
Reza menghela napasnya panjang. Dalam lubuk hati Reza yang paling dalam, ia sama sekali tidak bisa untuk mengatakannya. Namun, berhubung dirinya sudah sangat tertekan dengan perasaannya, dan juga Ara yang mungkin saja selalu menyalahkannya, menjadi pemicu Reza untuk berbicara padanya.
Reza memandang Ara dengan sendu, "Gue minta maaf, karena kejadian yang loe lihat waktu itu, gak seperti yang loe bayangin, Ra," gumam Reza, masih membuat Ara mendelik tak paham.
"Coba jelasin maksudnya dengan rinci," gumam Ara, yang ingin sekali mendengar penjelasan dari Reza.
"Gimana ya ...," gumam Reza, yang sepertinya bingung untuk mengatakan semuanya.
Ara melihat ke arah jam di tangan kirinya, "Waktu loe tinggal 3 menit," gumam Ara mengingatkan.
Reza menelan salivanya dengan kasar, karena ia merasa tenggorokannya sangat kering saat ini.
"Gini, Ra. Apa yang loe lihat waktu itu, saat hari ulang tahun gue, itu gak seperti yang loe kira. Gue ... sengaja berbuat seperti itu, biar loe ngejauhin gue," gumam Reza membuat Ara mendelik.
"Apa?" gumam Ara tak percaya dengan apa yang Reza jelaskan.
"Huft ...."
Reza kembali menghela napasnya dengan panjang.
"Itu semua gue lakuin, karena dokter udah vonis gue mati, gak lama lagi karena kanker otak yang gue derita."
"Tess ... tess ...."
Cairan bening dari mata Ara, berjatuhan membasahi pipinya. Seketika wajah Ara terasa sangat panas, tak percaya dengan apa yang Reza katakan.
"Gue sengaja lakuin itu, supaya gue bisa tenang dengan kematian gue, Ra. Gue gak mau loe sedih, kalau loe tahu penyakit yang udah gue tahan selama ini," ucap Reza menjelaskan.
__ADS_1
Ara semakin tak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
Ucapan Reza membuat sedikit banyaknya hati Ara terasa tersayat kembali. Ia sama sekali tidak bisa merasakan perasannya sendiri.
"Walaupun dokter udah vonis gue, gue gak nyerah gitu aja, Ra! Gue nyoba berbagai macam cara, untuk bisa sembuh dari penyakit ini. Karena peralatan medis di Indonesia yang masih belum memadai, gue akhirnya lari ke Amerika, buat ngobatin sakit gue ini," ucap Reza menjelaskan, membuat Ara tak henti-hentinya mendelik kaget mendengar ucapannya.
Tak ada yang bisa Ara lakukan. Hanya diam dan menangis, yang bisa membuat dirinya kembali merasakan perasannya.
Mendengar hal yang Reza katakan, Ilham jadi merenung sendiri dengan nasibnya setelah ini. Karena bisa jadi, Ara akan kembali bersama dengan Reza lagi, jika Ara berubah pikiran.
Hati Ilham lagi-lagi terluka mendengar pengakuan Reza yang demikian.
Reza menunduk sendu, "Singkat cerita, gue akhirnya bisa sembuh dari penyakit yang gue derita, dan dokter nganjurin untuk selalu olahraga dan menjaga fisik. Itu sebabnya gue beraktivitas lagi seperti biasa, bahkan sekarang gue juga lanjut pendidikan di Amerika sana."
Reza menatap Ara dengan dalam, "Selama itu, gue sama sekali gak bisa ngelupain loe sedikit pun, Ra."
Ara menunduk, tak kuasa mendengar ucapan Reza menyangkut tentang hati dan perasaannya pada dirinya.
"See? Gue masih simpan hadiah yang loe kasih waktu itu. Meskipun udah gue ganti dengan tali yang baru, karena waktu itu loe ngerusak hadiah yang loe mau kasih buat gue," gumam Reza, semakin membuat dada Ara sesak mendengarnya.
Ara memegangi dadanya, karena merasa sesak dengan keadaan yang sama sekali tidak masuk logikanya.
'Jadi gue harus gimana? Maksudnya apa ini, hah?' batin Ara yang tidak bisa menerima semua kenyataan itu.
Reza memandang miris ke arah Ara, membuatnya tak tega dengan keadaan Ara saat ini. Reza yang tersentuh dengan keadaan Ara, membuatnya ingin sekali menyentuh wajah Ara.
"Ra ...," gumam Reza sembari mengulurkan tangannya ke arah wajah Ara, tetapi Ara menepiskan tangan Reza, membuat Reza mendelik kaget karenanya.
__ADS_1
"Gak usah sentuh gue!" bentak Ara, membuat Ilham yang mendengarnya menjadi mendelik karenanya.
'Ara disentuh?' batin Ilham yang sedikit cemburu dengan mereka.
Reza mendelik tak percaya dengan reaksi Ara, "Kenapa, Ra?" tanya Reza, membuat Ara menguatkan dirinya untuk speak up kali ini.
"Kenapa? Loe masih tanya kenapa? Harusnya loe sadar diri, karena keputusan sepihak loe yang loe ambil dulu, bikin gue jadi muak banget sama loe! Loe tau gak, seberapa kuatnya gue buat self healing, demi ngelupain loe? Loe tau gak penderitaan yang gua alami selama beberapa tahun ke belakang ini?" tanya Ara dengan sinis, membuat Reza tak percaya dengan apa yang Ara ucapkan.
"Pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malem, malem sampai pagi lagi, gue selalu mikirin loe, dan mikirin bagaimana cara buat gua lupain loe. Pada akhirnya, loe tiba-tiba dateng minta maaf ke gue, tentang semua hal yang udah loe lakuin ke gue?" gumam Ara, yang emosinya sudah mulai meledak.
Reza memandang Ara dengan sendu, "Maafin gue--"
"Loe pikir, dengan loe minta maaf sama gue, masalah ini akan bisa selesai gitu aja, Za? Enggak, Za! Gak akan pernah masalah ini selesai gitu aja, hanya karena loe udah ngucapin kata maaf!" potong Ara, membuat Reza menjadi sendu mendengarnya.
Reza sangat menyadari semua hal yang ia ambil kala itu, pasti akan berakibat sangat fatal untuk semua hal yang menyangkut permasalahan hubungan mereka ke depannya. Namun, Reza tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa harus mengambil keputusan seperti itu, karena ia tidak ingin Ara sampai merasa sedih karena kehilangan dirinya.
Cukup Reza yang merasakan sakitnya menanggung penyakit mengerikan itu. Reza tidak ingin membagi keluh-kesahnya pada Ara. Ia tidak ingin gadis yang sangat ia cintai itu, sampai harus menanggung rasa perih kehilangan dirinya.
Namun, jika dipikir kembali, apa bedanya dengan membiarkan Ara membenci dirinya? Toh, sama-sama meninggalkan Ara?
Pasti Reza memiliki alasannya sendiri untuk melakukan itu. Ya, kembali lagi. Setiap orang memiliki pemikiran dan cara menyelesaikan suatu masalah yang berbeda-beda. Inilah cara Reza menghadapi permasalahannya menyangkut kesehatannya.
Tangis Ara pecah seketika, membuat Reza semakin tak tega melihatnya.
"Ra--"
"Cukup, Za! Jangan loe temuin gue lagi. Gue udah terlalu benci sama loe!" bentak Ara, membuat Reza tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang sendu.
__ADS_1
"Gue pernah sayang sama seseorang, tapi orang itu menciptakan drama yang sampai melukai jiwa dan raga gue. Apa masih layak dipertimbangkan lagi? Gue rasa, cukup sekian dan terima kasih," gumam Ara berterus-terang dengan perasaan yang ia miliki saat ini.
Ara pun pergi meninggalkan Reza di sana, dengan kemarahan dan emosi yang sudah kalut, melebur jadi satu.