
Di tangannya, Morgan terlihat memegang baju ganti, yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ia mengambil baju itu dari mobilnya.
Morgan bergegas menuju kamar mandi utama, dan membuka pintu kamar mandi.
“Ckrek ….”
Morgan menemukan sedikit kesulitan saat membuka pintu itu. Pintunya sama sekali tidak mau terbuka, entah seperti apa maksudnya.
“Duh, pintunya rusak atau gimana ya?” lirih Morgan yang kebingungan, namun masih tetap berusaha untuk membuka paksa pintu tersebut.
“Ckrek ….”
“Ckrek ….”
“Ckrek ….”
Morgan masih saja membuka pintunya dengan paksa, namun sayang sekali, usahanya itu sungguh sia-sia. Pintu itu tidak kunjung terbuka.
“Duhh ...,” lirih Morgan yang agak kesal dengan pintu usang ini, yang tidak bisa dibuka sejak tadi.
Sia-sia saja aku mencoba membukanya, pikir Morgan yang sudah kesal.
Morgan terdiam sejenak, “kalau didobrak, nanti Ara marah. Dan pintunya gak akan bisa dikunci lagi,” lirih Morgan yang sedang berpikir.
Aku tidak ingin membuat satu kesalahan malam ini, pikir Morgan, yang berpikir keras tentang jawaban dari masalahnya.
“Aws ….”
Berpikir terlalu keras, ternyata berpengaruh pada rasa sakit di kepalanya yang masih terasa sampai sekarang. Beruntung darahnya sudah berhenti sejak diberikan pertolongan pertama tadi.
“Ah ….”
Akhirnya Morgan menemukan jalan lain.
“Apa pinjam kamar mandi Ara aja?” lirih Morgan, yang tanpa basa-basi langsung menuju ke kamar Ara, untuk meminjam kamar mandinya.
“Ckleekk ....”
Morgan membuka pintu kamar Ara dengan perlahan.
Di atas ranjang tidurnya, terlihat wajah polos Ara yang sedang tertidur pulas, membuat Morgan menjadi lebih tertarik padanya.
“Gak sabar mau manja-manjaan sama kamu,” lirih Morgan.
Perlahan, Morgan pun menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan tubuhnya.
...***...
Morgan sudah selesai untuk membersihkan tubuhnya. Kini, tubuhnya terasa sangat segar dari sebelumnya.
Morgan mengusap-usap dengan pelan, rambutnya yang masih basah, dengan handuk kecil yang tadi ia ambil dari mobilnya.
Morgan melihat ke arah Ara, yang nyenyak sekali tidurnya.
__ADS_1
Morgan jadi tidak enak jika mengganggu istirahatnya.
“Dringg ....”
Handphone Ara seketika berdering. Morgan hanya bisa menunggu deringnya berhenti. Tapi, sudah beberapa saat berlalu, deringnya tidak kunjung berhenti.
Morgan menjadi sedikit penasaran dengan handphone-nya yang tidak berhenti berdering itu.
Morgan mendekati Ara dan duduk di pinggir ranjangnya. Ia mencoba meraih handphone yang ada di atas kepala Ara.
Tertera nama Rafa di sana.
‘Mungkin penting?’ pikir Morgan.
Morgan pun mengangkat video call dari Rafa.
...-VIDEO CALL-...
“Halo Ra, penting, pokoknya penting banget! Loe harus dengerin!” Ia mengoceh panjang lebar.
Morgan hanya memperhatikannya saja, hingga Rafa tersadar, dan terlihat sangat malu ketika melihat wajah Morgan.
Morgan memandangnya dengan datar, “ada apa?” tanya Morgan, membuat Rafa menyeringai.
“Eh … Pak Morgan. Kok bapak yang angkat?” tanyanya.
Mungkin dia bingung. Wajar saja, pikir Morgan.
Melihat respon Rafa yang seperti itu, membuat Morgan sadar, karena ia baru saja mandi dan masih memakai handuk kecil di atas kepalanya. Morgan buru-buru meletakkan handuk itu.
“Oh, emm ... selamat bersenang-senang, Pak Morgan,” ucap Rafa, yang sepertinya sudah salah paham dengan Morgan.
Morgan mendelik, “eh, Rafa, tunggu ... ini tuh--”
“Tuutt ... tuutt ....”
Rafa memutuskan telepon mereka dengan sangat cepat.
Tanpa sadar, aku sudah membuatnya salah paham. Mungkin dia mengira aku sedang melakukan sesuatu dengan Ara, pikir Morgan.
Morgan cukup kesal dengan memandang handphone Ara. Tak disangka, ia menemukan kejadian semacam ini.
“Anak zaman sekarang, kenapa gak ada yang mau dengerin penjelasan dulu baru menyimpulkan?” lirih Morgan dengan sangat kesal.
Morgan hanya memandang sendu handphone Ara.
“Dring ....”
Handphone Ara tiba-tiba saja berdering kembali.
Morgan membaca nama yang tertera di layar. Ternyata, di sana tertera nama Bisma.
Morgan mendelik, rasanya hatinya saat ini terasa sakit sekali, saat mengetahui bahwa Bisma masih saja mencoba menghubungi Ara.
__ADS_1
Melihat hal ini, membuat aku jadi tidak mood sekarang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku angkat, atau aku harus diam? Pikir Morgan.
Ara tiba-tiba saja tersadar dan terbangun dari tidurnya, ketika mendengar suara dering handphone-nya.
Morgan gugup sekali, karena dirinya yang masih bertelanjang dada. Ara melihat Morgan dengan tatapan yang sangat kaget.
“Ahh … ngapain kamu di sini!” teriaknya.
Morgan bingung harus bagaimana.
Berada di posisiku memang serba salah, pikir Morgan.
Ara menutup wajahnya dengan selimut, “pergi!” Ia melempar bantal ke arah wajah Morgan.
Lumayan sakit, karena kepalanya yang belum sembuh, membuatnya merasa sangat kesakitan walau hanya terkena sedikit saja benturan. Tapi Morgan berusaha untuk menahan sakitnya.
“Dih diem aja lagi!” bentak Ara.
Ia melemparkan satu bantalnya lagi, dan tepat mengenai wajah Morgan.
“Awss ...,” rintih Morgan dengan ekspresi yang datar.
Kepalaku masih sakit, aku tidak bisa diam saja, pikir Morgan.
“STOP ... STOP!” bentak Morgan padanya.
Ara menghentikan semua aktifitasnya, membuat Morgan memandangnya dengan tatapan malas.
Morgan mengambil bantal yang berjatuhan di atas lantai, lalu meletakkannya kembali di atas ranjangnya.
Morgan bergegas memakai kaos panjang yang sudah ia siapkan sebelumnya. Karena Morgan sudah memakai celana panjang, jadi ia tidak perlu lagi memakai celana di hadapan Ara.
Morgan menatap Ara dengan tatapan yang kesal dan datar.
Ara sangat terusik dengan tatapan Morgan, “kenapa kamu ngeliatin aku gitu sih?” tanya Ara dengan nada yang terdengar imut, membuat emosi Morgan agak mereda.
‘Huft … kenapa saya gak bisa marah sedikit sama dia? Padahal jelas-jelas saya kesal karena laki-laki itu terus-menerus menghubungi dia!’ batin Morgan kesal.
Morgan mendelik, “pertama, saya bukan mau apa-apain kamu. Kedua, saya baru selesai mandi di kamar mandi kamu, karena kamar mandi utama agak macet pintunya. Ketiga, saya ngedeketin kamu karena tadi handphone kamu bunyi. Keempat, saya sudah siapin hadiah istimewa buat kamu. Kelima, saya kesal, karena ada masa lalu kamu yang mencoba menghubungi kamu terus,” jelas Morgan panjang lebar, yang seperti sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Wajah Ara tampak tegang, tapi Morgan sama sekali tidak mempedulikannya.
Morgan masih sedikit kesal dengan kejadian tadi. Tapi, ia berusaha sabar di hadapan Ara.
“Aku sama sekali gak paham sama yang kamu maksud, Gan,” lirih Ara yang memang terlihat jelas kebingungan di wajahnya.
Apa aku harus berkata sejujurnya tentang masalah laki-laki yang tidak ingin aku sebut namanya lagi itu? Pikir Morgan.
“Hmm ....”
Morgan berusaha mencoba mengatur napasnya, untuk mempersiapkan jawaban yang akan ia berikan pada Ara.
Morgan mendelik, “Bisma mencoba untuk menghubungi kamu tadi, saat kamu tidur.”
__ADS_1