
Beberapa hari belakangan ini, Ara sudah menghabiskan waktunya untuk bertemu dan bercengkrama dengan para sahabatnya. Namun, ia sama sekali tidak melihat Farha lagi, beberapa hari ini.
Morgan pun sedang banyak sekali kegiatan untuk mempersiapkan pekan ujian yang tinggal menghitung jam lagi, akan segera dilaksanakan.
Arash dan Bibi juga sudah kembali lagi ke rumah.
Selama teman-teman Ara kembali ke rumah mereka masing-masing, Ara selalu ditemani Morgan walau hanya sebentar.
Tapi, sepertinya suasana semakin canggung saat setelah kejadian itu. Morgan sudah tidak seperti biasanya lagi ada Ara. Ia sudah seperti menjauhi Ara, dan sangat dingin pada Ara.
Entah apa maksudnya.
Tunggu, mungkin saja justru Morgan kembali bersikap seperti biasanya padaku. Morgan bersikap seperti dulu, yang selalu cuek dan tidak memperlihatkan rasa sayangnya padaku. Tanpa disadari, aku jadi merindukan sosok Morgan yang sangat menyayangiku, pikir Ara.
“Drtt ....”
Handphone Ara tiba-tiba saja bergetar. Ia segera melihat siapa yang mengirim pesan pagi-pagi buta seperti ini.
“Maaf, saya gak bisa jemput kamu.”
Isi pesan singkat dari Morgan, orang yang selama ini Ara sayangi.
Entah kenapa, ia jadi berubah drastis seperti ini bahkan mungkin sudah kembali seperti sejak pertama kita bertemu, pikir Ara sendu saat membaca pesan darinya.
“Kenapa sih Morgan begitu? Apa dia masih marah, karena kalung yang dia kasih waktu itu, hilang?” lirih Ara, yang masih tidak enak dengan Morgan, karena sudah teledor dalam menjaga barang pemberian dari Morgan.
Morgan memang sempat marah pada Ara, karena mengetahui kalau kalung yang ia berikan pada Ara, sudah tidak ada di leher Ara. Tapi itu bukan alasan yang kuat supaya bisa menjauhi Ara.
Ara menghela napasnya panjang, “haahhh ... mungkin perasaan gue aja kali, ya?” Ara berusaha berpikir positif dengan Morgan.
Mungkin saja dia memang benar sedang sibuk, karena hari ini adalah hari diselenggarakannya ujian akhir semester. Dan, mungkin saja dia sedang repot karena memikirkan dan meyiapkan persiapan untuk ujian, pikir Ara yang berusaha bersikap dewasa dalam menghadapi kesibukan Morgan sebagai dosen.
Ara mendelik, “gue harus semangat! Jangan mau kalah sama Morgan,” lirih Ara, yang berusaha memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Sekejap, Ara menghela napas panjang dan bergegas melangkahkan kakinya ke ruang makan.
__ADS_1
Ara mendelik, saat melihat di sana, sudah ada Arash yang sedang mempersiapkan makanan untuk sarapan, tentu saja dibantu dengan Bibi.
“Taruh di situ aja, Bi,” suruh Arash.
Ara melihat perubahan sikap Arash yang sangat signifikan, dengan tatapan yang aneh.
‘Kenapa hari ini sikap mereka aneh banget, sih? Apa lagi main opposite day?’ batin Ara merasa kesal dengan keadaan.
Opposite day adalah hari kebalikan, di mana ada dua orang yang saling bertukar sikap dan menjadi diri orang lain, sementara satu lainnya juga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan.
Arash tak sengaja melihat ke arah Ara, dengan tatapan yang tak enak dilihat, membuat Arash mengerenyitkan dahinya.
“Kenapa kamu ngeliatnya begitu?” tanya Arash dengan nada seperti bingung, membuat Ara tersenyum hangat padanya.
“Sejak kapan kakak nyiapin sarapan buat aku? Biasanya juga di pundak temple handphone, di depan ada laptop, di tangan kiri pegang berkas, di tangan kanannya pegang roti isi,” tanya Ara yang sedikit meledek kakaknya itu, dan juga sedikit percaya diri, membuat Arash yang mendengarnya, jadi tak bisa menahan tawanya.
“Pffffffftttt ....”
Ara bingung dengan sikap Arash, “lho, kenapa?” tanya Ara bingung, sementara Arash masih berusaha menahan tawa.
“Ihh … kakak!” rengek Ara persis seperti anak kecil, sembari memukul-mukul lengan Arash, padahal Ares saja tidak seperti itu.
Tubuhnya yang kekar, membuat tangan Ara yang malah jadi terasa sakit.
“Udah, yuk kita makan. Nanti yang ada malah kamu telat ke kampus lagi. Hari ini kamu mulai ujian, kan?” tanya Arash, membuat Ara mengangguk, kemudian mulai mengambil beberapa lembar roti yang sudah dipanggang sebelumnya.
Ara mengolesi roti dengan selai, menutupnya dengan lembar roti lainnya, kemudian melahapnya dengan sangat santai.
“Jangan sampai ada nilai yang jelek,” lirih Arash membuat Ara menoleh ke arahnya.
Aku tahu, dia sebetulnya sangat menyayangiku. Walaupun, terkadang tingkahnya sangat mengesalkan sih, pikir Ara.
Arash melihat dan memperhatikan situasi. Arash memang sengaja bersikap baik pada Ara, karena ia yang ingin sekali mengatakan kebenaran tentang Ares padanya.
Tiba-tiba saja, Ilham pun datang dari balik pintu kamar tamu, dengan mengenakan kaos oblong berwarna putihnya, yang kemarin ia pakai. Ilham tidak tahu akan menginap malam tadi, sehingga ia tidak mempersiapkan baju salin untuk ia pakai.
__ADS_1
Ara tak sengaja melihat ke arah Ilham, membuatnya melongo kaget karena melihat orang yang sama sekali belum pernah ia jumpai, sedang berada di hadapannya saat ini.
“Uhuukk ….”
Ara tersedak, karena melihat Ilham yang memakai baju ketat seperti itu, membuatnya hampir saja kehilangan akal sehatnya.
Ara meletakkan kembali gelas yang ia pegang, dan segera mengambil tissue untuk mengelap air yang sudah sedikit tumpah mengenai dagunya.
“Pelan-pelan dong minumnya!” ucap Arash, membuat Ara semakin malu dengan Arash yang sudah memperjelas keadaannya di hadapan laki-laki asing bagi Ara.
Arash melihat ke arah Ilham, “eh, Ham, baru bangun?” tanya Arash, membuat Ilham melontarkan senyum termanis yang ia miliki.
Ara yang melihat senyuman manisnya, seketika terpaku untuk beberapa saat.
‘Pagi-pagi kok udah nyuruh gue diabetes, sih?’ batin Ara yang melongo kaget karena melihat senyuman Ilham yang baginya terlihat cukup manis untuk mengawali hari.
“Enggak kok, Rash. Malah sama sekali gak bisa tidur,” jawab Ilham, membuat Arash mengerenyitkan dahinya.
“Lho, kenapa? Bukannya istirahat yang betul,” gumam Arash.
‘Masa saya harus bilang alasan saya gak bisa tidur, sih? Ya tentunya karena ini pertama kalinya saya menginap di tempat gadis yang saya suka,’ batin Ilham, yang hanya menyeringai ke arah Arash saja.
Ilham melirik ke arah Ara, yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ilham, membuat Arash juga ikut melirik ke arah adiknya itu.
Arash menggeleng sembari mendecak, “heh, makan yang bener!” pekik Arash, membuat Ara tersadar dari lamunannya, dan menjadi salah tingkah.
“Bawel!” gumam Ara sinis, karena ucapan kakaknya yang sedikit banyaknya sudah membuatnya menjadi malu di hadapan pria yang nampak asing baginya.
Arash kembali menoleh ke arah Ilham, “kalau kamu mau ganti baju, pakai aja baju saya, Ham,” ucap Arash, lagi-lagi membuat Ilham tersenyum.
Sesekali Ilham melirik ke arah Ara, yang sedang menikmati kudapannya tanpa melihat ke aranya, membuat Ilham semakin menambahkan senyumannya.
‘Dia manis sekali saat seperti itu,’ batin Ilham.
“Kakak …,”
__ADS_1