Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Gagal Kasih Surprise


__ADS_3

Ilham merasa ia sudah menjatuhkan sesuatu. Ia pun mencari-cari sesuatu yang tadi jatuh ke lantai, membuatnya akhirnya menemukan benda yang terjatuh itu.


Ilham mengambil benda panjang itu, dan memandangnya dengan aneh. Ia sama sekali tidak tahu tentang benda yang ia pegang ini.


"Ini apa, ya?" gumam Ilham yang bingung dengan benda yang ia pegang.


Ilham menghampiri Ara, "Sayang, kamu tahu gak ini benda apa?" tanya Ilham, membuat Ara tercengang melihatnya.


"Hah, kamu gak tahu itu benda apa?" tanya Ara yang sangat tidak percaya dengan yang Ilham tanyakan padanya.


Ilham hanya menggelengkan kecil kepalanya, saking benar-benar polos dirinya. Ara menepuk keningnya dengan keras, merasa kalau dirinya sedang menerima kutukan.


"Ya Tuhan, apa aku dikutuk? Suamiku gak tahu yang dia pegang itu benda apa," gumam Ara, yang sedikit kesal dengan Ilham.


Alih-alih ingin memberikan surprise, harus gagal karena kepolosan yang Ilham miliki.


"Sayang ... kalau aku gak tahu, ya kasih tahu dong," ujar Ilham yang merasa tak enak dengan Ara.


Ara menatap ke arah Ilham dengan malas, "Itu tuh testpack! Aku hamil, Kak!" teriak Ara, saking kesalnya ia karena surprise-nya kali ini harus gagal karena Ilham yang sangat polos.


Mendengar hal itu, Ilham pun terkejut. Sangat terkejut.


"Apa? Kamu hamil?" teriak Ilham dengan girang, membuat Ara mengangguk sembari menahan senyumnya.


"Uhuuu!!"


Ilham melakukan selebrasi dengan meletakkan kakinya di atas kursi, kemudian memutarkan kepalanya seperti yang dilakukan Trio Macan. Ia melanjutkan dengan berjoget ria yang tak jelas, hanya untuk menumpahkan rasa senangnya yang teramat dalam untuk istrinya yang sudah mengandung itu.


"Istriku hamil!" teriak Ilham, membuat Ara sangat senang melihat ekspresi Ilham yang sangat di luar ekspektasi Ara.


Ilham menoleh ke arah istrinya, kemudian segera memeluk Ara dengan sangat erat.

__ADS_1


Ia tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa untuk menumpahkan seluruh rasa senangnya itu. Ilham menciumi seluruh sisi wajah Ara, saking gemasnya ia dengan istrinya itu.


"Ih ... Kak Ilham!" rengek Ara yang sedikit kesal, namun hanya bisa tertawa kecil menerima perlakuan manis Ilham padanya, saking senangnya Ilham mendengar hal itu.


"Pantas aja kamu bangun awal, dan siapin semua makanan ini. Pokoknya, mulai detik ini kamu sama sekali gak boleh kerja yang berat-berat! Kamu harus minum vitamin, kamu harus relaks, harus santai, gak boleh aktivitas di luar ruangan kalau gak sama aku, gak boleh pokoknya gak boleh! Kamu juga gak boleh masak mulai hari ini," gumam Ilham dengan sangat bersemangat, membuat Ara tersenyum mendengar perkataan Ilham yang sangat manis baginya.


"Berarti rumah gimana?" tanya Ara yang memberikan trik psikologi, sama seperti Ilham kala itu.


"Aku yang pegang!" jawab Ilham dengan sangat tegas, membuat Ara menahan tawanya seketika.


"Masak aja gak bisa, boro-boro rumah kamu yang pegang," ledek Ara, membuat Ilham menyeringai.


"Soal masak, kita bisa order. Soal pakaian, bisa laundry. Soal rumah, ya ... dikit-dikit aku belajar sapu pel ruangan deh. Asal gak terjadi apa-apa lagi sama janin kamu saat ini," ujar Ilham, membuat Ara terdiam sesaat mendengar ucapan Ilham yang sangat manis ia dengar.


Ara memandang lekat ke arah suaminya itu, "Terima kasih," gumam Ara, membuat Ilham tersenyum hangat padanya.


"No, harusnya saya yang bicara seperti itu," bantah Ilham yang langsung memegang lembut kedua sisi wajah Ara, "Terima kasih ya sayang, sudah mau bersedia mengandung anak untuk aku," gumam Ilham, membuat pipi Ara mendadak panas dipegang.


"Terima kasih sudah sudi menjadi ibu dari anakku," ucap Ilham juga, membuat Ara semakin tersenyum dibuatnya.


"Terima kasih sudah jadi suami yang selalu melindungi dan memberikan kasih sayang untuk aku," ucap Ara, membuat Ilham menghela napasnya dengan panjang.


"Terima kasih, sudah membuat aku menerima bayaran setimpal atas penantian dan pengorbanan aku selama ini," ujar Ilham.


Mereka pun larut dalam pelukan hangat, yang hanya bisa mereka rasakan. Mengetahui kehamilan Ara, membuat Ilham semakin bertambah sayang dengan Ara.


Cinta ... seindah inikah?


"Jangan lupa cuci piring," ujar Ara, membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya, karena lupa dengan tujuan awalnya untuk mencuci piring sehabis mereka makan.


"Iya sayangku. Apa sih yang enggak untuk bunda tersayang," gumam Ilham yang setengah meledek Ara, membuat kepala Ara seakan berasap mendengar sebutan baru Ilham untuknya.

__ADS_1


"Bu-bunda?" gumam Ara dengan tetap memeluk erat Ilham.


"Iya. Nanti, kalau anak kita lahir, aku mau dia manggil kamu bunda, dan manggil aku ayah," ujar Ilham, membuat Ara semakin malu mendengar ungkapan itu.


"Ya ya ya, cuci piring sana," ujar Ara yang mengalah dengan keadaan, membuat Ilham tersenyum lalu melepaskan pelukan hangatnya itu.


Ilham segera mengambil piring yang sebelumnya sudah ia tumpukkan di meja makan. Ia segera mencuci piring, demi keselamatan janin yang ada di dalam kandungan Ara. Ilham sangat tidak ingin kalau sampai ia kembali mengulang kesalahan, karena tidak bisa menjaga Ara dengan benar.


Karena sudah mengetahui dan mempelajari kesalahan sebelumnya, Ilham sangat berhati-hati. Kali ini, ia tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada Ara. Karena, ini adalah janin yang benar-benar darah dagingnya, bukan janin dari Morgan seperti sebelumnya.


Ara pun memandang Ilham yang sedang mencuci piring, sembari memakan pop corn yang tersedia di meja makan.


Seperti sedang menonton drama penyiksaan saja.


"Yang bersih ya sayang," ujar Ara, membuat Ilham menyeringai.


"Mentang-mentang lagi hamil," umpat Ilham, membuat Ara gemas dengannya.


...***...


Selesai mencuci piring dan merapikan seluruh peralatan yang kotor, Ilham pun masuk ke dalam kamarnya. Di ranjangnya, terdapat Ara yang sudah tertidur. Ilham memandanginya dengan sangat bahagia.


"Duh ... nyonya lelah ya," gumam Ilham, yang sangat bahagia melihat wajah polos Ara yang sedang tertidur pulas itu.


Ia melangkahkan kakinya menuju ke arah meja kerjanya. Ia pun duduk, dan mengambil buku catatannya. Tak lupa ia juga mengambil pulpen untuknya menulis.


..."Hari ini, saya mengetahui kabar baik, kalau Ara ternyata sudah hamil. Betapa bahagianya saya mendengar kabar baik ini, membuat saya menjadi bertambah sayang dengan Ara. Kalau bisa, jangan sampai terjadi sesuatu pada anak yang ada di dalam kandungan Ara. Meskipun harus ditukar dengan nyawa saya, saya rela."...


Ilham menuliskan demikian pada buku catatannya. Ia merasa sangat bahagia saat ini. Tinggal menunggu sang buah hati lahir, dan ia benar-benar akan disebut sebagai orang yang sangat berbahagia.


Ilham pun meletakkan kembali buku itu pada tempatnya, kemudian membuka laci pada meja kerjanya. Ia mengambil beberapa obat, dan menenggaknya secara bersamaan. Ia kemudian menenggak habis air mineral yang ada di atas meja kerjanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2