
Rafa dengan segala refleks yang ia miliki, segera menangkap Kim yang hampir saja terjatuh, karena tersandung dengan kakinya sendiri.
Untung saja, Rafa bisa dengan cepat menangkapnya. Jika tidak, ya … tidak bisa dibayangkan betapa malunya si Kim itu.
Pandangan mereka pun bertemu sedekat ini untuk pertama kalinya. Rafa hanya bisa merasakan jantungnya yang sudah berdegup melampaui batas wajar.
Biasanya, tidak seperti ini. Apa aku sudah memasuki fase jatuh cinta berikutnya? Secepat ini, kah? Hanya dengan sebuah tatapan mata? Pikir Rafa yang masih tercengang karena melihat pemandangan indah yang sedekat itu.
Per sekian detik, Rafa memandangnya dengan lekat. Begitu pun Kim yang juga memandangnya dengan lekat.
Kim tersadar, lalu ia berusaha melepaskan diri dari Rafa.
Melihat respon Kim yang seperti itu, Rafa langsung saja tersadar dengan apa yang telah dirinya perbuat padanya.
“Oh, i'm sorry. I don't mean--”
“Munje eobs-oeyo,” potongnya.
Rafa tidak mengerti dengan ucapan yang ia maksudkan itu.
Walaupun Rafa memang ada sedikit keturunan Tionghoa, tapi ia tidak mengerti dengan bahasa yang dipakai Kim. Walaupun serumpun dengannya, tapi ada beberapa bahasa yang tidak Rafa mengerti.
Rafa hanya diam, sembari memandangnya dengan tatapan bingung.
Apa dia mengira, aku juga mengerti bahasanya? Pikir Rafa yang rancu dengan keadaan.
Dengan segala rasa penasaran yang ada, Rafa memberanikan diri untuk bertanya dengannya.
“What the meaning of--” tanya Rafa yang terpotong karena tak sengaja memandang wajah indahnya.
Bagi Rafa, Kim sangatlah hangat. Pandangannya seperti pandangan seekor kelinci yang polos, yang mampu membuat Rafa menjadi gemas padanya.
Morgan yang menyadari tentang Rafa, yang sedari tadi tidak mengikutinya, hanya bisa menghela napas sembari menggeleng.
“Kalian,” pekik Morgan.
Rafa yang tersadar, segera menoleh ke arah Morgan, yang sedang berhenti di depan sana.
“Masih bisa mengikuti acara ini, atau tidak?” tanya Morgan dengan nada yang datar.
__ADS_1
Pertanyaannya dilontarkan dengan nada yang sangat dingin dan datar. Rafa sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Joesonghabnida,” Kim meminta maaf kepada Morgan, sembari sedikit membungkuk ke arah Morgan.
“Munje eobs-oeyo,” jawab Morgan dengan datar.
Rafa terkejut ketika mendengar Morgan yang bisa menimpali ucapan Kim, dengan aksen yang sangat lancar.
Kenapa Pak Morgan bisa dengan lancar membalas ucapan Kak Kim? Pikir Rafa yang semakin insecure saja dengan keadaan dirinya saat ini.
Rivalnya bukan hanya tampan, tetapi juga pintar dan kaya raya. Rafa mendadak menjadi kikuk setelah mengetahui keterampilan Morgan dalam berbahasa asing.
Kenapa saya harus dengar itu ya? Kan jadi semakin insecure, pikir Rafa.
Mereka semua pergi menuju tempat selanjutnya. Rafa menatap kepergian mereka dengan tatapan tak percaya.
Kenapa orang seperti Pak Morgan bisa ada di dunia ini? Tampan, dingin, pintar, kaya, gelar dan pangkat, asmara, semuanya dia miliki. Aku jadi sedikit iri dengannya. Seandainya dia bersedia untuk sedikit memberikan kelebihannya itu kepadaku, agar aku tidak terlalu sulit untuk mendapatkan orang yang aku sukai. Andai saja, pikir Rafa.
Morgan menggiring mereka semua menuju ke aula lukis yang berada di lantai 2.
Sembari sesekali Morgan melirik ke arah Kim Yo Ra, yang terus-menerus menatapnya dengan tatapan yang aneh.
Aku harus bersikap tenang dan harus terlihat se-profesional mungkin, pikir Morgan.
“Oke, perhatian untuk semuanya. Kita sudah berada di ruang seni lukis dan akan dimentori oleh Kim Yo Ra. Kita melihat-lihat sebentar ya,” ucap Morgan.
Ia kemudian membuka pintu ruangan tersebut.
“Cklekk ....”
Morgan membuka pintu ruangan tersebut. Mereka pun perlahan masuk ke dalam ruangan itu.
“Here is the room for painting,” ucap Morgan dalam bahasa Inggris.
Morgan tahu, Kim Yo Ra belum terlalu fasih berbahasa Indonesia. Karena ruangan ini yang nantinya akan menjadi ruangan untuk dia mengajar, jadi Morgan menyesuaikan keadaan dirinya.
“So, Kim …” ucap Morgan menggantung karena menoleh ke arah dirinya.
Ia spontan menoleh ke arah Morgan. Ada tatapan takut di bola matanya, sampai Morgan bisa melihatnya dengan jelas.
__ADS_1
“If you need anything, you can directly contact Mr. Handoko, as the head of the study program here,” sambungnya.
Kim seperti menundukkan kepalanya dengan cepat. Wajahnya seketika berubah menjadi merah, sama seperti Ara yang selalu bersikap seperti itu di saat sedang tersipu terhadap perlakuan Morgan padanya.
“Why not just call you?” tanyanya dengan nada yang sangat takut.
Morgan menghela napasnya dengan panjang.
Aku tak habis pikir, ada apa dengan para wanita ini? Apa aku tidak bisa hidup dengan tenang? Pikir Morgan.
Nasib orang tampan memang selalu tragis seperti itu, hihi.
“Excuse me, he told you to contact the head of the study program. Don't you hear?” sela Gemi dengan nada seperti sedang menyindir Kim.
Morgan tak menyangka, kalau Gemi akan berkata kasar seperti itu pada Kim. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dengan pelan.
Kenapa aku tidak bisa hidup dengan tenang, jika ada wanita di sampingku? Pikir Morgan.
“Ekhm ….” Rafa berdeham untuk menetralkan suasana kembali.
“Emm ... maaf Bu Gemi, seharusnya tidak perlu sampai mengeluarkan nada seperti itu. Karena Kak Kim hanya bertanya,” ucap Rafa membela gadis pujaan hatinya itu.
Morgan yang mendengar ucapan Rafa itu, berusaha menahan tawanya.
Kenapa dengan Gemi ia memanggil Ibu, dan dengan Kim ia memanggil Kakak? Pikir Morgan.
Wajah Gemi seketika memerah. Sepertinya, ia kesal dengan ucapan Rafa.
Kim melihat ke arah Morgan yang sedang menahan tawanya.
‘Tawanya saja manis,’ batin Kim, yang tak sadar sudah terkesima dengan sosok Morgan yang ada di hadapannya saat ini.
“Sudah. Kita lanjut ke area pencak silat. Tidak jauh kok, aulanya ada di lantai dasar,” ucap Morgan yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mereka menyudahi pertengkaran ini. Perlahan, Morgan kembali menggiringnya menuju lantai dasar.
Saat sudah sampai pada tempat tujuan, Morgan membuka pintu ruangan untuk program pencak silat.
“Ini adalah ruangan aula khusus untuk Pak Hendi. Di sini, sebelum atau sesudah latihan mereka semua diperbolehkan untuk melakukan pemanasan dan pendinginan di ruangan ini. Jadi, setelah siap untuk latihan, baru mereka diajak atau digiring ke lapangan. Hal ini bertujuan agar memberikan kenyamanan kepada mahasiswi supaya saat pemanasan tidak terlalu risih karena dilihat oleh orang lain. Sejauh ini, bisa dipahami, Pak Hendi?” ucap Morgan yang menjelaskan dengan panjang lebar.
__ADS_1
Sejak tadi, laki-laki yang bernama Hendi ini memang tidak banyak berbicara. Ia seperti sangat menjaga tata kramanya di hadapan semua orang.
“Oke siap, Pak Morgan. Jadi, kalau perlu apa-apa, saya harus menghubungi siapa ya?” tanyanya.