
Ara berpikir, apakah ada hubungannya dengan Aca dan kawan-kawannya?
Ara mendelik kembali, karena masih kurang yakin dengan tebakan yang ia tebak.
Tapi kalau itu semua ulah mereka, harusnya yang kakak lihat tadi berjumlah empat orang, karena jumlah anggota mereka memang ada empat. Aca, Jess, Yusfira dan juga Lisa, pikir Ara yang bimbang dengan keadaan.
Morgan segera menoleh ke arah Arash, “apa benar perempuan?” tanya Morgan yang masih berusaha untuk meyakinkan dirinya.
“Iya, walaupun saya lagi dalam keadaan tidak baik, tapi saya masih ingat kok kalau yang saya lihat itu perempuan, berjumlah tiga orang,” jawab Arash dengan tegas, membuat Ara dan Morgan sama-sama berpikir dengan kesimpulannya masing-masing.
Morgan lagi-lagi hanya bisa diam.
Ia mengeluarkan handphone-nya, dan seperti sedang menghubungi seseorang.
“Tuuuuuutt ....”
[Telepon terhubung]
“Halo, ini Morgan,” ucap Morgan sesaat setelah orang yang dituju menerima teleponnya.
“ ........................ ”
“Fla di rumah sakit dekat kampus. Saya sedang ada di sini sekarang. Tapi, gak lama lagi saya ada urusan, jadi, tolong cepat ke sini ya, tante,” ucap Morgan.
Ara mengerenyitkan dahinya, karena bingung saat Morgan menyebut orang yang ia telepon dengan sebutan ‘tante’.
“Terima kasih, maaf merepotkan. Saya tutup teleponnya,” ucap Morgan, lalu segera menutup teleponnya.
Morgan menatap ke arah Arash dan Ara, “mending kita pulang. Arash juga kelihatannya sudah kacau,” ucap Morgan sembari menatap Arash, membuat Ara bingung.
“Lho, nanti yang jaga Fla, siapa?” tanya Ara yang khawatir dengan keadaan Fla.
“Tadi saya sudah menghubungi ibu tiri saya. Seharusnya sih, dia sampai di sini sebentar lagi,” jawab Morgan, membuat Arash dan Ara berspekulasi sendiri tentang ucapan yang baru ia ucapkan.
‘Jadi, Morgan manggil ibu tirinya masih dengan sebutan tante,’ batin Ara.
Tiba-tiba saja, Arash teringat dengan ucapan Ara, tentang Jessline yang katanya adalah adik tiri dari Morgan. Hal itu membuat Arash semakin tidak bisa menerima kenyataan.
“Emm ... Gan, gue ngobrol sama loe,” ucap Arash membuat Morgan terdiam sejenak.
__ADS_1
Morgan memperhatikan sikap Arash yang sepertinya memang benar sedang mengalami masalah yang berat.
“Oke,” jawab Morgan.
Morgan pun menoleh ke arah Ara, “bisa mengemudi, kan?” tanya Morgan, membuat Ara menganga kaget.
“Hah?”
Morgan mengemudikan mobil Arash, sementara Ara mengemudikan mobil Morgan, membuat Ara nampak canggung dengan kemudi yang ia lihat saat ini.
Pasalnya, Ara sudah lama tidak mengemudikan mobil, sehingga ia merasa agak takut dengan keadaan.
“Duh ... gimana nih?” lirih Ara yang sangat bingung melihat kemudi yang ada di hadapannya.
“Apa pakai otomatis aja kali ya?” lirih Ara.
Ia berusaha menekan layar, tetapi layar itu seketika mati, dan terlihat di sudut kanan layar yang menandakan batrai yang sudah kosong, membuat mobil Morgan tidak bisa berjalan dengan otomatis lagi.
Ara mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya, merasa kesal dengan keadaan.
“Batrainya pakai habis segala!!” teriak Ara, yang kesal dengan keadaan yang sedang ia hadapi.
Morgan menoleh sesekali ke arah Arash, yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.
“Ada apa?” tanya Morgan, membuat Arash menghela napasnya.
Arash menoleh ke arah Morgan, “bokap loe nikah lagi?” tanya Arash.
Mendengar hal itu, Morgan hanya mengangguk kecil, karena ia sadar kalau ia tidak memberitahukan pada Arash tentang hal ini.
“Udah berapa lama?” tanya Arash lagi.
“Sudah lama. Tapi, gue baru tahu akhir-akhir ini aja. Mereka bahkan udah punya anak hasil dari pernikahan mereka,” jawab Morgan, membuat Arash menunduk.
‘Oh, Morgan punya adik lagi?’ batin Arash yang tidak percaya dengan keadaan.
Arash berpikir tentang ucapan Ara waktu itu, yang mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengenal Morgan sebagai sahabatnya. Arash merasa sedikit malu ketika Morgan mengatakan demikian.
‘Aku tidak tahu-menau soal sesuatu yang terjadi pada Morgan, apa aku masih layak disebut sahabat? Sampai aku meniduri adik tiri sahabatku sendiri. Kalau aku tahu tentang Jessline lebih awal, aku tidak akan pernah mau memberikan semuanya padanya,’ batin Arash seakan menyesal karena sudah mengenal Jessline sebagai sosok Monic, bukan sebagai Jessline yang merupakan adik tiri dari Morgan.
__ADS_1
Arash melihat Morgan kembali, “maksudnya, Jess?” tanya Arash, Morgan hanya menggelengkan kepalanya.
“Jess itu seusia Fla. Saat itu, ayah gue masih sama mama,” jawab Morgan, membuat Arash mengangguk-angguk kecil.
“Jadi, loe punya adik lagi?” tanya Arash.
“Ya.”
Arash membulatkan matanya, “kenapa loe gak cerita apa-apa sama gue?” tanya Arash, Morgan sesekali melirik ke arahnya.
“Gue juga baru tahu, saat pulang dari Jepang waktu itu,” ucap Morgan.
Arash tidak bisa menuntut Morgan begitu saja, karena dirinya yang mengakui juga tidak mengetahui kebenarannya.
“Siapa nama adik loe?” tanya Arash.
“Jessline, murni adik tiri gue, dan Lian adik kandung gue, hanya beda ibu aja. Dia udah SMP sekarang,” ucap Morgan, membuat Arash tercengang dengan kebenarannya.
Arash menunduk, “apa ... loe dekat dengan kedua adik loe yang lainnya, selain Fla?” tanya Arash, Morgan menggelengkan kepala.
“Mungkin karena bukan saudara, gue sama Jess gak dekat. Bahkan di rumah, gue sengaja cuekin dia, karena gue gak mau Fla merasa kalau gue udah berpaling ke Jessline. Tapi kalau ke Lian, kadang masih gue ajak jalan, sesekali kalau lagi senggang,” jelas Morgan, membuat Arash merenung.
“Gan ...,” pekik Arash lirih, Morgan melirik ke arahnya, “gimana rasanya punya adik tiri yang hanya berbeda ibu?” tanya Arash, membuat Morgan mendelik.
“Gleekk ....”
Tak sengaja Morgan menelan salivanya, karena tidak biasanya Arash bertanya seperti itu.
“Apa, ada masalah?” tanya Morgan, Arash lalu membuang pandangannya dari Morgan.
“Hanya bertanya,” jawab Arash lirih, ia menoleh ke arah Morgan, “apa yang loe lakuin kalau adik loe yang berbeda peranakan itu, minta sesuatu sama loe? Minta waktu loe seharian, buat jalan-jalan ngabisin waktu, dan di saat bersamaan adik kandung loe minta buat nemenin belanja atau sekedar ngantar dia ketemu teman-temannya seharian? Apa ... loe akan kasih waktu loe sepenuhnya buat adik bungsu loe? Atau justru loe akan kasih waktu loe buat Fla, adik kandung loe?” tanya Arash, yang membuat Morgan terkejut.
Morgan menepikan mobilnya, karena merasa tidak tahu harus menjawab apa.
Morgan menoleh ke arah Arash, “saya gak tahu harus milih siapa. Di satu sisi, Fla adalah adik kandung saya, dan di sisi lain, Liam adalah adik termuda, dan saya ... tidak ingin mengecewakannya. Biar bagaimanapun juga, saya gak mau dia ngerasa sedih, karena saya menolak permintaannya,” jelas Morgan dengan rinci, memberikan spekulasi tertentu untuk Arash yang sedang kalang-kabut itu.
Morgan memperhatikan ekspresi Arash.
‘Memangnya ada apa, sampai-sampai Arash bertanya demikian?’ batin Morgan, yang merasa janggal dengan pertanyaan Arash yang demikian.
__ADS_1
...***...