Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Teman Baru 2


__ADS_3

Ara terdiam sembari memandang ke arah pria itu yang masih malu.


Ara jadi teringat tentang malam itu.


Kalau tidak salah, dia yang menolong aku dari preman sebelum Morgan datang. Memar di pipinya pun masih terlihat, walaupun sudah sedikit memudar. Aku sepertinya berhutang budi padanya, pikir Ara.


“Makasih ya, untuk malam waktu itu,” lirih Ara.


Ara membulatkan matanya karena melihat pipi pria itu yang semakin memerah karena perkataan Ara.


Apa ada yang salah dengan gaya bicaraku? Pikir Ara.


“Gak apa-apa. Bagus kamu selamat,” lirihnya sembari memalingkan wajahnya.


Ara sangat bingung dengan responnya yang menurut Ara, mungkin terlalu berlebihan untuk seukuran orang yang baru saja kenal.


Suasana menjadi canggung seketika. Ara pun memalingkan wajahnya darinya.


Terlintas di benak Ara untu mengajaknya berbicara, agar tidak terlalu canggung dengan keadaan.


“Nama kamu siapa--”


“Nama kamu siapa--”


“Degg ....”


Jantung Ara terasa berdegup begitu kencang, karena mereka mengatakan hal yang sama, secara bersamaan.


Pria itu kembali memalingkan wajahnya dari Ara. Sepertinya, terlihat jelas kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.


“Nama gue Ara,” ucap Ara, membuat dia kembali melihat wajah Ara.


“Ara-chan, senang bertemu denganmu,” ucapnya membuat Ara merasa heran.


Ara berpikir sejenak tentang pertemuan dengan dirinya yang singkat ini. Ara pun melontarkan senyum padanya.


“Kalau gak salah, loe juga pernah kan ngasih gue cemilan waktu di danau?” tanya Ara, ia mengangguk kaku.


Ara menyunggingkan senyumnya, “boleh tau nama loe?” tanya Ara.


Pria itu menunduk, “Akira Hatake,” jawabnya.


Benar saja namanya saja sudah seperti orang Jepang. Tapi kalau dipikir lagi, bukannya dia yang waktu itu mengejar aku dan Morgan? Pikir Ara yang teringat dengan kejadian kala itu.


“Loe ... bukannya waktu itu ngejar-ngejar mobil hitam yah?” tanya Ara, membuatnya terlihat seperti orang yang gugup.


Aku tidak mengerti, kenapa ia selalu terang-terangan menampakkan ekspresi yang berlebihan? Pikir Ara.

__ADS_1


“Nama ...,” ucap kakak anggota HIMA yang sedang membawa pulpen dan papan kertas, membuat Ara terkejut dan seketika berpaling padanya.


“Arasha.”


“Kelas?” tanyanya lagi.


“01TPLP001.”


Ia berpindah pada Hatake. Ara terdiam karena terpukau melihat raut wajah Hatake yang memang seperti cowok Jepang pada umumnya.


“Oke, kalian semua mengerjakan ujian di lapangan. Kumpulkan satu per satu tas kalian di depan tiang bendera, dan kembali ke posisi semula. Ingat, kerjakan sendiri-sendiri, jangan ada yang nyontek!” ucap kakak ketua dengan mikrofon.


“Huuuuuuhhh ....”


Semua orang menyurakinya. Sepertinya, mereka tidak menerima dengan ketentuan dan peraturan yang sudah diberikan.


Ara mau tidak mau, mengumpulkan tasnya dan kembali ke tempat semula ia berdiri bersama Hatake.


...***...


Ujian pertama sudah selesai. Ara bergegas merapikan semua peralatan tulis yang suda ia pakai barusan. Ara melihat ke arah depannya karena sepertinya ada yang janggal.


Terlihat Hatake sedang menyodorkan tasnya. Nampaknya, ia sedikit membantu Ara dalam merapikan benda-benda miliknya. Ara yang melihat ketulusannya, segera menerimanya.


Ara mengambil tas yang ada di tangan Hatake, “makasih,” ucap Ara.


“Mau makan tidak?” tanyanya.


Ara bingung harus mengiyakan ajakannya atau tidak.


Tak sadar, Ara melihat Morgan yang sedang diikuti oleh banyak penggemarnya dari belakang. Terlihat jelas sekali, kalau mereka sedang menguntit Morgan dari belakang. Hal itu membuat Ara sedikit kesal melihatnya.


‘Dasar gadis-gadis gatel. Minta digaruk, apa?’ batin Ara yang dongkol karena melihat pemandangan ini.


Ara menatap ke arah Hatake, “ayo!” ucap Ara dengan nada yang setengah kesal, dan setengahnya lagi mungkin adalah nada kecemburuan.


Ara menarik tangan Hatake dengan kasar, menuju ke arah kantin. Kali ini, Ara sudah tidak bisa menahan perasaan cemburunya terhadap Morgan.


‘Pertama anak kecil itu, sekarang gadis-gadis gatel itu. Kenapa sih semuanya pada mau ngambil seseorang yang gue sayang?’ batin Ara kesal dengan keadaan dirinya yang baginya sangat miris itu.


Sesampainya di kantin, Ara melihat teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai di sana, dan mungkin saja mereka sudah memesan makanan. Ara melihat ke arah mereka, kemudian menghampiri mereka.


“Lho ... Ra ...,” gumam Fla yang bingung dengan keadaan Ara saat itu.


Melihat Fla yang bingung seperti itu, Ara juga menjadi bingung dengan responnya yang seperti itu.


“Kenapa si?” tanya Ara yang risih dengan tatapan mereka semua.

__ADS_1


Mereka menunjuk ke arah tangan Ara, membuat Ara yang tanpa sadar melihat ke arah tangannya sendiri, yang ternyata masih menggandeng tangan Hatake.


Matanya mendelik kaget, spontan langsung Ara hempaskan tangannya dari tangan Hatake.


“Kenapa gue malah megang-megang loe sih?” ucap Ara dengan nada yang canggung.


Hatake terlihat hanya menggelengkan kecil kepalanya.


“Ini ... siapa, Ra?” tanya Rafa.


“Gebetan baru?” sambar Ray tanpa disaring lebih dulu, membuat Ara memelotot kaget ke arahnya.


Fla mendelik ke arah Ray, “ngawur!” bentak Fla yang nampak tidak suka dengan ucapan asal dari Ray.


“Hehe. Maap,” Ray hanya cengegesan setelahnya.


Wajar saja, dia memang seperti itu tabiatnya.


Rafa memperhatikan Hatake dengan saksama, “lho ... ini siapa, Ra?” tanya Rafael, membuat Ara melirik ke arah Hatake.


“Ini teman gue. Namanya Hatake. Mulai sekarang, Hatake bakalan main terus sama kita,” jawab Ara, membuat Ray tersedak saat meminum minumannya.


“Uhukk ….”


Fla menoleh ke arahnya dengan sinis, karena terkena percikan air dari mulutnya, “ih … jorok banget sih loe!” teriak Fla, yang langsung memeperkan tangannya ke seragam putih Ray.


“Maap sih, Fla,” lirih Ray, tapi Fla hanya diam saja sembari menatapnya dengan kesal.


Rafa masih terlihat bingung dengan ucapan Ara yang baginya tidak masuk akal dan secara tiba-tiba itu.


“Maksudnya?” tanya Rafa yang belum mengerti dengan ucapan Ara yang tiba-tiba itu.


“Nanti Gue ceritain detilnya,” ucap Ara yang tidak ingin merasa ribet dengan keadaan.


Ara menoleh ke arah Hatake, “silakan duduk, Hatake,” ucap Ara, membuat ia mengangguk dan duduk di sampingnya.


“Kenalin, ini Fla, Ray dan Rafa. Loe bisa kok hubungin mereka kalau loe butuh bantuan. Anggap aja teman sendiri,” ucap Ara dengan ramah pada Hatake, ia pun tersenyum manis pada mereka.


“Mohon bantuannya ya semua,” ucap Hatake.


Teman-teman Ara sangat terkesan pada Hatake, karena sikap ramah Hatake.


Syukurlah, aku melakukan ini sebagai bentuk balas budiku padanya yang sudah menyelamatkan aku waktu itu. Aku ingin menjadikannya sahabat, sama seperti Fla, Rafael, Ray, dan juga Farha, pikir Ara sembari melontarkan senyum pada mereka.


“Wait ... ngomong-ngomong, Farha mana ya?” tanya Ara yang nampak tidak melihat Farha di sini.


Mereka saling memandang satu sama lain, membuat Ara menjadi ragu dengan reaksi mereka.

__ADS_1


__ADS_2