
"Sejak di makam kemarin, Fla selalu menghubungi kamu," ucap Ilham tiba-tiba, membuat Arash mendelik.
"Maaf, saya waktu itu sedang kacau," gumam Arash dengan lirih, membuat Ilham tersenyum padanya.
"Yang penting sudah ada kabar di antara kalian," ucap Ilham, membuat Arash mengangguk kecil ke arahnya.
Ara sudah sampai di kamarnya, dan hatinya kini mendadak sangat kesal dibuatnya.
"Plukk ...."
Ara melemparkan handphone-nya ke atas ranjang tidurnya. Dengan segera, Ara pun mengambil handuk untuk sekedar membilas tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.
Perlahan, Ara melepas pakaian yang ia kenakan, lalu menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya terbilas oleh air yang mengalir.
Pikiran Ara sangat kacau saat ini. Bisma sudah sampai di Indonesia, dan dia ingin sekali bertemu dengan Ara sore ini. Di sisi lain, Ilham menyatakan perasaannya dan meminta izin pada Arash untuk mencoba lebih dekat dengan Ara.
Namun saat ini, Ara masih merasakan luka yang begitu dalam, karena tiba-tiba saja Morgan kehilangan kepercayaannya pada Ara, dan dengan mudahnya mengakhiri semua yang sudah mereka bangun selama ini.
Ara meremas rambutnya dengan keras, apa dia tidak pernah memikirkan bagaimana sulitnya perjuangan mendapatkan aku waktu itu? Kenapa dia dengan mudahnya mengatakan kata pisah, pada sesuatu yang belum jelas ia ketahui? Pikir Ara, yang masih saja mengganjal di hatinya.
Ara menghela napasnya panjang, "Jadi ini maksud perkataannya yang katanya jangan suka sama dia?" gumam Ara dengan lirih.
Ia menatap hampa ke sembarang arah. Semua perkataan manis yang terucap dari mulut Morgan, hanyalah kata semu tanpa bisa terwujud.
Pada akhirnya, dia yang meninggalkanku sekarang, pikir Ara.
Ara lagi-lagi meremas kencang rambutnya yang sudah basah, karena terkena percikan air, kalau seperti ini, apa aku bisa melupakan Morgan dengan cepat? Pikir Ara.
"Lantas bagaimana dengan perasaan Bisma dan juga kak Ilham? Walaupun Bisma itu mantan aku, tapi perlahan perasaan aku sama dia udah hilang. Gimana dengan kak Ilham? Dia bahkan udah lama suka sama aku. Mau bagaimana pun juga, aku sama sekali nggak ada perasaan sama kak Ilham," gumam Ara, yang terus-menerus berpikir tentang perasaannya ke depannya pada mereka.
__ADS_1
Padahal saat ini, yang Ara inginkan hanyalah Morgan.
Kenapa keadaan bisa berbalik secepat ini? Kenapa malah aku yang jatuh cinta pada Morgan? Bukankah sebelumnya Morgan yang terus-menerus mengejarku? Pikir Ara yang masih tidak bisa menerimanya juga.
"Arghh!!"
Ara terus-menerus berpikir yang tidak-tidak. Hingga saat ini, Ara menjadi sangat marah.
Aku marah pada diriku sendiri! Kenapa aku tidak bisa mendapatkan ketenangan sedikit saja? Aku memang menyukai laki-laki yang tampan, tapi itu hanya sekadar suka. Kalau untuk mencintai sepertinya dibandingkan Bisma ataupun Ilham, aku lebih mencintai Morgan, pikir Ara yang masih saja belum bisa lepas dari bayangan Morgan di pikirannya.
Ara menyandarkan tubuhnya pada bath tub, dan merasakan udara yang terasa sangat sesak baginya.
Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Apa aku harus menggunakan Bisma, agar Ilham tidak pernah mendekati aku lagi? Apa aku terlalu naif? Ilham secara sukarela membiarkan dirinya terlibat dengan Morgan, hanya untuk menolongku. Namun, aku malah menggunakannya lagi untuk membuat dirinya menjauh dariku, pikir Ara yang sudah sangat buntu.
Ara terus-menerus menghela napasnya, karena merasakan udara yang sepertinya habis, baginya.
Bagaimana ini? Apa aku menyerah saja, dan menerima permintaan kakak untuk melanjutkan pendidikan aku di luar negeri? Paling tidak, aku tidak akan pernah bersentuhan lagi dengan mereka selama beberapa tahun ke depan. Namun, bagaimana dengan kawan-kawan di sini? Walaupun Fla adalah adik kandung Morgan, tapi aku sama sekali tidak membencinya. Aku tidak peduli nantinya akan jadi seperti apa. Yang jelas, aku hanya tahu pertemanan aku dengan Fla saja. Aku tidak memedulikan hubungan masa laluku dengan Morgan, pikir Ara yang masih menimbang-nimbang.
Ara mendelik, dirinya jadi teringat dengan keadaan Dicky saat ini.
Apa dia baik-baik saja? Apa ... aku harus menjenguknya? Pikir Ara yang khawatir dengan keadaan dosennya itu.
...***...
Di sana, Morgan masih menunggu Dicky di luar ruangan. Ia baru menyadari, kalau dirinya masih mengenakan jaket pemberian Ara.
Dengan berat hati, Morgan pun melepaskan jaket itu dengan segera. Walaupun sangat berat untuknya, tapi ia tidak bisa lagi menerima Ara seperti dulu. Ara sudah terlalu banyak membuat hati Morgan sakit.
Morgan memandangi jaket itu dengan tajam, "Saya gak akan pernah kembali lagi sama kamu," gumam Morgan dengan nada yang sangat serius, membuat hatinya merasa sesak sendiri mendengar perkataannya itu.
__ADS_1
Morgan kesal sendiri dengan dirinya, karena ia tidak bisa melupakan Ara secepat itu. Ya, dirinya memang tidak bisa melupakan siapa pun dengan cepat. Untuk melupakan Putri saja, butuh waktu bertahun-tahun supaya bisa benar-benar melupakan.
Morgan meremas kencang rambutnya yang sudah mulai panjang karena tak terurus, "Saya harus gimana?" gumam Morgan dengan perasaan yang sudah sangat hancur dibuatnya.
Morgan sudah tidak punya harapan lagi untuk membuat hatinya kembali seperti dulu lagi. Sepertinya, ini batas dirinya untuk mencintai seseorang. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk menerima wanita lain di hatinya.
"Arghh!!"
...***...
Ara pun bergegas menyelesaikan mandinya, dan bergegas untuk memakai bajunya. Dengan segera, Ara pun menyelesaikan memakai baju, karena dirinya juga yang sudah terlalu dingin berlama-lama terkena air.
Ia memeriksa handphone-nya, khawatir ada notifikasi yang belum terlihat.
Setelah ia periksa, benar saja! Bisma berkali-kali mengirim pesan singkat pada Ara.
Ara memandangnya dengan sendu, sepertinya dia sangat berharap untuk bertemu denganku lagi. Namun, sepertinya sekarang, aku sedang tidak mood, pikir Ara yang tidak respect dengan Bisma.
"Hai, Ra. Gimana sore ini? Kita jadi ketemu, kan?"
"Hallo, Arasha ...."
"Lagi tidur ya?"
"Masih belum bangun juga?"
Pesan singkat dari Bisma yang sejak tadi pagi sama sekali belum terbaca. Ara menghela napasnya dengan panjang. Ia berpikir sejenak karena harus mencari cara untuk menolaknya.
Tapi tidak bisa, karena Ara memikirkan keadaan Bisma, yang sudah jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menemuinya. Itu sama saja, Ara tak punya etika baik padanya.
__ADS_1
Tapi bagaimana dengan Ilham? Dia masih saja menunggu di sana dengan kakak. Apa dia sedang menungguku? Kalau benar dia masih menunggu, akan sangat sulit untuk aku bisa keluar rumah dan menemui Bisma, pikir Ara.