
Dicky menatapnya tajam, "Saya cuma mau kamu tuh melakukan sesuatu yang memang harus kamu lakukan. Bukan malah melakukan sesuatu yang gak harus kamu lakukan kayak begini, Gan. Kamu tuh punya segalanya! Coba deh, selama seminggu ke depan tolong kamu konsisten sama pekerjaan kamu yang lagi dikejar-kejar ini. Jangan sampai, hanya gara-gara masalah cewek, kamu jadi nggak konsen gini sama kerjaan. Ini deadline, Lho! Kamu harus selesai mengerjakan sebelum seminggu ini," ucap Dicky panjang lebar, yang membuat telinga Morgan menjadi pengang seketika.
Morgan kembali memandang ke arah hadapannya.
"Kuncinya ada di kamu. Kalau kamu mau dan nurut kata-kata saya buat sekarang ini, kamu pasti bisa kok lewatin ini semua. Yang perlu kamu lakukan cuma fokus sama kerjaan kamu aja. Masalah Ara, biar nanti saya yang bantu ngomong sama dia pelan-pelan," ucapnya menjelaskan panjang lebar, membuat Morgan sedikit tenang.
Morgan pun kembali mengambil alih mobilnya, dan kembali menyetirnya secara manual.
Ini sudah kali ketiga Ara mencoba menghubungi Morgan. Namun, Morgan sama sekali tidak mengangkat telepon darinya.
Ara mendelik, apa aku sudah membuatnya kecewa? Pikir Ara, yang masih bingung dengan kesalahannya.
"Arghh! Harusnya gue nggak terima telepon dari Hatake tadi!" geram Ara, yang menyesali perbuatannya.
Seharusnya, aku lebih dulu menghubungi Morgan. Kalau aku tahu dia sejak tadi sudah berada di depan rumahku, pasti aku tidak akan melewatkan kesempatan ini, pikir Ara yang masih kesal dengan keadaan.
Belum habis masalah Morgan, Ara sudah teringat masalah kakaknya. Pikirannya campur aduk, entah bagaimana ia bisa menumpukkan semuanya menjadi satu.
"Duh ... kakak mana lagi!" gumam Ara dengan lirih, kemudian melirik ke arah jam tangannya.
Sudah hampir pukul 12 malam, tapi belum ada tanda-tanda kakaknya untuk pulang.
Matanya mendelik, karena tiba-tiba saja sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Tanpa berpikir panjang, Ara segera menuju pagar untuk membukakan pintu untuknya.
Ara membuka pagar dengan segera, kemudian mobil itu segera masuk ke dalam garasi rumahnya. Masih belum terlihat jelas siapa yang ada di dalamnya, karena ada beberapa orang yang ia lihat dari luar kaca jendelanya.
Muncul seseorang yang menghampiri keberadaan Ara, yang Ara ketahui, dia adalah Ilham. Ara mendelik kaget, karena melihat Ilham yang saat ini berada di hadapannya.
"Selamat malam, Arasha," sapa Ilham, membuat Ara mendadak khawatir dengan kondisi Arash.
Kenapa yang datang hanya Kak Ilham saja? Pikir Ara.
Ara mendelik, "Lho, kok yang datang cuman Kak Ilham aja? Kak Arash mana?" tanya Ara yang mulai khawatir dengan keadaan Arash.
__ADS_1
Ilham memandangnya dengan tatapan tajam, "Tadi kami nggak sengaja minum terlalu banyak. Jadi Arash mabuk berat. Sekarang dia ada di mobil. Saya hanya mengantarkan Arash pulang," ucap Ilham menjelaskan, membuat Ara mendadak menjadi heran.
Ara mengangkat sebelah alisnya, "Lho kalau Kak Ilham bilang, kalian tadi mabuk, kenapa cuma kak Arash aja yang teler? Kenapa Kak Ilham juga nggak ikut teler?" tanya Ara dengan nada membidik.
Mendengar pertanyaan Ara, Ilham pun melontarkan senyum ke arah Ara.
"Kalau saya juga ikut mabuk, nanti siapa yang mengantar kami pulang?" tanya Ilham.
Pertanyaannya membuat diri Ara terjebak, dan tidak bisa menjawab apa pun.
"Ya udah, tolong bawa kakak ke kamarnya, ya," pinta Ara, Ilham pun kembali tersenyum padanya.
"Baik, Arasha," ucapnya.
Ilham pun kembali ke dalam mobilnya, untuk merangkul Arash, bersama dengan Rangga. Mereka menghampiri Ara secara perlahan. Melihat Arash yang sedang dipapah seperti itu, Ara menjadi sangat iba melihatnya.
Apakah mungkin ada masalah yang serius sampai kakak mabuk berat seperti ini? Pikir Ara, yang bingung dengan keadaan Arash.
"Kamarnya ke arah mana?" tanya Ilham.
Sesampainya di kamar, mereka merebahkan tubuh Arash di atas ranjang tidurnya.
"Ahh ...." lirih Ilham, sesaat setelah berhasil berhasil membaringkan tubuh Arash di atas ranjang.
Kini, suasana pun nampak rancu jadinya.
Ara melirik ke arah Ilham, yang ia ketahui sedang memakai jas yang ia berikan padanya. Hal itu, membuat Ara menjadi malu.
"Kalian menginap saja di sini. Di rumah ini gak ada laki-laki selain kakak. Aku bingung kalau sampai nanti kakak kenapa-napa," lirih Ara yang tak enak pada mereka.
Tapi kalau tidak seperti itu, Ara bingung harus meminta pertolongan kepada siapa jika nanti terjadi sesuatu pada kakaknya.
Ilham tersenyum, "Ya, baiklah. Berhubung besok adalah hari weekend, jadi tidak masalah jika menginap semalam di sini," jawab Ilham teriring dengan senyumannya.
__ADS_1
Memang Ilham sangat senang jika bisa menginap di rumah Arash, karena itu bisa membuat dirinya bisa semakin dekat dengan Arasha.
'Tak disangka, dia malah nyuruh kita menginap di sini,' batin Ilham yang sangat senang mendengar permintaan Ara.
"Ya ... boleh deh. Lagian juga ini sudah terlalu malam," jawab Rangga, yang menyetujui permintaan Ara, membuat Ara tersenyum ke arah mereka.
"Makasih," lirih Ara, membuat Rangga dan Ilham tersenyum dibuatnya.
"Oh ya, Ares mana?" tanya Ilham, yang tiba-tiba saja teringat dengan Ares.
"Oh, Ares udah tidur, Kak," jawab Ara, membuat Ilham mengangguk kecil.
Suasana pun mendadak rancu. Ilham yang menyadarinya, langsung mencari topik pembicaraan.
"Ya sudah, kami mau ngurusin Arash dulu untuk ganti baju," ucap Ilham tiba-tiba.
Ara menangkap sinyal yang seperti menyuruhnya untuk keluar dari ruangan ini.
"Oh oke, Kak. Aku tunggu di ruang makan ya. Aku juga sekalian mau nyiapin makanan," pamit Ara.
Mereka pun mengangguk setuju, dan kemudian Ara pun langsung meninggalkan ruangan ini, untuk menuju ruang makan untuk sekadar memasakkan makanan cepat saji untuk mereka yang sudah menolong Arash.
Anggap saja ini sebagai permintaan terima kasih aku pada mereka, pikir Ara sembari tetap melangkah menuju dapur.
Ara pun memulai aktifitasnya untuk memasakkan makanan untuk Ilham dan juga Rangga. Perlahan, Ara mencelupkan beberapa potong sosis yang sudah ia potong menjadi beberapa bagian kecil, sebelumnya.
Dengan asyiknya, Ara membolak-balikkan sosis itu menggunakan spatula yang ia pegang, sembari memutar lagu kesukaannya dari grup band Westlife berjudul My love.
Dengan merdunya lantunan lagu itu terdengar di telinga Ara, membuat hatinya merasa sedikit tentram.
"Dringgg ...."
Handphone Ara tiba-tiba saja berdering, saat ia sedang asyik memasak. Ara pun melirik ke arah layar handphone-nya, untuk melihat siapa yang malam-malam menelepon.
__ADS_1
Ara mengerenyitkan dahinya, "Fla nelepon, kenapa ya?" lirih Ara merasa heran, kemudian segera mengangkat makanan yang sudah matang itu, kemudian mematikan kompor dan mengangkat telepon dari Fla.