Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Ada Apa?


__ADS_3

Ares mengerenyitkan dahinya, "kok Kak Ilham ketawa sih?" tanya Ares, membuat Ilham menghentikan tawanya.


"Jadi, Kakak gak boleh ketawa, nih?" tanya Ilham, membuat Ares menyeringai.


"Boleh, sedikit aja," ucap Ares dengan nada yang membuat Ilham menjadi gemas dengannya.


Ilham menghentikan tawanya, dan segera bangkit dari posisi bersimpuh. Ia memandang ke arah Bunga, yang sejak tadi hanya terdiam sembari memandangi mereka.


"Kalau gitu, saya pamit," pamit Ilham pada Bunga, "apa semua dokumen Ares, sudah disiapkan dengan lengkap?" tanya Ilham.


"Sudah. Kalau ada kekurangan, nanti menyusul," jawab Bunga, membuat Ilham mengangguk kecil.


Ares memandang ke arah ibunya, "mama kenapa gak ikut aja sih ke rumah kak Arash?" tanya Ares, membuat Ilham mendelik tak percaya dengan apa yang Ares ucapkan, begitu pun Bunga.


Bunga melontarkan pandangannya ke arah Ilham. Mereka sejenak saling pandang, hingga akhirnya kembali melihat ke arah Ares.


"Mama kan harus kerja, Ares juga tahu itu. Mama gak mungkin gak kerja dong ...," ucap Bunga, membuat Ares mengerutkan bibirnya.


"Kan hari ini libur. Masa iya mama kerja setiap hari," ucap Ares masih dengan nada yang seperti meminta Bunga untuk ikut bersamanya juga.


Mendengar perkataan Ares, membuat Bunga bingung, harus menjawab apa lagi setelahnya.


'Sepertinya ini gak akan baik jika diteruskan,' batin Ilham, yang harus mengambil sikap tegas dalam situasi seperti ini.


Ilham mengelus rambut Ares dengan lembut, "Ares ... katanya mau jalan-jalan? Yuk, nanti keburu malem, gak bisa makan es krim deh," ajak Ilham, yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan, agar Ares bisa teralihkan.


Pandangan Ares seketika berubah menjadi kesal, "kenapa sih mama gak mau ikut ke rumah kak Arash? Ares kan mau habisin week end besok bareng mama dan kak Arash. Cuma week end aja, kok. Mama juga gak kerja, kan?" ucap Ares, yang semakin memaksa, sampai ucapan Ilham pun tak ia gubris.


Bunga kembali memandang ke arah Ilham, yang juga sendang memandang ke arahnya.


Ilham segera merogoh saku jasnya, kemudian segera menelepon Arash.


Ilham menunggu beberapa saat untuk bisa terhubung dengan Arash.


"Halo."


Terdengar suara Arash dari ujung sana, membuat Ilham menghela napasnya.


"Apa saya mengganggu?" tanya Ilham.


"Santai, saya masih di rumah kok. Gimana, sudah sampai lokasi?" ucap Arash.

__ADS_1


"Ya, saya sudah sampai di lokasi. Sepertinya, ada yang ingin Ares katakan," ucap Ilham, membuat Arash yang berada di ujung sana, mengerenyitkan dahinya.


Ilham segera membuka loud speaker di handphone-nya.


"Kak Arash! Pokoknya besok jangan ke mana-mana. Aku mau jalan-jalan bareng sama mama dan Kakak!" teriak Ares yang terdengar sangat imut.


Ucapan Ares membuat Arash mendelik tak percaya. Arash pun menghentikan aktivitasnya, yang sedang merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya.


'Dengan kata lain, Bunga ikut pulang ke sini?' batin Arash.


"Kak, jawab dong ...," rengek Ares, membuat Arash tersadar dari lamunannya.


'Duh, gimana dong?' batin Arash yang kebingungan dengan keputusannya.


"Ka ...," pekik Ares, membuat Arash kembali terkejut.


"Hmm ... memangnya mama gak kerja?" tanya Arash, mencoba untuk berbasa-basi pada Ares, untuk sekedar meredam sedikit emosinya.


"Besok kan weekend, masa mama kerja mulu, sih!" rengek Ares, membuat Arash menghela napasnya panjang.


'Duh, gak ada alasan juga untuk menolaknya. Kenapa besok masih hari minggu, sih?' batin Arash.


Mendengar perkataan kakaknya, Ares pun mendelik kegirangan, "yeay ... akhirnya kita bisa jalan-jalan bareng," ucap Ares kegirangan, membuat Ilham memandang ke arah Bunga dengan tatapan tajam.


'Wanita ini, entah apa yang saat ini ia pikirkan,' batin Ilham, yang sangat sinis memikirkan wanita yang kini ada di hadapannya.


Bunga pun memandang ke arah Ilham, membuat Ilham tersadar dan tak sengaja memandangnya.


"Kalau gitu, saya permisi berkemas sebentar," ucap Bunga, membuat Ilham tak bisa berbuat apa pun lagi karena Arash yang juga sudah menyetujuinya.


"Baiklah. Saya ke mini market sebentar, ajak Ares beli es krim. Apa kamu butuh sesuatu? Biar sekalian saya beli," ucap Ilham, membuat Bunga tersenyum hangat ke arahnya.


"Kalau bisa, tolong belikan saya es krim juga," pinta Bunga, membuat Ilham mendelik.


'Ternyata, dia masih sama seperti dulu, yang sangat menyukai es krim. Saya jadi teringat tentang tragedi es krim, yang membuat Arash harus babak belur karenanya,' batin Ilham, yang sedikit malas mengingatnya.


"Oke," ucap Ilham dengan singkat.


Ilham pun menoleh ke arah Ares, "kita beli es krim yuk," ajak Ilham, membuat Ares mendelik senang ke arahnya.


"Yuk."

__ADS_1


Mereka pun meninggalkan Bunga di sana. Ketika mereka sudah pergi, Bunga pun bergegas masuk ke dalam rumahnya, dan segera mengemas barang-barang yang ia perlukan.


Di sana, Arash sedang merasa kebingungan dengan keadaan. Ia merasa ada hal buruk yang nantinya akan terjadi padanya, jika Bunga sampai kembali ke rumah ini lagi.


Sudah lama sekali, sejak sepeninggalan kedua orang tua Arash, Bunga sama sekali tidak menginjakkan kakinya lagi di rumah Arash.


Apa akan baik-baik saja? Pikir Arash, yang sedari tadi hanya bisa mondar-mandir di depan meja kerja, yang ada di rumahnya.


"Duh ... gimana ini?" gumam Arash yang sudah terlalu buntu dengan keadaan.


"Dring ...."


Handphone-nya tiba-tiba saja berdering, membuatnya menjadi kaget karenanya.


Arash segera mengangkat telepon itu.


"Halo, Pak. Apa kabar?" tanya Arash, yang menerima telepon dari client-nya.


"Halo, Pak Arash, kabar baik. Bagaimana persiapan meeting sore ini?" tanyanya, membuat Arash mendelik, karena teringat dengan acara yang akan ia datangi.


"Oh, persiapan sudah selesai, Pak. Silakan datang ke hotel Orion. Kebetulan, saya juga sedang bersiap untuk meluncur ke lokasi," ucap Arash, sembari melanjutkan merapikan berkas yang masih berserakan di atas meja kerjanya.


Arash memasukkan seluruh berkas secara asal, membuatnya tidak bisa membedakan, mana berkas yang terpakai, dan mana berkas yang sudah ia corat-coret tadi.


"Baik, Pak. Sampai jumpa di lokasi ya pak," ucap Arash, yang segera memutuskan sambungan teleponnya.


Arash langsung mengambil tasnya, dan bergegas pergi menuju mobilnya.


"Pukk ...."


Langkahnya terhenti, karena ia melihat sebuah tas genggam terjatuh di hadapannya, yang sepertinya tidak asing baginya.


Arash mengerenyitkan dahinya, dan segera mengambil tas genggam tersebut.


Arash terdiam sembari berpikir sejenak.


"Ini milik Fla. Ditemukan di dalam lift kemarin. Memang tidak ada uangnya sih, tapi di dalamnya ada semua kartu-kartu penting miliknya." Ucapan Ilham yang masih Arash ingat sampai saat ini.


Arash mendelik, "ternyata punya Fla. Nanti saya balikin," gumam Arash yang segera memasukkan tas genggam itu ke dalam tas miliknya, kemudian bergegas untuk pergi ke acara yang sudah ia buat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2