
"Reza itu mantan pertama gue. Bisa dibilang, dia itu cinta pertama gue. Dan gue nggak bisa ngelupain dia secepat itu. Walaupun gue udah punya Morgan, tapi tetep aja di saat-saat tertentu, gue kadang rindu sama kenangan bareng Reza," lirih Ara.
Ara berbicara sendiri, karena tidak ada yang bisa mendengarkannya saat ini. Ara merasa hidupnya kosong, entah Reza ataupun Morgan, mereka sekarang tidak ada di sisi Ara. Bahkan kakaknya pun saat ini tidak ada di sisinya.
Jadi harus dengan siapa Ara meluapkan semua kekesalan hatinya?
Sama author aja deh ... hihi.
Ara kembali melihat slide beranda media sosial milik Reza. Ia tak sengaja melihat foto Reza yang sedang berada di bandara. Saat Ara tersadar, dan melihat kapan Reza mengunggah foto tersebut, Ara mendelik karena Reza yang ternyata baru saja mengunggah satu postingan baru, membuat Ara terkejut bukan main.
"Tunggu gue di sana."
Caption-nya memang agak rancu, tapi sepertinya Reza akan melakukan sebuah perjalanan.
Apa aku memberanikan diri saja untuk mengirim pesan singkat padanya? Pikir Ara, yang merasa penasaran dengan caption yang Reza buat.
"Ah ... nanti gue disangka belum bisa move on lagi! Gimana kalau nanti gue diledekin sama dia? Salah gue sih, kenapa waktu itu gue tiba-tiba langsung ninggalin dia aja, dan nggak mau dengar dulu penjelasan dari dia? Duh ... jadi kesel sendiri gue," gumam Ara dengan sangat kesal.
Hati Ara terus-menerus bimbang, tidak tahu harus berbuat apa. Ia terlalu termakan oleh gengsinya. Ara hanya tidak ingin kalau Reza sampai berpikiran yang macam-macam tentang dirinya, yang sudah meninggalkannya lebih dulu.
Tentu saja bukan karena keinginannya sendiri, Ara sampai meninggalkan Reza waktu itu. Tapi karena kesalahan Reza yang sudah membuatnya kesal, karena sudah melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan bersama wanita asing itu.
"Duh ... gue tambah kesel mengingatnya!" Ara mengaduh sembari meremas keras rambutnya.
Ia tidak bisa lagi menahan semua kebohongan ini. Ternyata, kemampuannya untuk menahannya hanya sampai sini. Hanya karena mimpinya yang tidak jelas itu, bahkan mampu membuatnya terjebak kembali dalam masa lalunya yang kelam bersama dengan Reza.
Ara mendelik, "gue nggak akan nge-chat loe!" bentak Ara, sambil melihat foto Reza yang ada di layar ponselnya.
Ara menutup layar handphone-nya, karena tidak mau lagi melihat orang itu. Ia sudah cukup menahan semua perasaannya selama ini pada Reza.
Cukup, Ara sudah tak ingin lagi berurusan dengannya.
"Drriiinngggg ...."
Ara melihat kembali layar handphone-nya untuk melihat siapa yang saat ini sedang menelpon dirinya.
__ADS_1
Tertera nama "Bii" dengan emoticon love di sana. Ternyata, Ara masih belum mengubah nama Bisma di handphone-nya.
Ia menatap layar handphone-nya dengan heran, sembari mengernyitkan dahinya.
"Bisma? Tumben? Ngapain dia nelepon gue malam-malam gini?" gumam Ara dengan lirih, sembari terheran-heran.
Ara sengaja mengulur lama waktu untuk mengangkat telepon dari Bisma, karena ia tidak mau dianggap sebagai gadis yang dengan cepat merespon mantan pacarnya, padahal ia sudah mempunyai pacar. Nanti apa pemikiran orang lain?
"Tuttttt ...."
"Halo, Ra?" Bisma menyapa dengan lembut.
Sudah lama sekali Ara tidak mendengar suara Bisma. Suaranya semakin lama semakin berubah, tidak seperti suara Bisma yang dulu.
"Iya halo, Bis. Apa kabar?" tanya Ara yang melakukan basa-basi padanya.
"Baik. Sangat baik. Loe gimana kabarnya?" tanyanya.
Tiba-tiba saja jantung Ara berdegup sangat kencang, mendengar ucapan Bisma yang seperti sangat bersemangat menjawab teleponnya.
"Ya begitulah. Ada apa, Bis? Tumben loe telepon gue malam-malam gini? Gue udah tidur tahu," ucap Ara dengan nada datar, yang tentu saja berbohong pada Bisma.
"Oh sorry gue ganggu waktu loe tidur," ucapnya terdengar seperti orang yang merasa bersalah.
"Iya nggak papa, Bis," gumam Ara dengan lirih.
"Ayo udah mau berangkat."
Terdengar lirih suara orang yang baru saja mendekati Bisma. Ara sepertinya tidak asing dengan suara itu.
"Iya sebentar," lirih Bisma menjawab ucapan temannya tadi.
"Ra, gue cuma mau ngasih tahu, kalau gue sekarang lagi on the way ke Jakarta. Mudah-mudahan, kita bisa bertemu saat gue udah nyampe di sana."
"Degg ...."
__ADS_1
Mata Ara membulat seketika, apa aku tidak salah dengar? Bisma sedang melakukan perjalanan menuju ke Indonesia? Tidak heran sih, saat ini kampusku juga sudah mulai libur karena sudah mengerjakan ujian akhir semester kemarin. Mungkin itu juga berlaku di kampusnya Bisma. Apalagi lagi jarak setelah mengerjakan ujian dengan tahun ajaran semester depan lumayan lama, sekitar 2 bulan. Wajar saja kalau Bisma ingin mengunjungi keluarganya di Indonesia. Tapi kenapa dia ingin bertemu denganku? Lantas, aku harus menjawab apa? Pikir Ara yang bingung dengan apa yang Bisma katakan tadi.
"Tapi gue nggak maksa kalau loe nggak mau. Besar harapan gue buat bisa bertemu sama loe, Ra," tambahnya, membuat Ara semakin tidak tahu harus menjawab apa.
"Ayo, udah mau jalan nih."
Suara orang di sebelah Bisma terdengar kembali. Sepertinya temannya mulai resah, khawatir kalau sampai ketinggalan pesawat.
"Ya ya oke oke," jawab Bisma yang terdengar seperti sedang merapikan sesuatu.
"Oke, Ra. Lanjut lagi ya tidurnya. Gue mau jalan dulu. Have a nice dream, Ra. Tunggu gue di sana," ucap Bisma, yang seketika membuat Ara kembali berdebar.
"Degg ...."
Kata-kata Bisma tadi sama seperti caption milik Reza yang tadi Ara lihat di akun sosmednya. Perasaan Ara kini campur aduk, tidak ada lagi yang bisa ia katakan pada Bisma, sampai akhirnya telepon mereka pun terputus dengan sendirinya.
"Tuuuuttt ...."
Telepon Ara bersama Bisma pun sudah selesai. Ara menjadi bertambah resah dengan kedatangan Bisma ke sini. Tak disangka, Bisma masih ingin menjalin hubungan dengan dirinya.
Hal itu membuat Ara jadi teringat akan sesuatu.
Ara mendelik, "cincin!" pekik Ara.
Ia teringat cincin yang Bisma berikan padanya.waktu itu.
Di mana aku menaruhnya? Aku tidak bisa mengingat di mana aku menaruh cincin itu. Padahal Bisma berpesan untuk menjaga sepenuh hati cincin itu, walaupun nantinya kita tidak akan bisa bersama, paling tidak cincin itu sudah bersama denganku, pikir Ara yang bingung dengan keberadaan cincin yang Bisma berikan padanya.
"Duh ... ke mana ya cincinnya?" gumam Ara, merasa kesal sendiri karenanya.
Aku merasa resah dan gelisah sembari mengingat kembali di mana ia meletakkan cincin yang diberikan Bisma waktu itu.
"Duh ... nanti dicari deh!" lirih Ara dengan kesal.
Ara kembali menoleh ke arah layar handphone-nya, berharap ada seseorang yang memberinya kabar, entah Arash ataupun Morgan, keduanya sangat penting bagi Ara.
__ADS_1