Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Wejangan Arash


__ADS_3

Arash terdiam ketika mendengar pertanyaan dari Ares, yang menanyakan tentang wallpaper yang terpasang di handphone-nya. Ia tidak akan bisa menyembunyikan perihal Ara pada Ares, begitu pun sebaliknya.


Cepat atau lambat, mereka pasti akan mengetahui satu sama lain. Arash tidak akan bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi.


“Emm ... itu ...,” ucap Arash yang bingung dengan jawaban apa yang akan ia berikan kepada adiknya ini.


Ares menyipitkan kedua matanya, “ahh ... pasti pacarnya Kak Arash, ya?” goda Ares, yang sudah mengerti tentang perihal pacar, membuat Arash kaget mendengarnya.


“Hah, Ares kok udah ngerti pacar-pacaran, sih? Jangan-jangan, Ares udah punya pacar, ya?” tanya Arash yang berusaha mengalihkan topik pembicaraannya.


Mendengar perkataan Arash, membuat Ares menjadi malu dibuatnya.


Arash sampai memegangi kepalanya, ‘sepertinya dia memang benar sudah remaja. Saya gak bisa menyikapi dia seperti ini terus,’ batin Arash, yang berusaha menempatkan dirinya saat ini.


Biar bagaimanapun, Arash tidak ingin terlalu mengekang adiknya, karena ia menyadari kalau hal itu salah, sama halnya seperti dirinya mendidik Ara saat ini.


‘Saya gak mau, melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,’ batin Arash.


Arash memang sangat menyayangi adiknya, tapi ia juga terlalu bersikap keras untuk membuat Ara mengerti tentang kehidupan. Mengingat tentang didikan Ara, Arash jadi tidak ingin menggunakannya kepada Ares.


Tapi jika diteruskan seperti ini, sikap Ares akan terbentuk sebagai anak yang besar kepala, dan selalu memaksakan kehendak, karena apa pun yang ia inginkan, pasti akan selalu diberikan oleh Arash.


Tinggal bagiamana cara Arash untuk menarik-ulur adiknya itu.


Arash menatap Ares dengan dalam, “kakak gak pernah ngelarang Ares untuk punya pacar. Tapi, Ares harus punya sikap tegas saat menghadapi lawan jenis,” ucap Arash, membuat Ares terlihat seperti kebingungan.


“Maksudnya gimana, Kak?” tanya Ares.


“Ya Ares harus tegas. Kalau Ares gak mau, ya bilang gak mau. Jangan Ares sakitin hati laki-laki dengan cara ngegantungin dia. Atau malah jangan memaksakan cinta dan kehendak Ares. Kalau dia gak suka sama Ares, Ares jangan juga ngejar-ngejar dia. Biar bagaimanapun juga, Ares itu perempuan. Koodrat perempuan itu dikejar, bukan mengejar,” ucap Arash menjelaskan, membuat Ares mengangguk-angguk kecil.


“Oh gitu, Kak,” ucap Ares.

__ADS_1


Arash tersenyum, “iya. Jangan sampai harga diri kamu sebagai perempuan diinjak-injak sama laki-laki. Kamu juga harus bisa jaga diri. Jangan pernah terima tamu laki-laki saat sendirian di rumah, jangan pernah terima minuman atau makanan apa pun dari orang yang mencurigakan, jangan pernah mau diajak melakukan sesuatu yang gak boleh dilakukan sebelum waktunya, pokoknya kamu harus bisa jaga diri dan kehormatan kamu sebagai perempuan,” ucap Arash, yang lagi-lagi membuat Ares mengangguk kecil.


“Kok Kak Arash paham, sih?” tanya Ares dengan lugunya.


Arash menggeleng kecil, “biar bagaimanapun juga, Kakak ini laki-laki sayang ... Kakak tahu pikiran kebanyakan laki-laki di luar sana seperti apa. Pokoknya Ares anak baik, Ares anak cantik, harus paham ucapan yang barusan Kakak kasih tahu, ya?” ucap Arash, membuat Ares melontarkan senyumnya dan juga mengangguk ke arah Arash.


“Ares janji, gak akan berbuat yang bikin Kak Arash dan mama malu,” lirih Ares, membuat Arash sedikit tenang mendengarnya.


“Janji?” tanya Arash, sembari menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Ares, membuat Ares menyatukan kelingkingnya juga ke arah Arash.


“Janji.”


Mereka pun tersenyum karena sudah membuat kesepakatan yang menyangkut pribadi Ares. Mereka pun melepaskan jari mereka.


Arash merenung, ‘sepertinya, harus pelan-pelan kasih tahu tentang Ara ke Ares,’ batin Arash, yang mencoba untuk mengatur kata-kata yang mudah dicerna oleh Ares.


“Emm ... Res,” pekik Arash, membuat Ares memperhatikannya.


Arash pun mengambil handphone-nya, kemudian memperlihatkan foto Ara pada Ares, membuat Ares memperhatikannya dengan saksama.


“Kakak yang ada di foto ini, cantik gak?” tanya Arash, membuat Ares tersenyum dan mengangguk dengan spontan.


“Cantik banget, Kak! Ares pengen deh ... kalau Ares udah gede, Ares mau dandan kayak kakak ini,” ucap Ares membuat Arash tersenyum tipis mendengar respon positif darinya.


“Kalau Kakak bilang, dia itu kakaknya Ares, gimana?” tanya Arash dengan nada yang sangat hati-hati, membuat Ares terlihat sedikit berpikir.


Ares tersenyum, “Ares seneng banget dong, Kak! Soalnya Ares mau diajarin ngerjain PR, diajak jalan-jalan, di-make up, diajak belanja, makan es krim bareng, dan lain-lain. Kan seru kalau sama kakak cewek! Kayak di film yang sering Ares tonton itu,” ucap Ares dengan nada yang sangat natural.


Ya, anak kecil mempunyai hati yang sangat tulus. Dia akan selalu mengutarakan apa yang ia rasakan. Dan ia akan selalu berbicara dengan jujur.


Arash mengela napasnya, “bagus deh. Nanti, Kakak kenalin ya sama kakak yang ada di foto ini,” ucap Arash, membuat Ares mendelik senang karena mendengarnya.

__ADS_1


“Wah, yang bener, Kak?” tanya Ares, membuat Arash mengangguk kecil ke arahnya.


“Yes! Aku gak sabar mau ngelakuin semuanya bareng sama kakak cewek aku!” ucap Ares kegirangan karena ucapan Arash tadi.


Arash menghela napasnya panjang, ‘harus seperti ini, pelan-pelan biar kamu paham dan gak kaget nantinya. Sepertinya saya juga harus melakukan ini pada Ara. Tapi sepertinya, akan lebih sulit daripada menghadapi Ares,’ batin Arash yang masih berpikir tentang cara memberitahu kebenaran besar ini pada Ara.


“Mau beli es krim?” tanya Arash, membuat Ares tersenyum dan mengangguk kecil.


“Yuk kita samperin mama, habis itu ... langsung beli es krim yang banyak, sebanyak yang Ares mau!” ucap Arash berusaha membuat Ares senang dengan perlakuannya pada Ares.


Tapi justru, perkataan Arash itu, membuat Ares kehilangan senyumannya.


Arash kaget melihat Ares yang terlihat cemberut, “lho, kenapa?” tanya Arash.


“Jangan makan es krim banyak-banyak. Selain gak baik untuk kesehatan, nanti uangnya jadi kebuang sia-sia. Lebih baik untuk ditabung,” ucap Ares membuat Arash sangat terkejut.


‘Ya ampun, baru aja mau ajarin dia hal yang baik, kenapa malah ngasih hal buruk lagi ke dia? Untung aja dia paham dengan dampaknya,’ batin Arash yang kelepasan dengan yang akan ia lakukan.


Arash tersenyum, dan mengacak-acak rambut Ares.


“Pinter jawab ya sekarang ...,” goda Arash, membuat Ares tersenyum dan segera memeluknya lagi.


“Jadi, gak jadi beli es krimnya, nih?” tanya Arash bermaksud untuk menggoda Ares.


Terlihat senyuman Ares yang nampaknya tak rela, ketika Arash mengatakan demikian. Arash sudah menduga tentang itu, bahwa Ares tidak akan bisa menolak jika semuanya berkaitan dengan es krim.


“Mau, tapi sedikit aja,” ucap Ares yang tersipu malu, membuat Arash tertawa kecil.


“Yaudah, kita samperin mama, yuk?” ajak Arash.


“Yuk!”

__ADS_1


...***...


__ADS_2