
Saat ini, Morgan sedang duduk di kursi, bersama ayah dan ibu sambungnya yang berada di ruang makan. Morgan sedang mengisi perutnya, karena ia tidak mengurus dirinya dengan benar, membuat perutnya terasa sangat perih saat ini.
“Gimana di kampus, lancar?” tanya ayah Morgan, membuat Morgan melirik ke arahnya.
“Ya ... begitu lah,” jawab Morgan yang membuat ayahnya ragu.
Ayah mengerenyitkan dahinya, “ada masalah?” tanya ayah, Morgan menelan habis roti isi yang sedang ia kunyah.
Morgan mengambil gelasnya, dan menenggak habis air yang ada di dalamnya.
“Ahh ...,” lirih Morgan, kemudian kembali meletakkan gelas itu di tempatnya semula.
“Kalau kamu gak bisa cerita, juga gak apa-apa. Ayah menghargai privasi kamu, kok,” ucap ayah membuat Morgan merenungkan diri.
‘Sudah lama sekali tidak bercengkerama seperti ini. Ternyata, saya sudah berada jauh dari mereka, sehingga jarang bercengkerama seperti ini. Mungkin selama ini, saya kehilangan banyak momen bersama mereka,’ batin Morgan yang sudah mulai sadar dengan keadaan dirinya yang sudah mulai jauh dari keluarganya.
Memang, selama ini Morgan sudah sangat jauh dengan keluarganya. Bahkan, ia sampai lupa, kapan terakhir kali ia bercengkerama seperti ini dengan ayah dan ibu sambungnya.
Morgan memang tidak mendukung pernikahan ayahnya itu, tapi bukan berarti Morgan tidak menerima ibu sambungnya. Dalam lubuk hati Morgan yang paling dalam, ia sangat bersyukur karena ayahnya bisa menemukan pengganti dari ibu kandungnya yang sudah lama meninggalkannya ke tempat yang sangat jauh dari dunia ini.
Walaupun tidak sebaik ibu kandungnya, setidaknya ibu sambungnya selalu memperlakukan Morgan dengan baik, meskipun Morgan selalu bersikap acuh padanya.
Ia juga sangat menyadari, jika tanpa ibu sambungnya ini, mungkin ayahnya kini sudah sangat terpuruk, dan tidak ada yang menemaninya di saat ayahnya tua nanti. Karena ia sadar, tidak ada anak yang akan tinggal selamanya dengan orang tuanya. Suatu saat pasti mereka mempunyai jalan hidup masing-masing bersama dengan pasangannya kelak.
Morgan memandang ke arah ayahnya itu, “banyak sekali masalah yang terjadi selama hampir enam bulan ke belakang ini,” jawab Morgan, membuat ibu sambungnya mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Memangnya, ada masalah apa, sih?” tanya ibunya, membuat Morgan bergantian menoleh ke arahnya.
“Setelah kejadian kasus bullying Fla kemarin, banyak sekali hal yang terjadi. Entah masalah cinta, atau masalah pekerjaan, semuanya sama-sama terlihat rumit,” ucap Morgan, membuat ayah dan ibunya saling melempar pandangan.
“Belum habis masalah cinta dan pekerjaan, tadi Lian, Fla dan Jess sudah menuntut diajak quality time bareng. Hidup saya tuh seakan penuh dengan tekanan,” tambah Morgan, membuat ayahnya menghela napas panjang.
__ADS_1
Morgan bukanlah tipe orang yang dengan mudahnya membeberkan permasalahan yang sedang ia hadapi. Tapi entah mengapa, satu pertanyaan dari ayahnya saja, membuat Morgan menjadi sangat terbuka dengan masalah yang sedang ia hadapi.
Seperti yang kita ketahui, Morgan saat ini sedang berada di titik terendahnya, membuatnya hampir tidak bisa menanggungnya sendirian.
“Ayah gak akan ikut campur urusan hati kamu, tapi ayah mau tahu tentang urusan pekerjaan kamu. Sepertinya terjadi sesuatu yang sangat serius,” ucap ayahnya, membuat Morgan menghela napasnya.
“Ya, saya harus pergi ke Amerika selama empat bulan, untuk program pertukaran dosen. Itu bertolak belakang dengan masalah percintaan saya. Saya gak mungkin long distance relationship selama itu. Karena saya gak bisa jauh dari dia,” ucap Morgan, membuat ayah dan ibunya kaget mendengarnya.
Ibunya mengusap pelan lengan Morgan, “memangnya tidak bisa digantikan dengan dosen lain?” tanyanya, membuat Morgan menggeleng kecil.
Ayah dan ibunya saling melempar pandangan.
“Kapan program itu dimulai?” tanya ayah.
Morgan menafikan pandangannya karena merasa sedih, “sekitar dua minggu dari sekarang,” jawab Morgan, membuat kedua orang tuanya menjadi sangat sendu mendengarnya.
“Memangnya, apa kata pacar kamu mengenai hal ini?” tanya ibu, membuat Morgan menggelengkan kepalanya lagi.
“Kalau begitu, kamu harus yakinin pacar kamu, supaya bisa menunggu kamu selama empat bulan itu,” ucap ibunya, berusaha memberikan dukungan pada anak sambungnya itu.
Morgan seketika menoleh ke arahnya, “bagaimana caranya?” tanya Morgan yang sama sekali tidak mengetahui cara terhalus untuk memberi tahu kepada Ara.
“Walaupun saya boleh mengajak seseorang ke sana, tapi saya tidak bisa mengajak seseorang yang masih belum menjadi siapa-siapa di dalam kehidupan saya,” tambah Morgan.
“Ajak dia liburan, setelah itu ngomong ke dia yang sejujurnya,” ayahnya menyambar, membuat Morgan terdiam sejenak.
‘Ajak dia liburan, ya?’ batin Morgan yang berusaha mengatur rencana yang tepat untuk mengajak Ara liburan.
“Memangnya, siapa sih pacar kamu sekarang? Kenalin ke ayah, dong?” tanya ayahnya, membuat Morgan lagi-lagi menafikan pandangannya karena tersipu malu.
“Ayah, kasihan Morgan, kan jadi malu,” sindir ibunya, membuat ayahnya tertawa karenanya.
__ADS_1
“Ih, gak apa-apa lah, ayah kan ... mau cepat-cepat nimang cucu,” tambah ayah, membuat Morgan bertambah malu mendengar ia mengucapkan kata ‘cucu.’
Morgan memandangi mereka yang sedang bercanda sendiri, membuat sedikit banyaknya perasaan Morgan menjadi sangat iri pada mereka.
‘Jadi, seperti ini rasanya berumah tangga? Bercanda bersama, menikmati waktu yang tersisa juga bersama-sama, gak ada yang mengganggu, gak ada yang mempermasalahkan hubungan yang sudah legal, gak perlu lagi sembunyi-sembunyi dari mereka yang ada di kampus,’ batin Morgan yang sedikit tersentuh dengan canda tawa ayah dan ibunya yang ia lihat dengan matanya langsung.
Apalah daya Morgan, yang masih belum yakin dengan dirinya sendiri, untuk melangkah maju ke jenjang yang lebih serius, bersama Ara.
“Kak, aku udah siap!” pekik Lian yang tiba-tiba saja datang dari arah kamarnya, disusul Jess dan juga Fla.
Seperti biasa, Jessline selalu berpakaian yang sangat sexy, bagaimana bisa laki-laki mencampakkannya begitu saja?
“Lho, anak ayah mau ke mana?” tanya ayah pada Lian, membuat Lian tersenyum.
“Ke mall dong ... sama Kak Morgan. Aku mau beliin pacar aku kado!” ucap Lian berterus terang pada ayahnya.
Ucapan Lian membuat ayah dan ibunya tersenyum.
“Anak ayah ternyata udah gede, udah punya pacar segala!” ledek ayah, membuat Lian tersipu malu.
Fla yang mendengar hal itu, langsung terlintas sesuatu di benaknya, ‘apa sekalian aja aku beliin kado buat kak Arash, ya?’ batin Fla, yang memang sudah berniat memberikan kado pada Arash sebelumnya.
“Ya udah gede lah, Yah! Masa mau kecil aja,” sambar ibunya, membuat Lian sekali lagi menjadi tersipu.
“Ih, udah ah. Nanti gak jadi jalan ke mall!” gerutu Lian, membuat kedua orang tuanya tertawa kecil karena sikapnya.
“Ya sudah, saya antar mereka dulu ya,” ucap Morgan, membuat ayahnya mengangguk kecil.
“Dah ayah, dah ibu ...,” ucap Lian sembari melambaikan tangannya ke arah mereka.
...***...
__ADS_1