
Morgan membolakan matanya, ‘baguslah kalo dia sadar diri,’ batin Morgan.
“Situasi yang gak memungkinkan itu hanya bisa gue rasain sendiri, tanpa teman. Tanpa adanya orang yang mau sekadar dengar curhatan gue. Dan saat itu, pertama kalinya gue ngeliat loe nganter kak Putri pulang ke rumah. Gue cuma bisa mandang loe dari kejauhan. Ternyata, gue jatuh cinta pandangan pertama sama loe saat itu. Setiap kali loe ke rumah, gue cuma bisa ngeliat loe dari balik pintu rumah. Gak ada yang bisa gue lakuin,” tambahnya.
Memang terdengar agak miris. Tapi, semua yang dia ceritakan padaku tadi, sama sekali tidak aku ketahui, pikir Morgan.
“Apa loe gak tau, seberapa besar cinta gue sama loe, sampai-sampai gue lakuin ini ke loe, Gan?” tanya Farha, membuat Morgan menghela napasnya dengan panjang.
“Far, cintanya tidak salah. Yang salah itu, cara kamu mencintai orang yang kamu cinta. Padahal sejak awal kamu tahu, saya sudah bersama dengan kakak kamu, walaupun saya belum sempat menjalin cinta dengan Putri, tapi setidaknya saya hampir bisa mendapatkan Putri. Perlu kamu ingat, saya tidak pernah memandang Putri dari fisiknya. Saya mencintai Putri, karena dia adalah Putri, bukan karena kecantikan atau segala hal lainnya,” lirih Morgan, membuat Farha mendelik tak percaya dengan yang Morgan ucapkan.
Perkataan Morgan membuat genangan air baru pada pelupuk mata Farha, sehingga Farha kalut dalam keadaan yang tidak menguntungkan dirinya ini.
Farha menunduk, saking malunya ia terhadap Morgan, yang sudah berkata demikian. Saat ini, dirinya tidak lebih dari sekedar sampah, yang terlalu memaksakan kehendak dan perasaan, pada orang yang sama sekali tidak mencintai dirinya.
Morgan menatap wajah Farha yang terhalang dengan rambutnya, yang kini sudah basah akibat air matanya.
Morgan menghela napas panjang karena ia mulai merasa iba lagi dengan keadaan Farha yang baginya sangat menyedihkan.
Dengan perasaan ragu, sebenarnya Morgan tidak ingin untuk melakukannya, tapi ....
Ah sudahlah, pikir Morgan.
Morgan membuang semua rasa egoisnya, dan menghapus air mata Farha dengan tangannya. Farha mendelik, seperti tidak percaya dengan yang Morgan lakukan.
Farha menoleh, memandang ke arah Morgan, lebih dari 7 detik sebelum ia kembali sadar, dan kini wajahnya sudah berubah warna menjadi merah tomat.
“Semua yang kamu bilang tadi, saya gak tahu sama sekali. Saya minta maaf kalau saya membuat kamu resah, itu semua di luar dari pengetahuan saya,” Morgan berusaha membela dirinya.
Aku tidak ingin ia terus-menerus mengeluh, apalagi sampai menyalahkan diriku, pikir Morgan.
Tapi yang namanya wanita, jelas tidak akan mau kalah dengan lawan bicaranya. Farha masih tidak mengerti dengan Morgan yang masih bersikap sangat baik padanya, padahal ia sudah sangat mengganggu Morgan.
Farha berusaha memutar otak, untuk mencari-cari topik, agar dirinya bisa bercengkerama lebih lama dengan Morgan. Dan juga semoga itu bisa membuat Morgan luluh, dan menerima dirinya sebagai kekasihnya.
“Loe gak tahu kan? Jam yang kak Putri kasih waktu itu, adalah jam pilihan gue?” tanyanya membuat Morgan sedikit tercengang.
Morgan hanya menggeleng kecil ke arahnya.
__ADS_1
“Kak Putri minta gue untuk pilihin kado untuk loe. Karena dia sama sekali gak tahu, kado apa yang bagus untuk laki-laki. Dia gak pernah ngasih kado apa pun ke cowok. Dan gua sadar, kedudukan loe di hatinya kak Putri, sangat berarti pada saat itu,” ucap Farha membuat Morgan terdiam sendu.
Mendengar perkataan Farha, membuat Morgan kembali mengingat Putri yang sudah lama meninggalkannya itu.
‘Apa sangat penting diri ini di hati Putri kala itu? Tapi, sikapnya tak mencerminkan dengan perlakuannya yang terus mengulurku waktu itu,’ batin Morgan.
Farha mendelik, “tapi gue gak nyangka, loe malah ngebunuh kakak gue dengan begitu tragis!” ucapan Farha kali ini membuat Morgan mendelik, dan tiba-tiba saja ketakutan pada masa itu terbayang lagi di benak Morgan.
Morgan memegang kepalanya yang sudah terasa sangat sakit, akibat flashback saat-saat ia kehilangan Putri dari kehidupannya.
“STOP FARHA!” bentak Morgan menyambar setelah Farha selesai berbicara.
Ketakutan Morgan terjadi, karena Farha yang tiba-tiba saja menyalahkannya atas kematian Putri, yang Morgan sendiri pun tidak tahu. Farha sama sekali tidak mengerti dengan keadaan pada saat itu.
“Saya sudah peringatkan kamu untuk tidak melebihi batas! Jangan pernah menyalahkan saya atas masalah yang sama sekali kamu gak tahu!” bentak Morgan kembali padanya.
Morgan menatapnya dengan tajam, begitu pun sebaliknya. Morgan bergerak mundur dan menariknya dengan kasar.
“Aws ...,” rintih Farha.
Morgan membuka pintu kamar, dan segera pergi menuju pintu keluar.
Aku bingung dengan tujuanku saat ini. Aku pun tidak sanggup untuk menyetir lagi meninggalkan rumah Ara, pikir Morgan.
Dengan keterbatasan keadaan, akhirnya Morgan memutuskan untuk kembali ke rumah Ara.
“Brakk ....”
“Awwss ....”
Morgan merintih kesakitan karena ia tak sengaja menabrak sofa dan akhirnya terjatuh di lantai.
Tak lama kemudian, terdengar suara Ara dari kejauhan yang berusaha mendekati Morgan. Morgan menurut dengannya, dan Ara pun membawa Morgan ke atas sofa.
...-FLASHBACK OFF-...
...***...
__ADS_1
Perlahan Ara membuka matanya yang sangat berat. Ia melihat Fla dan kawan-kawan yang lain memandang ke arahnya yang sedang tertidur bersama Morgan, yang saat ini sedang berada di sebelahnya.
Ara terkejut, dan segera bangkit karena malu menjadi bahan tontonan mereka.
“Tuan putri udah bangun ....” ledek Fla.
Ara berusaha membenarkan pakaian yang ia kenakan.
“Mmm ... pantesan semalem dicari-cari gak ada, gak taunya ada di sini sama Pak Morgan,” ledek Rafa, dengan tampang yang tidak enak dipandang.
Ara pun membalas tatapannya dengan tatapan yang tak kalah sengit.
“Apa loe ...,” tantang Ara, Rafa hanya tertawa kecil melihat ekspresi Ara yang sangat lucu baginya.
“Oh … Kak Morgan gak pulang ke rumah waktu itu, apa jangan-jangan dia pulang ke sini?” tanya Fla tiba-tiba.
Ara berusaha menahan diri, agar tidak gugup saat menjawab pertanyaan dari Fla.
Ara mendelik, “enggak kok!” bantahnya dengan spontan.
“Gak usah boong dong, Ra,” tekan Ray.
“Kan gue waktu itu nyariin Morgan ke Fla, kok gue jadi dituduh begini sih? tanya Ara dengan panik.
Tanpa disadari, Ara sudah mulai terpancing dengan ucapan mereka.
“Eh … udah-udah gak usah pada ribut,” ucap Rafael menengahi.
Ara sudah terlanjur kesal pada mereka.
Tiba-tiba saja, Ara ingat akan satu hal ….
Ara mendelik, “lho ... Farha mana?” tanya Ara yang baru sadar, karena Farha tidak ada di sini.
Mereka seperti saling melempar pandangan ketika mendengar pertanyaan Ara.
...***...
__ADS_1