Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Asa Yang Putus


__ADS_3

Sore itu, Fla sedang merenungkan diri di dalam kamarnya.


Seharian ini, ia sama sekali tidak bisa membedakan, antara senang ataupun sedih, yang melandanya saat ini. Sudah beberapa hari ini, Fla selalu memikirkan tentang Arash yang sudah ia cinta itu.


Mengingat ucapan Jessline yang sangat membuat perasaannya hancur, Fla hanya bisa pasrah, dengan perasaan yang ia miliki saat ini.


Fla slalu menyalahkan dirinya, yang secara tidak langsung sudah membuat dua orang sekaligus milik Jessline, menjadi beralih padanya.


Tapi, itu semua bukan kemauan Fla.


Bisma yang sudah sengaja menggodanya, seperti saat Bisma yang waktu itu sudah menggoda Ara dari Morgan. Hal itu cukup membuat Fla risih, karena Bisma yang terlalu berobsesi mengejar-ngejar dirinya.


Namun saat ini, bukan Arash lah yang mengejar Fla, melainkan dirinya yang memang sudah mulai jatuh hati pada Arash.


"Kalau aja aku tahu lebih awal, tentang Jessline dan juga Arash, semua pasti gak akan jadi terlanjur seperti ini ...," gumam Fla yang sudah tidak punya harapan dan kesempatan lagi.


Butuh waktu yang lama, untuk Fla bisa melupakan pria yang ia suka. Karena, Fla yang memang sudah lama tidak membuka hatinya, dan sekarang ketika ia membuka hati, ia sudah tidak bisa menutupnya dengan cepat.


"Gue harus gimana?" gumam Fla, yang merasa berada di titik terendahnya.


"Tok ... tok ... tok ...."


Seseorang mengetuk pintu kamar Fla, membuat Fla buru-buru menghapus air matanya yang sudah membasahi seluruh wajahnya.


Kiranya dirasa cukup, Fla segera mempersiapkan dirinya.


"Masuk," pekik Fla.


Seseorang pun datang dari balik pintu, dan segera menutup kembali pintu itu.


"Brukk ...."


Fla memandangnya dengan tatapan biasa, seolah tidak terjadi apa pun padanya.


"Ada apa?" tanya Morgan, yang datang dari balik pintu.


Fla menunduk, merasa sangat sungkan untuk mencurahkan isi hatinya, walaupun kepada kakak kandungnya sendiri.


Morgan beranjak, dan duduk di sebelah Fla yang sedang meringkuk di sudut ranjang.

__ADS_1


Morgan menoleh ke arah Fla, "ada apa, Fla? Sepertinya kamu punya masalah," tanya Morgan, membuat Fla membenamkan wajahnya pada kedua lengan yang ia letakkan di atas lututnya.


"I'm okay," lirih Fla, membuat Morgan terdiam menatapnya.


"Sudah beberapa hari belakangan ini, kamu selalu murung. Entah apa yang kamu pikirkan. Nilai pun, sepertinya menurun drastis dari tengah semester kemarin," ucap Morgan, membuat Fla menoleh ke arahnya.


"Dari mana kakak tau kalau nilai aku menurun?" tanya Fla yang tak terima dengan ucapan Morgan.


"Ada sedikit bocoran. Lagipula, kakak yang mengurus semua nilai mahasiswa," ucap Morgan, membuat Fla lupa akan hal itu.


Fla lupa, kalau kakaknya adalah dosen di kampusnya.


Fla kembali membenamkan wajahnya, membuat Morgan merasa sendu melihatnya.


"Kakak bisa jaga rahasia, jika kamu perlu teman bicara," ucap Morgan, membuat Fla berpikir.


Fla juga tidak boleh terus-menerus seperti ini.


'Mungkin dengan sedikit bercerita, bisa membuat hati ini tenang,' batin Fla, yang sudah mulai terbuka pikirannya.


"Huft ...."


"Salah gak sih, aku jatuh cinta?" tanya Fla, membuat Morgan mengerti pangkal permasalahannya.


Morgan memandang lekat adiknya itu, "jatuh cinta gak salah. Yang salah itu, nilai kamu, kenapa bisa turun drastis seperti itu?" tanya Morgan, membuat Fla sendu.


"Aku juga gak tau, kenapa nilai aku bisa turun. Mungkin karena ... aku mikirin ini terus," ucap Fla, membuat Morgan melontarkan senyuman.


"Memangnya, ada apa dengan dia? Bukannya, kalau jatuh cinta itu indah? Kenapa kamu malah murung seperti ini?" tanya Morgan, berusaha mengorek informasi dari adiknya ini.


"Ya, jatuh cinta itu indah rasanya. Tapi, kalau jatuh cinta sama kekasih orang lain, benar-benar sesak rasanya," jawab Fla, dengan nada yang sangat sendu.


Morgan semakin mengerti kali ini. Adiknya kini sedang mengalami dilematik.


Wajar saja sih, semua orang yang mengalaminya, pasti akan merasakan hal yang sama dengan yang Fla rasakan.


Cinta tak terbalas, karena dia sudah ada yang punya. Terlebih lagi, dia adalah kekasih dari Jessline, yang merupakan kakak tirinya sendiri.


Bayangkan saja, betapa hancurnya hati Fla saat ini.

__ADS_1


Morgan mendekat ke arah Fla, "selama janur kuning belum melengkung, kamu masih bisa nikung!" ucap Morgan, membuat Fla mendelik kaget dengan yang kakaknya ucapkan.


Terlihat satu sinar di mata Fla. Sepertinya, Fla sudah mengerti dengan prinsip percintaan.


"Kalau sudah siap jatuh cinta, ya harus siap tersakiti. Tapi, selama janur kuning belum melengkung, masih bisa kamu kejar," tambah Morgan, semakin membuat Fla mendelikkan matanya.


'Itu semua juga berlaku untuk saya. Selama saya belum mengikat Ara, masih banyak kemungkinan saingan akan terus berdatangan. Saya juga tidak munafik, yang namanya kesal pasti ada. Tinggal memilih dan menentukan, ingin putus atau terus,' batin Morgan, yang menyadari tentang hubungannya juga, yang masih rancu itu.


...***...


Sudah beberapa hari ini Jessline memblokir seluruh akses komunikasi dengan Arash, membuat rasa sakit hati Arash semakin menggebu.


Memang dasar Arash, yang terus-menerus datang dan menenggak banyak alkohol, untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya.


Itu semua memang bisa menghilangkan rasa sakit sementara, tapi itu cukup membuat Arash merasa lega dengan permasalahan yang ada.


'Apa saya memang benar harus melupakan Jessline?' batin Arash yang sedang kacau saat ini.


Ia menuang alkohol pada gelas keenamnya, kemudian menenggak sekaligus alkohol yang ada di gelasnya itu.


'Bagaimana dengan Fla? Sepertinya ... dia menyukai saya. Terlihat jelas dari gerak-geriknya,' batin Arash yang mempertimbangkan permasalahannya itu.


Seorang wanita mengintai dari kejauhan, ke arah Arash yang memang sudah setengah mabuk itu di meja bar. Ia menghampiri Arash, dengan dandanan yang sangat menggoda.


Wanita itu melingkarkan tangannya di bahu Arash, "halo ganteng ... mau ditemenin, gak?" tanya wanita misterius itu, membuat Arash menoleh dengan setengah teler ke arahnya.


Melihat ada seekor ikan segar di hadapannya, Arash segera melontarkan senyum nakalnya. Dengan keadaan yang sudah setengah mabuk, Arash merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya, dan mendudukkan dirinya di paha Arash.


"Temani saya," lirih Arash.


Wanita itu tak sengaja melihat kalung yang bersinar di leher Arash, membuatnya penasaran dengan kalung itu.


"Kalungnya bagus, saya jadi tertarik memilikinya," ucap wanita itu, membuat Arash menggenggam erat kalung yang ia pakai itu.


Arash tersenyum, karena teringat Fla yang sudah memberikannya sebuah kalung yang sangat berkesan baginya. Arash pun menundukkan pandangannya.


"Kamu boleh miliki semua hal yang saya punya, asal jangan kalung ini. Ini ... pemberian dari pacar saya," ucap Arash dengan nada yang sangat sendu, membuat wanita itu kebingungan memandang ekspresi Arash yang sangat rumit.


...***...

__ADS_1


__ADS_2