
Ara langsung mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil. Morgan sudah semakin pandai menggoda Ara, sampai bisa membuat Ara tersipu malu. Padahal, bukan Morgan namanya, Morgan tidak bisa menggoda wanita yang sedang ia dekati. Hanya dengan Ara ia bisa menggodanya.
Ara menoleh kembali kepada Morgan yang sudah pindah ke posisi biasa ia menyetir mobil.
“Jalan kek! Udah jam berapa nih!” bentak Ara, Morgan menoleh ke arah jam tangan yang saat ini ia pakai.
Jam tangan yang unik. Talinya seperti kulit asli, dan berwarna cokelat. Jam tangan dari Swiss ini, tampaknya cukup membuat aura Morgan yang dingin menjadi bertambah damage-nya. Cocok juga dipakai dengan Morgan. Tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil.
‘Thor, apaan sih malah mikirin si dosen idiot itu? Gue lagi males tau gak. Ganti topik, woy!’ bentak Ara dalam hati pada author, yang nampaknya terus-menerus memuji sosok Morgan.
Ya, siapa yang tidak terkesima dengan sosoknya? Author saja sampai meleleh membayangkannya.
Hehe.
“Oke, kita jalan,” gumam Morgan.
Akhirnya, setelah lama mendramatisir keadaan, mereka pun pergi menuju salah satu mall yang cukup besar di kota ini, untuk menonton film yang sudah dipesan beberapa waktu lalu oleh Morgan.
Mereka turun dari basement dan bergegas menuju lobby mall tersebut.
“Saya lapar. Gimana kalau kita makan dulu?” tanya Morgan tiba-tiba, membuat Ara mendadak menjadi kesal.
Ara ingin sekali cepat menyudahi kencan buta ini. Ia sudah tidak betah berlama-lama dengan keadaan yang membuatnya sampai canggung setengah mati.
“Gue gak mau. Gue pengen buru-buru pulang. Gue gak suka di tempat rame lama-lama,” tolak Ara, sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
“Tapi, film dimulai jam sepuluh malam nanti. Kita mau ngapain lagi sebelum jam sepuluh nanti?” ujar Morgan, membuat Ara terkesiap, membelalak ke arahnya.
Morgan benar-benar idiot!
Kenapa dia mengambil jam yang harusnya dipakai untuk beristirahat, sih? Apa dia tidak memikirkan aktivitas besok hari? Bagaimana kalau aku sampai terlambat masuk ke kampus? Pikir Ara.
“Gila loe, ya! Ngapain loe ngambil jam sepuluh malem? Yang lain udah pada tutup, kita baru mau nonton!” Ara memaki Morgan dengan kasar.
“Sebelumnya saya sudah memperingatkan kamu, bukan? Kamu boleh menolaknya, kalau kamu tidak berkenan. Kamu sudah menerima, jadi, kamu mau tidak mau harus menjalani ini,” ucapan Morgan lagi-lagi membuat Ara membelalak, dan tidak bisa berkata apa pun lagi.
Ara hanya bisa memandangnya dengan tatapan tajam, tak paham dengan jalan pikiran Morgan.
‘Kenapa gue bisa ceroboh begini, sih? Kenapa gue gak ngecek jam mulai bioskopnya dulu?’ batin Ara yang sudah mulai kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
‘Dasar gue bodoh.’
Mau tidak mau, Ara harus mengikuti kemauan Morgan, meskipun kesal, ia harus melakukannya.
“Ayo,” ajak Morgan, sembari menggandeng tangan Ara, tak disangka Ara malah diam saja ketika Morgan menggandeng tangannya seperti ini.
Morgan mengajak Ara ke suatu tempat untuk sekedar mengisi perutnya yang lapar.
‘Lain kali, gue gak akan mau nerima ajakan dia,’ batin Ara masih geram saja dengan kejadian ini.
Mereka sudah sampai di sebuah tempat untuk makan. Ara duduk di hadapan Morgan, yang sudah lebih dulu memegang menu makanan.
“Huft ….”
“Mau makan apa?” tanya Morgan, sembari membuka lembar demi lembar menu tersebut.
Ara mengambil buku menu lainnya yang berada di atas meja, lalu melihat seluruh isi menunya.
Saat Ara melihat isi menu dan memilih beberapa menu, Ara terganggu sekali dengan obrolan dua pelayan wanita itu. Mereka berbisik, seakan menyukai Morgan.
Ara hanya mendengar sedikit, mereka mengucap kata “tampan” yang membuat Ara kesal sekali dan panas mendengarnya.
Ara menggebrak meja dengan keras, “eh, loe berdua, gak usah bacot deh ya!” bentak Ara dengan spontan.
“Udah lah. Kamu kenapa, sih?” tanya Morgan yang tidak mengerti dengan kejadian yang terjadi.
Ara kesal sekali! Kenapa Morgan malah membela mereka? Harusnya Morgan membela dirinya, bukan?
“Loe juga diem!” bentak Ara pada Morgan, “kenapa sih, loe malah belain orang ini?” sambungnya.
Morgan selalu menghadapi Ara tanpa ekspresi. Ia terlihat sangat dingin, dan tetap pada pendiriannya untuk menjaga image-nya. Ditambah lagi, memang Morgan sebetulnya tidak mengerti dengan yang terjadi saat ini.
“Gue mau ke toilet dulu,” ujar Ara lalu meninggalkan tempat itu tanpa menunggu persetujuan dari Morgan.
Morgan melihatnya dengan tatapan yang heran, kenapa bisa Ara bertingkah seperti itu, bahkan terhadap orang yang tidak ia kenal?
‘Waktu di mini market sama mbak kasir, sekarang sama pelayan,’ batin Morgan sembari menggelengkan kepalanya.
“Maaf ya, Mbak. Istri saja memang begitu tabiatnya. Cemburuan,” lirih Morgan, yang berusaha menetralkan suasana.
__ADS_1
“Oh, itu istrinya? Saya kira adiknya ….”
Ucapan pelayan itu menyadarkan Morgan tentang usia mereka yang memang terpaut sangat jauh. Morgan berusia 28 tahun, sementara Ara baru saja menginjak usia 18 tahun.
Morgan tiba-tiba saja merenung, karena secara tak sengaja, ucapan pelayan itu membuat hatinya menjadi down.
Di sisi sana, Ara berjalan tak tentu arah. Tujuannya pergi dari sana hanya untuk menghilangkan rasa kesalnya karena kejadian tadi saja. Semenjak Ara mengenal Morgan, hidupnya setiap hari harus melewati banyak drama.
Ara sudah bosan tarik urat terus seperti ini.
“Kenapa coba, gue ketemu dia?” lirih Ara, yang seakan menyalahkan takdir.
“Kenapa bisa gue kenal sama dia?” Ara menarik tasnya yang tersungkur di lantai, dengan gontai, “hubungan kita itu, cuma sebatas antara dosen sama mahasiswa aja, udah ... itu aja. Gak lebih, kok,” ucap Ara.
Ara pun berhenti sejenak, dan menghela napas panjang.
“Huft ….”
Sepertinya Ara sudah lelah dengan drama percintaan yang tidak jelas ini.
“Kenapa juga gue harus tidur bareng sama dia? Kalau udah gini kan, gue jadi gak bisa lepas dari dia,” ucap Ara yang seperti sedang menyesali perbuatannya dengan Morgan waktu itu.
Ara memandang ke arah kerumunan. Hatinya sepi, meski berada dalam kerumunan seperti sekarang ini.
“Kenapa gue bego, coba?”
Ara memaki dirinya sendiri, sepertinya sudah kesal dengan semua yang terjadi dengannya.
Kapan semuanya berakhir dengan indah?
Tanpa sadar, Ara tak sengaja melihat jam tangan, yang mungkin akan sangat bagus jika Morgan memakainya.
Ara perlahan mendekatinya. Kalau dilihat secara dekat, jam ini ternyata sangat mirip dengan jam tangan yang Morgan pakai tadi.
“Eh, kok jamnya mirip sih sama yang Morgan tadi pake?” lirih Ara, sembari tetap memperhatikannya dengan seksama.
Ara jadi tertarik untuk membelinya, untuk memberikannya sebagai hadiah untuk Morgan. Jadi, Ara tidak punya hutang lagi padanya.
“Beli aja deh.”
__ADS_1
Ara pun beranjak masuk ke dalam toko jam tersebut, untuk melihat-lihat dan membeli jam tangan yang ia lihat tadi.
***