Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Week End Telah Tiba


__ADS_3

Pagi itu, Ilham membuka matanya dengan sangat berat karena dirinya yang semalaman lembur, demi mengerjakan proyek berikutnya. Beruntung, sekarang adalah week end, ia jadi bisa bermanja-manja bersama istri tercintanya.


Ilham merenggangkan seluruh tubuhnya, dengan perlahan melihat ke arah jam dinding yang ada di dinding kamarnya.


Pukul lima pagi.


Ilham menoleh ke arah sebelahnya, dan tidak menemukan Ara sama sekali.


"Sayang ...," pekik Ilham, yang sedikit khawatir dengan keberadaan istri tercintanya.


Ilham pun bangkit, dan duduk sebentar di pinggir ranjang. Ia melemaskan otot lehernya yang terasa menegang, karena dipaksa harus menatap terlalu lama ke arah laptop.


Ia memakai sandal ruangan, lalu mencari keberadaan istrinya. Ia membuka pintu kamar mandi, dan yang ia cari pun tidak ada di sana.


"Sayang ... kamu di mana?" pekik Ilham lagi, sembari berjalan ke arah pintu kamarnya, lalu melihat ke arah dapur untuk memastikan keberadaannya.


Ternyata, Ara memang sedang berada di dapur. Ia terlihat sedang memasak sesuatu yang nampak enak.


Ilham memandangnya dengan sangat gemas, 'Istriku ternyata sedang bikin surprise,' batin Ilham, yang sangat senang dengan inisiatif Ara yang sangat tinggi itu.


Perlahan, Ilham melangkah ke arahnya, tak membiarkan suara jejak kaki terdengar. Ia berjalan dengan sangat hati-hati.


"Hug ...."


Ilham memeluk Ara dari belakang dengan sangat lembut, membenamkan wajahnya pada punggung Ara yang lebih rendah dari wajahnya itu.


"Sayang ...," gumam Ara yang agak kaget dengan serangan fajar yang tiba-tiba saja seperti ini.


Ilham tersenyum, karena merasa sangat nyaman memeluk Ara seperti ini.


"Selamat pagi, malaikat terindahnya aku," sapa Ilham, membuat wajah Ara seketika memerah mendengar kalimat yang Ilham ucapkan.


Ara merasa sangat tersanjung dengan ucapan Ilham yang ia dengar tadi. Ia merasa dirinya sangat berharga, dengan hal-hal kecil yang selalu Ilham lakukan untuknya.


"Selamat pagi juga, ksatria berkuda terkuatnya aku," sapa Ara juga, berusaha untuk mengimbangi hal manis yang Ilham lontarkan untuknya.


Ara meniriskan minyak goreng, kemudian mengangkat masakan yang sudah matang itu, dengan keadaan Ilham yang masih bermanja-manja memeluknya. Ara berjalan pelan ke arah meja makan, dibarengi dengan Ilham yang masih mengekor di belakangnya.


Ara pun berbalik menghadap ke arah Ilham. Ia memandang lembut wajah Ilham yang terlihat sangat kacau, efek lembur semalam. Namun, selarut apa pun Ilham tidur, ia tetap akan bangun pada pukul lima pagi. Sama seperti Arash.


"Kamu kan baru tidur dua jam, kok udah bangun sih?" tanya Ara teriring senyuman, membuat Ilham tersenyum juga ke arahnya.

__ADS_1


"Gak kuat tidur lama-lama. Aku gak mau habiskan waktu aku untuk tidur, yang ada nanti waktu bersama kamu di Sabtu ceria ini, berkurang deh," jawab Ilham, yang terasa seperti sebuah gombalan.


Ara menafikan pandangannya, "Gombal," umpatnya teriring senyum, membuat Ilham memegang pipi Ara dengan kedua tangannya.


"Itu untuk yang belum menikah. Kalau yang sudah menikah namanya bukan gombal," ujar Ilham, membuat Ara mengerenyit.


"Hah, beda ya? Memangnya apa?" tanya Ara yang penasaran dengan ucapan yang Ilham ucapkan.


"Gembel," jawab Ilham, membuat Ara sedikit kesal dengannya.


Ara mencubit pelan perut Ilham, membuat Ilham seperti kesakitan dibuatnya, padahal Ilham tidak merasa demikian.


"Gak jelas," gumam Ara lirih, membuat Ilham menyeringai.


Ilham menatap Ara dengan dalam, "Kiss morning?" ujar Ilham, membuat wajah Ara seketika memerah.


Entah mengapa, walaupun sudah sering melakukan itu bersama Ilham, Ara masih saja merasa malu dengannya.


"Gak mau!" tolak Ara, membuat Ilham mengerenyitkan dahinya.


"Kok gak mau?" tanya Ilham dengan nada pasrah.


"Kamu belum mandi, belum sikat gigi," jawab Ara, membuat Ilham terdiam sejenak.


"Suamimu ini bau, ya?" tanya Ilham dengan nada pasrah.


"Pake nanya pula," jawab Ara, membuat Ilham menjadi gemas mendengar jawabannya.


"Kamu mau ada yang dimasak lagi gak? Mau aku bantu?" tanya Ilham, membuat Ara memandangnya dengan tatapan malas.


"Telat, udah selesai semuanya," jawab Ara dengan nada malas, yang lagi-lagi membuat Ilham menyeringai.


"Ya udah, aku mandi dulu ya sayang," ucap Ilham, yang mendapatkan anggukan kecil dari Ara.


...***...


Setelah selesai Ilham mandi, ia pun menghampiri Ara yang sudah siap menunggunya di meja makan. Dengan lembut, Ilham menyergap Ara dari belakang, membuat Ara lagi-lagi harus kaget mengetahuinya.


"Ih, kaget tahu!" bentak Ara gemas dengan Ilham, yang selalu mengagetkannya.


"Cupp ...."

__ADS_1


Satu kecupan singkat, mendarat di pipi Ara, membuat Ara merona dibuatnya.


Ara mendelik kaget, "Dasar curang!" gumam Ara, yang tanpa basa-basi lalu menarik Ilham untuk mendekat, dan segera mencium bibirnya.


Ilham sangat terkejut dengan respon istrinya yang sangat cepat, membuat Ilham mendadak gemetar jadinya.


Ara melepaskan ciumannya, tetapi Ilham tak membiarkan ia untuk melepaskan itu. Sejenak bibir mereka pun menyatu, dalam hangatnya cumbuan mesra di pagi hari.


Karena merasa sudah sangat sesak, Ara pun berusaha melepaskan diri dari ciuman Ilham itu, membuatnya harus terus menghela napasnya dengan panjang.


Ara menatap tajam ke arah Ilham, "Ganas banget sih," gumam Ara, membuat Ilham menyeringai sembari menunjukkan dua jarinya membentuk lambang peace.


Ilham pun duduk di sebelah Ara, dan segera membalikkan piring yang sudah tersedia di hadapannya.


"Hari ini masak apa, sayang?" tanya Ilham, Ara hanya fokus untuk mengambilkan nasi untuk Ilham.


"Hari ini spesial aku masak untuk kamu," jawab Ara, membuat Ilham menjadi sumringah.


"Yes ... istriku memang paling the--"


"Tapi bantuin aku cuci piring setelah itu," pangkas Ara, membuat Ilham terdiam mendengar ucapannya.


"Gak jadi the best deh," gumam Ilham dengan tatapan pasrah memandang ke arah Ara.


Ara pun hanya menyeringai, melihat ekspresi Ilham yang sangat lucu baginya.


"Yuk makan," ajak Ara, membuat Ilham mengangguk kecil.


Ilham pun mencicipi masakan buatan istrinya tercinta itu. Dengan mata yang terbuka dan tertutup secara cepat, Ilham hanya bisa geleng-geleng kepala mencicipi masakan istrinya yang sangat pas dengan seleranya itu.


Ara memandangnya dengan senang, "Gimana?" tanya Ara, Ilham mengacungkan dua jempol ke arah Ara, membuat Ara tertawa kecil melihatnya.


Mereka pun melanjutkan makan secara hikmat, karena makanan yang Ara buat kali ini, benar-benar sangat cocok dengan selera Ilham.


Setelah selesai makan, Ara pun merapikan perkakas masak yang sudah ia pakai untuk memasak tadi.


"Sayang, tolong bawain piringnya ke sini, ya. Terus langsung dicuci," pinta Ara, membuat Ilham lekas bangkit dari tempatnya.


"Siap istriku," jawab Ilham dengan penuh kelembutan.


Ilham pun menumpukkan piring-piring kotor sisa mereka makan kali ini.

__ADS_1


"Plukk ...."


__ADS_2