Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Hati Yang Patah


__ADS_3

Morgan mendelik, tak percaya dengan yang Ilham katakan padanya.


"Apa?" gumam Morgan dengan lirih, membuat Ilham tersenyum tipis ke arahnya.


"Jadi, jangan pernah kamu ganggu Ara lagi," tambah Ilham, membuat Morgan hanya bisa mendelik saja.


Tak berbeda dari Morgan, Dicky juga merasakan hal yang sangat membuatnya terkejut setengah mati. Pasalnya, ia sama sekali tidak mengetahui tentang itu.


Tanpa berbasa-basi lagi, Ilham pun pergi meninggalkan mereka, dan akhirnya Morgan hanya bisa meneteskan air matanya.


Dicky membantu Morgan bangkit, membuat Morgan sangat malu dilihat olehnya.


"Jangan seperti ini! Ayo bangun!" ujar Dicky, membuat Morgan hanya bisa pasrah menerima ucapan Dicky padanya.


Tatapan mata Morgan hanya kosong ke depan, tanpa merasakan hal-hal di sekitarnya. Jiwanya sudah kosong, hatinya hampa, perasaannya rapuh, tetapi ia dipaksa untuk menerima kenyataan pahit, yang mau tidak mau harus ia telan bulat-bulat.


Kini, bukan lagi hanya sebatas menjalin hubungan berpacaran saja, tetapi bahkan mereka sudah menikah, membuat Morgan sangat hancur dibuatnya.


Ia, kalah.


Morgan mendelik, "Ilham sialan!!" teriak Morgan sekeras mungkin, membuat Dicky yang sedang memapahnya menjadi sangat kasihan melihat sahabatnya itu.


...***...


Jam istirahat pun tiba. Ara masih saja mengingat kejadian pagi tadi, saat ia tidak bisa berkata-kata lagi ketika berhadapan dengan Morgan yang sudah lama pergi meninggalkannya.


Ara memegangi kepalanya yang sangat berat, karena merasa sangat stres saat ini.


Fla memandang ke arah Ara yang saat ini sedang memegangi kepalanya, membuatnya segera berdiri di hadapannya.


"Ra, loe kenapa?" tanya Fla, yang tak dihiraukan oleh Ara, karena suasana di kelas ini yang masih sangat ramai.

__ADS_1


Satu per satu teman-teman lainnya sudah mengosongkan ruang kelas mereka. Kini, hanya tinggal Ara dan teman-temannya saja yang berada di sana.


Mereka memandangi Ara dengan tatapan yang dalam, tetapi itu tidak membuat perhatian Ara tertuju pada mereka.


"Ra, ada apa? Mau gue anter ke UKS?" tawar Fla, tetapi Ara hanya diam saja tak bergeming.


Ray dan Rafa hanya bisa memandangi Ara yang terlihat sangat lemas itu.


"Ada apa, Ra? Ada masalah sama kak Ilham?" tanya Rafa yang nampaknya peduli sekali dengan kesehatan mental Ara.


"Tess ...."


Seketika air mata pun terjatuh dari mata Ara, membuat mereka menjadi seketika mendelik kaget, karena Ara yang ternyata tidak berpura-pura. Ara memang sedang tidak baik-baik saja.


"Ra, ngomong ada apa!" bentak Fla, membuat Ara memandang sendu ke arahnya.


"Gue lihat ... Morgan," jawab Ara, membuat Fla dan yang lainnya mendelik kaget.


Pasalnya, Morgan sama sekali belum pulang ke rumahnya. Dari bandara, ia sengaja mampir ke rumah Dicky, agar ia tidak kesiangan untuk berangkat bekerja pagi ini. Sebab itulah Fla tidak mengetahui tentang kepulangan Morgan.


"Oh, makanya loe sedih, karena loe tadi habis papasan sama pak Morgan ya, Ra?" tanya Ray, membuat Ara mengangguk sendu mendengarnya.


Melupakan seseorang yang pernah menjalin hubungan dalam dengan kita, tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Fla sangat sedih melihat Ara yang sepertinya belum sepenuhnya melupakan kakaknya itu. Namun, mau bagaimana lagi? Fla tidak bisa berbuat banyak, karena kondisinya saat ini adalah Ara sudah menikah dengan Ilham.


Fla mengelus bahu Ara dengan lembut, "Ternyata, loe masih belum bisa melupakan dia seutuhnya, Ra? Gue paham kok yang loe rasain," gumam Fla, membuat Ara mengangguk kecil.


Ara menyandarkan kepalanya pada Fla, karena merasa dirinya memang tidak baik-baik saja.


"Sebelum dia datang di hadapan gue, gue masih bahagia banget sama kak Ilham. Gue bahkan udah gak inget dia lagi. Gue gak nyangka, kalau berhadapan dengan dia, bikin gue melenceng dari kata-kata yang gue ucapin," gumam Ara dengan lirih, membuat Fla berusaha menghapus air mata Ara yang sudah lebih banyak berjatuhan.

__ADS_1


"Gue tahu, berat banget untuk lupain masa lalu, Ra, tapi kita tetep harus konsisten sama pilihan yang udah kita ambil. Loe udah sama kak Ilham, dan hubungan kalian itu bukan hanya sebatas hubungan pacaran aja. Kalian udah nikah, lho!" ucap Rafa, yang berusaha mengingatkan Ara tentang status Ara saat ini.


"Gue tahu gue udah nikah, Raf! Gue sayang kok sama Ilham. Gue cuma gak nyangka aja, damage-nya masih ada kalau gue berhadapan langsung dengan Morgan. Padahal sebelumnya saat belum ketemu Morgan, gue happy banget malah sama Ilham. Gak ada pikiran untuk balik lagi ke Morgan. Gue, bener-bener serakah!" ujar Ara yang berusaha menumpahkan rasa kesal di hatinya.


Sebagai sahabat Ara, mereka sangat tidak tega mengenai hal yang Ara rasakan. Akan tetapi, mereka semua dilanda dilema yang sangat kuat, sehingga hanya bisa sekadar memberikan support dan perhatian kecil untuk Ara saja, karena mereka sadar, kalau mereka tidak bisa berbuat banyak dalam masalah perasaan orang yang sudah berumah tangga.


"Apa gak lebih baik, loe jangan masuk ke kampus dulu, Ra?" ujar Ray, berusaha memberikan solusi pada masalah yang Ara hadapi.


"Iya, istirahat dulu, tenangin diri dulu. Siapa tahu, loe cuma shock aja. Besok-besok udah biasa pasti," sambar Rafa yang tumben sekali setuju dengan pendapat Ray.


Fla mengusap air mata Ara, "Iya. Gue juga mikirnya gitu. Loe gak usah masuk dulu untuk beberapa hari ini. UTS kan udah lewat, loe bisa ambil cuti dulu beberapa hari ke depan.


Ara terdiam sejenak, memikirkan tentang apa yang mereka ucapkan.


"Sebaiknya, loe bicarain dulu sama kak Ilham dengan solusinya. Biar loe gak ketemu pak Morgan dulu," gumam Ray, membuat Fla dan Rafa mengangguk.


Ara menghela napas panjang, "Makasih semua atas saran dan perhatian kalian buat gue. Gue gak akan tahu jadinya gue, kalau gak ada support dari kalian. Karena untuk bicara sama kakak gue, gak akan mungkin. Apalagi harus bicara sama Ilham, lebih gak mungkin lagi," gumam Ara, membuat mereka semua tersenyum padanya.


"Tenang aja, selama ada kita, kita pasti berusaha untuk bantu loe kok, minimal kasih support lah buat loe. Kita juga gak tinggal diem, kalau loe butuh sesuatu, loe tinggal bilang ke kita aja, ya?" ujar Fla, membuat sedikit banyaknya perasaan Ara menjadi sangat tenang.


"Iya, Ra. Biarpun kadang gue selalu slengean, gak punya akhlak, tapi sebenernya gue care kok sama teman! Gak akan gue biarin temen-temen gue kenapa-napa," ujar Ray, membuat Rafa mengerenyitkan dahinya.


"Tumben? Lagi insyaf, kah?" goda Rafa, membuat Ray geram dengannya.


"Sialan!" bentak Ray, membuat Ara menjadi tertawa kecil karena tingkah mereka.


...***...


Hai para readers setia novel Terjerat Cinta Dosen Idiot. Babang ganteng mau kasih info nih. Karena sebentar lagi akan tamat, othor mau adakan QnA di akhir bab nanti (setelah end). QnA mengenai semuanya tentang babang. Terus juga babang mau bagi-bagi hadiah pulsa untuk 3 orang yang selalu setia nungguin babang update. Nanti ya di akhir pas novel ini end.


Babang lihat dari aktiv berkomentar, dan juga jumlah dukungan tertinggi pada karya. 3 orang terpilih akan babang kasih pulsa gratis, walaupun cuma sedikit jumlahnya, hehe.

__ADS_1


Terima kasih, dan selamat berlibur tahun baru. ❤️


__ADS_2