Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Gadis Misterius


__ADS_3

“Prof Handoko,” jawab Morgan dengan sangat singkat, membuat Pak Hendi mengangguk paham.


“Ada lagi yang ingin ditanyakan mengenai aula dan lain-lain, Pak Hendi?” tanya Morgan.


“Tidak ada, Pak. Mungkin nanti saya akan bertanya lagi dengan Pak Handoko, jika ada pertanyaan yang akan saya ajukan,” jawab Hendi, membuat Morgan mengangguk kecil.


“Baiklah, saya rasa, acara ini cukup sampai di sini. Jika ada pertanyaan, silakan hubungi Prof Handoko. Mengenai jadwal mengajar kalian, mungkin nanti akan saya sesuaikan dulu agar tidak bentrok dengan kegiatan yang lainnya. Tapi yang jelas, kegiatan dimulai setelah semester ini usai. Sekian, terima kasih,” Morgan mengakhiri pertemuan kali ini.


Morgan buru-buru pergi meninggalkan mereka yang masih berada di ruangan itu. Ia sudah tidak tahan dengan keadaan sekitar yang membuat kepalanya hampir meledak itu.


Morgan bergegas menuju ke ruangannya untuk sekedar bersantai dan beristirahat dari kepenatannya.


“Clekk ....” Morgan membuka pintu ruangannya.


“Brukk ....” Ia menutup kembali pintu itu.


Morgan berjalan menuju sofa, dan menghempaskan dirinya di atas sofa ruangannya. Tak terasa, hal seperti ini juga bisa menguras banyak energinya.


“Drtttt ....”


Handphone Morgan bergetar. Ia merogoh saku celananya dan melihat isi pesan yang masuk.


“Jangan lupa makan siang.”


Isi pesan singkat dari Ara.


Morgan tersenyum tipis karena melihat pesan singkat darinya.


Kebetulan sekali, Morgan juga sampai tidak sarapan pagi ini.


Morgan merasa, maagh kronis yang ia derita, sudah mulai kambuh.


Sejak kepergian Putri, hidupnya menjadi lebih berantakan dan juga hancur. Ia jadi sering tidak makan, dan lebih sering menyendiri di kamar.


Yang ia lakukan hanyalah meminum shochu saja. Tak disangka, itu malah membuat suatu penyakit di dirinya.


Untung saja, saat itu Arash selalu membelikan makanan, saat Morgan berada di kampus. Kalau tidak, entah mungkin ia tidak akan menyentuh makanan sedikit pun.


Seiring berjalannya waktu, Morgan mengubah sedikit pola hidupnya. Saat Morgan melanjutkan S-2 di Jepang, ia mulai teratur kembali untuk soal makan, karena Meygumi yang selalu ada untuknya.


Tapi, itu hanya sementara.


Morgan hanya kembali lagi pada masa kelamnya yang menyiksa dirinya lagi. Terlebih lagi setelah kembali ke tanah air, ia sudah mulai tidak bisa merawat dirinya lagi.

__ADS_1


Sampai akhirnya Morgan berpikir untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, karena dirinya yang kembali bertemu dengan Ara. Orang yang sejak dulu ia sukai, sebelum mengenal Putri.


Padahal, saat itu Ara masih belum sedewasa ini. Morgan hanya mengenalnya saat dirinya mengunjungi rumah Arash, untuk mengerjakan soal persiapan ujian kelulusan SMA bersama-sama.


Saat itu, Ara masih sangat kecil. Dia masih sangat imut dan lugu karena usianya yang masih 8 tahun.


Indahnya zaman itu, pikir Morgan.


Morgan mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar foto. Morgan memperhatikannya dengan sangat bahagia. Pada foto itu, terlihat Morgan dan juga Ara yang sedang tersenyum memandang ke arah kamera.


Saat itu, Ara yang selalu posesif untuk mengajak Morgan berfoto bersamanya. Dia suka sekali memotret dirinya. Morgan jadi tertarik untuk memotretnya. Setiap Morgan mengunjunginya, Ara selalu berdandan, layaknya anak remaja yang sedang kasmaran.


Tentu saja itu semua ia lakukan, dengan tujuan agar Morgan bisa memotretnya dengan cantik.


Morgan hanya bisa tersenyum, sembari mengingat kejadian antara dirinya dan juga Ara pada masa lalu.


“Gak terasa. Perasaan ini sudah terkubur selama 10 tahun lamanya, dan kembali lagi sekarang,” lirih Morgan, sembari tetap menatap selembar foto itu.


Morgan merasakan dirinya yang bahagia karenanya.


“Tapi, saya gak tahu, sampai kapan saya bisa bertahan dengan kamu seperti ini,” lirih Morgan, yang kembali mellow dengan keadaan.


Ada sesuatu hal yang Morgan khawatirkan jika ia benar-benar harus melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi bersama Ara. Ia masih belum terpikir sampai ke sana. Masih banyak hal yang harus dipertimbangkan, sebelum bisa melangkah maju ke depan.


“Tok ... tok ... tok ....”


“Masuk,” teriak Morgan.


Seseorang masuk ke dalam ruangan Morgan, sembari membawa plastik di tangannya. Morgan menjadi penasaran dengan apa yang ia bawa.


“Permisi, Pak. Saya mengantarkan makanan yang dipesan gadis yang katanya sih pacar bapak,” ucapnya.


Morgan agak tersentuh mendengarnya.


Baru saja bernostalgia tentangnya, tak kusangka, Ara seperhatian ini sekarang, pikir Morgan.


Morgan pun mengambil bingkisan itu.


“Makasih banyak, ya,” ucap Morgan.


“Permisi, Pak.”


Sang pengantar makanan itu pun pergi dari ruangan Morgan.

__ADS_1


Morgan segera duduk di kursinya, sembari membuka makanan yang sudah Ara pesankan untuknya.


Morgan melihat, di sana ada nasi goreng kesukaannya. Ia tersenyum dan mencicipi sedikit makanan itu.


Morgan segera mengambil handphone-nya. Ia ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada Ara.


“Terima kasih. Makanannya enak,” Morgan mengetik di kolom chat.


Tapi ia merasa, sepertinya itu terlalu formal.


Morgan menghapus kembali pesan yang sudah ia ketik tadi.


Morgan kembali memikirkan ucapan terima kasih yang bagus untuknya.


“Baik banget sih pake ngirim makanan segala.”


Morgan membacanya ulang. Sepertinya, ia mengatakan hal seolah Ara selama ini tidak berlaku baik padanya.


Dengan perasaan resah, ia kembali menghapus pesan itu.


“Ahh ... kenapa jadi pusing sendiri mikirin chat ke pacar sendiri?” gumam Morgan dengan kesal.


Ia meletakkan handphone-nya di meja, lalu memakan kembali makanannya, sambil terus memikirkan ucapan apa yang cocok untuk berterimakasih padanya.


“Drrtt ....” Tiba-tiba saja handphone Morgan bergetar, membuatnya menghentikan aktivitasnya.


Ada satu pesan masuk dengan nomor yang tidak ia kenal.


Morgan yang penasaran, lekas membuka pesan singkat itu dan segera membacanya.


“Nasi gorengnya enak, kan? Aku tau kamu suka nasi goreng.”


Isi pesan singkat itu.


Morgan mendadak kaget dengan isi pesannya. Ternyata, bukan Ara yang mengirim makanan ini untuknya.


Morgan merenung, selain karena ia tidak mengetahui tentang siapa yang sudah mengirim makanan itu untuknya, ia juga merenung karena sudah beruntung sama sekali belum mengirim ucapan terima kasih kepada Ara. Kalau sudah sempat, mungkin saja anak itu akan berulah lagi.


Sifat kerasnya masih belum sepenuhnya bisa Morgan kendalikan.


Morgan mendelik tak percaya, “jadi, siapa yang ngirim makanan ini, dan mengaku jadi pacar saya?” lirih Morgan dengan sinis.


Mengingat kejadian janggal yang terjadi ini, Morgan menjadi risau terhadap dirinya. Mungkin saja ini bukanlah satu-satunya. Tidak ada yang tahu, jika seandainya orang misterius itu kembali mengirimkan sesuatu lagi untuk Morgan.

__ADS_1


Kalau sudah seperti ini, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Aku tidak mau menerima apa pun lagi setelah ini, pikir Morgan yang mulai membatasi dirinya.


“Bruukkk ....”


__ADS_2