
Morgan sudah sampai di parkiran mall tempat ia dan Ara menonton bioskop waktu itu.
Morgan melangkah jenjang menuju toko buku yang sering ia kunjungi akhir-akhir ini. Banyak sekali wanita yang memandang ke arahnya, selama ia berjalan menuju toko buku itu.
Morgan sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini.
Kini ia sudah sampai di toko buku tujuannya, dan mulai mencari buku yang ia inginkan.
Morgan menuju buku non fiksi, tentang cara-cara memperlakukan pasangan dengan baik dan benar. Karena berkat sering membaca, Morgan kini sudah tidak sungkan lagi untuk bersikap manis pada Ara.
Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukan buku yang ia cari. Ia pun segera mengambil buku tersebut.
“Greppp ....”
Morgan tak sengaja memegang tangan seseorang, yang juga ingin mengambil buku yang sama dengan yang akan Morgan ambil.
Karena kaget, Morgan pun melepaskan tangannya, dan langsung menghadap ke arahnya.
“Maaf, saya gak sengaja,” ucap Morgan padanya.
Ia mulai memperjelas penglihatannya. Morgan shock ketika melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
Ia berdiri semakin dekat ke arah Morgan. Kini, mereka hanya berjarak beberapa cm saja.
“Gak sangka ya, kita ketemu lagi ...,” ucapnya, “marmut,” sambungnya.
Morgan menelan salivanya sendiri.
Kenapa dia selalu ada di dekatku? Jelas-jelas aku sudah menyuruhnya untuk tidak mendekatiku lagi malam itu, pikir Morgan.
...-FLASHBACK MALAM ITU-...
Morgan membalikkan tubuhnya, dan melihat sosok yang tidak asing baginya.
__ADS_1
Morgan mengerenyitkan dahinya, kalau tidak salah, dia adalah teman sekelas Ara. Aku tidak begitu mengenalnya . Tapi sepertinya, jauh sebelum sekarang, aku pernah bertemu dengan gadis ini beberapa kali, pikir Morgan.
Morgan hanya bisa memandangnya dengan heran, karena ia yang masih mengingat tentang gadis yang ada di hadapannya saat ini.
“Udah lama banget ya gak ketemu ...,” ucapnya, “marmut,” ia melanjutkan ucapannya yang membuat hati Morgan menjadi sangat kaget.
Morgan mendelik, tidak kusangka, ternyata dia yang mengirimkan kado yang sama persis dengan yang Putri berikan padaku waktu itu? Apa aku mengenal dirinya? Kenapa aku sama sekali tidak ingat dengan sosoknya? Pikir Morgan.
“Kamu ... siapa?” tanya Morgan yang berusaha memastikan siapa dirinya sebenarnya.
“Udah aku duga, kamu pasti gak inget aku siapa,” ucapannya membuat Morgan menjadi semakin penasaran dengan sosok yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
“Saya gak suka bertele-tele seperti ini,” ketus Morgan.
Gadis itu memasang tampang seperti orang yang tidak terima. Morgan hanya diam mematung, tidak tahu harus berbuat apa.
“Sikap kamu masih aja belum berubah ya. Dari dulu, aku selalu nunggu kamu buat jatuh cinta sama aku. Tapi, kamu masih aja suka sama kak Putri!” ucapnya membentak, membuat Morgan semakin bingung dengan semua omong kosong yang ia ucapkan.
Morgan berpikir dengan keras, sebenarnya siapa dirinya ini? Pikir Morgan.
Beberapa tahun lalu, saat aku mengenal Putri, apakah aku pernah bertemu dengan dia? Masih samar-samar di pikiranku, pikirnya lagi.
“Saya sama sekali gak kenal sama kamu. Mungkin, ada seseorang di masa lalu kamu yang sangat mirip dengan saya,” elak Morgan yang masih bersikeras dengan pendiriannya.
“Apa kamu gak kenal sama kak Putri?” tanyanya.
Morgan hanya diam memandanginya, berusaha berpikir tentang apa yang akan ia katakan selanjutnya.
“Kamu kenapa diem aja?” tanyanya mendadak melirih.
Morgan mendadak menjadi iba dengan nada yang ia gunakan itu.
Aku sama sekali tidak punya niat untuk menyakiti siapa pun. Aku hanya tidak ingin jatuh terlalu dalam dengan ucapan mereka semua, yang merasa sudah sangat dekat denganku. Aku tidak nyaman dengan semua perlakuan mereka padaku, pikir Morgan.
__ADS_1
“Saya gak kenal ya siapa kamu,” ucap Morgan.
“Aku ... orang yang selalu duduk di samping kalian! Aku orang yang selalu ikut kemana pun kalian pergi. Aku juga orang yang sangat terluka dengan cinta kalian. Aku adik kecil yang selalu memikirkan cinta dari kekasih saudaraku sendiri,” ucapnya menjelaskan, membuat Morgan sedikit tersadar karenanya.
Morgan mendelik, aku ingat sekarang! Dia adalah adik kandung Putri yang mempunyai nama panjang yang sama dengan putri. Farha Putri. Pengakuannya membuatku sedikit tidak bisa menerimanya. Pasalnya, aku sama sekali tidak merasakan cinta darinya saat itu. Karena, usianya masih sangat muda saat itu. Dan aku hanya mencintai kakaknya, bukan dirinya. Aku sama sekali tidak berpikir akan menyakiti dan melukainya kala itu. Aku selalu setuju saat Putri mengajak adiknya untuk menemaninya bertemu denganku. Aku pikir, tidak akan menjadi masalah karena mungkin adiknya akan menjadi tameng supaya Putri tidak dimarahi ketika sedang bertemu denganku, pikir Morgan yang sudah mulai ingat dengan sosok Farha yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.
“Berarti, kamu Farha?” tanya Morgan yang sedikit ingin meyakinkan dirinya lagi.
Gadis itu pun mengangguk kecil ke arah Morgan.
“Brakkkk ....”
Tak sadar, handphone Morgan jatuh dengan sendirinya. Ia hanya bisa diam, tanpa mempedulikan handphone-nya yang sudah berada di atas rerumputan taman.
“Selama ini, aku udah nahan perasaan aku sama kalian. Dan setelah kak Putri pergi untuk selamanya, kamu juga menghilang dari kehidupanku. Aku ngerasa diri aku tuh kosong tanpa kalian berdua. Aku selalu simpen kado yang aku beli beberapa tahun lalu untuk kamu. Dan sejak saat itu, aku gak pernah bisa nemuin kamu lagi,” tambahnya.
Morgan hanya menggelengkan kepala perlahan, karena tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja Farha jelaskan tadi. Kepalanya yang masih sakit, akibat benturan dari sepatu high heels milik Aca, membuatnya semakin berat menerima kenyataannya.
“Ada hubungan apa kamu sama kado yang Putri kasih waktu itu ke saya?” tanya Morgan.
Aku masih yakin, semua ini ada kaitannya dengannya. Kalau tidak, bagaimana mungkin kado yang ia berikan bisa sama seperti kado yang Putri berikan waktu itu? Pikir Morgan.
Farha melihat ke arah tangan Morgan, yang sepertinya tidak terdapat jam tangan di sana.
“Kamu gak pakai jam tangan dari aku?” tanya Farha.
“Maaf, saya gak sudi,” lirih Morgan, sukses membuat Farha menjadi ketar-ketir.
“Jahat banget kamu,” lirih Farha, membuat Morgan memandangnya dengan dingin.
“Kenapa kamu tahu semua detailnya persis?” tanya Morgan.
Farha mendelik, “aku yang nemenin Kak Putri buat beliin kado buat kamu. Dan saat kak Putri ke toilet, aku beli kado yang sama dengan yang kak Putri beli. Cuma beda warna aja. Aku selalu nunggu waktu yang tepat untuk ngasih kado ini ke kamu. Aku gak bisa sama sekali bicara sama kamu. Aku benar-benar malu,” ucapnya menjelaskan, membuat Morgan kehabisan kata-kata.
__ADS_1