukarela.


Ara menghela napasnya panjang.


“Terus, sampai kapan gue hidup dengan rasa penasaran gue yang sekarang ini? Loe kan tahu, gue orangnya kepo,” sanggah Ara, membuat Morgan tersenyum tipis.


Morgan menunjuk ke arah bibirnya, “Kiss me first, and i’ll tell you more,” ucap Morgan, membuat Ara mendelik.


“Dih, ogah!” bentak Ara, membuat Morgan tertawa kecil.


Suasana nampak canggung sejenak. Masih banyak pertanyaan rancu yang ada di kepala Ara.


Ara menoleh ke arah Morgan, “jadi Meygumi main cinta sama laki-laki lain? Karena loe gak mau ngelayanin dia?” tanya Ara, Morgan menggangguk kecil.


Pikiranku sudah salah selama ini tentangnya. Aku kira, laki-laki seperti dia bisa dengan mudahnya meniduri wanita yang dia inginkan, pikir Ara.

__ADS_1


Morgan menoleh ke arah Ara, “jujur, saya baru pertama kali melakukan ini sama kamu,” ucapnya dengan nada yang terdengar agak ragu.


Ara spontan menoleh ke arah Morgan dan melihat wajahnya yang ia sembunyikan dengan cara membuang pandangan itu.


Ara menoleh ke arah sebaliknya. Wajah Ara terasa panas seketika.


Apa wajahku sudah berubah menjadi merah? Pikir Ara.


“Hotel yang kamu pakai untuk bermalam bersama laki-laki itu, adalah hotel milik Meygumi. Kamu juga pernah melihatnya waktu kamu tiba-tiba saja lari, saat saya ingin mengantarkan kamu pulang,” ucap Morgan yang membuat Ara terkejut.


Jadi wanita itu adalah Meygumi? Kenapa dunia terasa sesempit ini? Lalu, apa yang dilakukan Morgan bersamanya saat aku pergi waktu itu? Pikir Ara, yang semakin memperkeruh keadaan.


Ara memberanikan diri untuk menatap ke arah Morgan, “hah? Terus, loe ngapain aja sama dia, pas loe ketemu sama dia?” tanya Ara dengan sinis.


Morgan melontarkan pandangan dingin ke arah Ara, membuat Ara membekap mulutnya sendiri karena ia merasa sudah terlalu gegabah dengan bertanya seperti itu pada Morgan.


Ara tidak ingin, Morgan sampai berpikir macam-macam tentang dirinya.


“Apa kamu cemburu?” tanya Morgan dengan datar, yang seketika membuat panas wajah Ara.


Aku menatapnya sinis, “s-siapa yang cemburu coba?” tanya Ara dengan terbata-bata, Morgan hanya tersenyum padanya.


Ara hanya terdiam, sambil memikirkan sesuatu.


Pantas saja waktu itu ia secara sengaja menjauhiku. Aku sudah mengerti sekarang permasalahan yang ia pendam selama ini, pikir Ara.


Ara mendelik ke arahnya, “oh … jadi, loe sengaja buat ngejauhin gue waktu itu, hah?” ucap Ara dengan sinis, Morgan hanya menatap Ara dengan tatapan datar.


Ara mendengus kesal ke arahnya, “terus, yang tadi ngejar-ngejar kita siapa? Kayaknya, gue gak asing sama laki-laki yang gue liat sekilas tadi,” tanya Ara.


Morgan tidak menghiraukan pertanyaan Ara, dan malah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


“Deg ....”


Ara yang melihat itu, merasa kalau jantungnya terpompa lagi. Ara melihatnya terbaring miring dengan tetap menghadap ke arah Ara, sembari membuka kedua lengannya, seakan menyuruh Ara untuk berbaring bersamanya.


Wajah Ara mulai panas kembali karena Ara mengerti tentang hal itu. Morgan memainkan jari telunjuknya ke arah Ara, seperti sedang mengajak Ara untuk tidur bersamanya.

__ADS_1


Suasana nampak canggung saat ini.


“Besok kita bicarain lagi, ya. Ayo, tidur sama saya,” ajaknya, membuat Ara membuang pandangannya karena merasa malu pada Morgan.


Ara pun membelakanginya.


“Loe duluan aja tidur! Gue gak ngantuk!” ucap Ara dengan ragu.


Ara takut hal-hal yang tidak ia inginkan akan terjadi lagi.


“Mau kamu sendiri yang ke sini, atau saya yang paksa kamu datang?” tanyanya dengan nada mengancam.


Spontan Ara pun menoleh ke arahnya.


“Ih! Apa-apaan sih loe? Gue gak mau ya diancem-ancem begini!!” bentak Ara, Morgan tersenyum melihat respon Ara yang kasar seperti biasanya.


“Makanya, sini dong,” ledeknya, jantung Ara mulai berdegup kencang lagi.


Ara tidak mengerti, kenapa efeknya bisa sampai sedalam ini? Padahal, ia bukan siapa-siapa. Bisa-bisanya ia merasakan getaran yang aneh ini.


Dengan ragu, Ara beranjak ke tempat Morgan berbaring, kemudian berbaring terlentang di sebelahnya, walaupun jaraknya masih terhitung cukup jauh.


Ara sangat kaku kalau harus tidur di dalam pelukannya.


“Kita mau tidur berpelukan atau bergandengan aja?” tanya Morgan, membuat Ara sangat malu.


Kenapa bisa ia tidak malu mengatakan hal demikian? Wajahku mungkin saja terus-menerus bersemu saat berhadapan dengannya, pikir Ara.


Ara spontan menoleh ke arahnya.


“Tuk ....”


Ara menyentil dahi Morgan dengan pelan.


Morgan menggosok dahinya, “duh ... kenapa?” rintihnya dengan nada yang manja, membuat Ara menjadi semakin malu untuk menampakkan wajahnya pada Morgan.


“Sadar, loe itu bukan siapa-siapa gue!” Ara berusaha tegas, membuatnya hanya terdiam.

__ADS_1


“Terus, kalau kamu bukan siapa-siapa saya, kenapa kamu mau tidur satu ranjang sama saya?” Morgan berusaha menggoda Ara, membuat Ara semakin malu jadinya.


__ADS_2