Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Interogasi Jessline 2


__ADS_3

“Jawab,” lirih Lidya yang sudah gemas dengan Jess.


Tak bisa dipungkiri, Lidya juga memendam rasa kesalnya terhadap Jess, karena di saat jam pelajarannya, Jess sama sekali tidak bisa mengikuti pelajaran dengan benar.


“Saya langsung pulang, dan gak sengaja ketemu seseorang di dekat gerbang sekolah. Saya bercengkerama sejenak,” jelas Jess dengan nada yang agak ragu, karena malu dengan Morgan.


Ia tidak ingin Morgan tahu, kalau dirinya yang sudah pernah menjalin hubungan dengan Arash.


Dicky mendekat ke arahnya, “bercengkerama? Dengan siapa?” tanya Dicky, membuat Jess semakin khawatir dengan keadaan yang terlalu mencekam.


“A-arash,” jawab Jess dengan rasa takut, Morgan mendelik seketika mendengar nama Arash.


‘Apa hubungannya Jess dengan Arash?’ batin Morgan yang kebingungan dengan penjelasannya.


Morgan berusaha berpikir.


‘Apa ada hubungannya dengan kondisi Arash kemarin? Saat ia bertanya tentang Jessline padaku?’ batin Morgan, yang sudah mulai membuka pikirannya.


“Arash? Ada hubungan apa kamu sama dia?” tanya Dicky, tapi Jess hanya membungkam.


‘Arash pernah bilang ingin menemui seseorang di kampus, apa yang dimaksud benar menemui Jessline? Sebetulnya, ada hubungan apa antara Jess dengan Arash?’ batin Morgan kembali berpikir keras.


Morgan segera mengambil sikap, “sudahlah Dicky, yang kita butuhkan hanya informasi mengenai kasus Fla, jangan mencampuri urusan orang lain,” ucap Morgan, membuat Dicky merasa tak enak dengannya.


“Baiklah. Saya ingin bertanya, karena kamu adalah teman dari Callista, Yusfira, dan Lisa, yang sudah berbuat bullying terhadap Fla,” ucap Dicky.


“Tapi saya gak tahu apa-apa, Pak!” bentak Jess, membuat Dicky menoleh ke arah Lidya, begitu pun sebaliknya.


“Sepertinya memang benar, kalau Jess tidak tahu apa pun tentang permasalahan kali ini,” ucap Lidya menyimpulkan.


Morgan hanya terdiam mendengarnya.

__ADS_1


“Paling tidak, yang namanya anggota genk, pasti tahu rencana dari teman satu circle-nya. Apa kamu tahu, motif dari mereka untuk melakukan hal demikian?” tanya Dicky.


“Ya … gitu deh. Karena mau bales dendam sama Ara, makanya mereka bikin siasat buat bales dendam ke orang-orang terdekatnya Ara,” jawab Jessline, membuat Morgan terkejut.


‘Ternyata benar dugaan Dicky waktu itu,’ batin Morgan.


Dicky membuat spekulasinya sendiri.


“Balas dendam? Memangnya kenapa mereka mau balas dendam ke Ara?” tanya Dicky yang masih ingin mendengar beberapa penjelasan langsung dari mulut Jessline.


“Karena Ara udah mukul Aca waktu itu,” jawabnya.


Dicky kembali mendekatkan wajahnya ke arah Jessline, “tidak mungkin ada asap, kalau tidak ada apa, bukan? Apa alasannya Ara bisa memukul Aca?” tanya Dicky, membuat Jessline menelan salivanya dengan cepat.


“Jawab,” lirih Dicky.


“Karena Aca yang udah ngatain Ara pel*acur,” jawab Jess, membuat Morgan tertarik dengan penjelasannya.


Dicky menyunggingkan senyumnya. Ia mengeluarkan secarik kertas yang berisi foto Ara yang sedang bermesraan dengan pria Jepang itu, saat dipergoki dengan Dicky.


Jess menatapnya dengan mata mendelik.


“Apa kamu bisa menjelaskan, asal-usul foto ini kepada kami?” tanya Dicky, yang lagi-lagi membuat Jessline terkejut.


Morgan yang melihatnya pun terkejut, karena ia baru melihat kertas tersebut.


“I-itu …,” lirih Jessline yang merasa ragu dengannya.


“Tidak bisa jawab?” tanya Lidya, yang semakin memperkeruh keadaan.


“Jelas-jelas ini adalah foto yang sudah di-crop. Karena pada saat kejadian, ada saya di sana, yang jelas-jelas saksi mata, atas kejadian itu. Apa kamu tahu, siapa yang berani mengambil foto ini, dan mencetaknya?” tegas Dicky, “lalu, siapa yang menempelkan kertas ini di madding kampus?” sambungnya, membuat Morgan dan Lidya menganga kaget.

__ADS_1


“I-itu semua ulah Aca,” ucap Jessline, membuat Morgan dan Lidya semakin terkejut.


“Kenapa ulah Aca?” tanya Dicky lagi.


“Karena dia dendam sama Ara. Ara waktu itu nyenggol Aca waktu di toilet, makanya Aca kesel sama Ara. Apalagi saat Ara bilang “jangan mimpi” ke Aca, saat Aca sedang menceritakan Kak Morgan,” jelas Jessline.


“Kenapa bawa-bawa saya?” tanya Morgan yang terkejut dengan yang Jessline ucapkan.


“Kan waktu itu Aca ngasih Kak Morgan gelang. Aca lagi cerita sama Yusfira dan Lisa waktu di toilet, tentang Kak Morgan yang katanya nonton bioskop bareng sama Aca, terus yang katanya dikasih gelang juga. Kebetulan di sana ada Ara, dan ya sudahlah terjadi seperti itu. Aca gak terima saat Ara bilang seperti itu. Makanya sejak saat itu, dia berusaha buat bikin Ara jatuh, ya kebetulan ada insiden tentang yang ada di kertas yang Pak Dicky tunjukin itu. Jadi, Aca gak sengaja motret Ara, terus langsung nempel kertas itu di madding, sampai semua mahasiswa tahu kebejatan Ara,” ucap Jess panjang lebar.


“Pas di kantin pun begitu, Aca sengaja bikin ulah ke Ara, dia ngambil tempat duduk yang udah Ara lihat sebelumnya. Dan ngatain Ara pel*acur, jadi Ara ngehajar dia. Saya juga gak nyangka, kalau Ara akan ngehajar Aca begitu, gak seperti cewek lain pada umumnya, yang kalau berantem jambak rambut atau lainnya,” jelas Jess lagi.


Penjelasan Jess, menarik perhatian Dicky kali ini.


“Ada lagi yang mau kamu jelaskan?” tanya Dicky, yang berusaha mendesak Jess.


“Ya sejak kejadian itu, di ruang UKS, kebetulan Ara lewat sama Kak Morgan. Terus Ara kayak nunjukin jari tengahnya ke Aca, terus Kak Morgan ngelus rambut Ara, bikin Aca semakin gak terima dengan kejadian itu. Itu pemicu Aca ingin balas dendam sama Ara. Berhubung Ara diskors dan udah pulang duluan, jadi Aca berusaha mengincar Fla karena dia orang yang terdekat dengan Ara. Apalagi saat itu, saat saya ngelabrak Fla gara-gara masalah Bisma, Ara juga ikut campur, dan nyelamatin Fla dari bully-an saya dan temen-temen,” ucap Jess lagi menjelaskan.


Morgan terdiam, karena ini semua juga ada sangkut-pautnya dengan Bisma, si anak nakal yang waktu itu hampir mencelakakan Ara.


Sementara Dicky dan Morgan sedang berpikir mengenai kebenaran yang Jess ucapkan, Lidya juga sepertinya menemukan sesuatu, tentang pertanyaannya sejak kemarin malam.


‘Sepertinya saya sudah bisa menyimpulkan, bahwa yang Morgan sebut sebagai pacarnya waktu itu, adalah mahasiswi yang waktu itu datang terlambat, dan yang sudah memergoki saya waktu bermesraan dengan Dicky di ruangan Morgan. Pacarnya Morgan itu, Arasha!’ batin Lidya, yang sudah memperkirakan dengan matang.


Lidya merasa sudah kalah dengan bocah seperti Arasha.


Sejujurnya dalam hatinya, ia sangat tidak rela dengan kenyataan yang ia ketahui saat ini.


“Saya sudah melupakan permasalahan tentang kamu, yang melabrak Fla, sampai sempat menampar wajah Fla. Tapi saya tidak menyangka, pangkal permasalahannya itu karena bocah yang bernama Bisma itu,” lirih Morgan, membuat Fla menunduk takut.


“Ya, saat itu, salah saya juga, karena selalu melakukan hal-hal yang tidak Bisma sukai. Kadang saya mabuk-mabukan, pergi ke clubbing untuk merenung, dan semua itu tanpa sepengetahuan dari Bisma. Akhirnya, Bisma main belakang, menggoda mahasiswi yang baru masuk. Dengan ketenarannya itu, ya dia ternyata udah ngegodain Fla. Saya juga gak menyangka, kalau gadis yang digoda Bisma itu adalah Fla. Makanya saya kesal, dan ambil sikap buat labrak Fla waktu itu,” jawab Jess, yang tidak ingin membuat kesalahpahaman tentang dirinya menjadi berlarut-larut.

__ADS_1


__ADS_2