Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Keputusan Ares


__ADS_3

Ilham berhasil mengajak Ares untuk bertemu dengan Arash. Saat ini, mereka sedang berjalan di koridor, menuju ke kamar rawat Arash.


Ares merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Arash.


Ares menoleh ke arah Ilham, "Kak ... kenapa kita ke rumah sakit? Memangnya, siapa yang sakit?" tanya Ares dengan polosnya, membuat Ilham melontarkan senyuman ke arahnya.


Ilham tak bisa mengatakan apa pun pada Ares. Ia hanya fokus mempercepat langkahnya, sampai-sampai Ares merasa kesulitan menyeimbangi langkah Ilham yang jenjang.


"Duh ... Kak, pelan-pelan dong," lirih Ares, membuat Ilham menghentikan langkahnya.


Ilham segera menggendong Ares, agar lebih cepat bertemu dengan Arash di sana. Ares hanya diam, karena ia yang sudah berjanji akan menjadi anak yang baik, Arash mengizinkannya tinggal di rumahnya.


Sesampainya di ruangan rawat Arash, Ares mendelik, karena ia yang melihat kakaknya yang terbujur menggunakan alat bantu pernapasan di hidungnya.


"Kakak!!" pekik Ares, membuat Arash membuka matanya dan melihat ke arah Ares.


Ilham menurunkan Ares dari gendongannya, Ares pun segera berhambur menghampiri Arash di sana.


"Kakak kenapa?" tanya Ares yang mulai mellow melihat keadaan Arash yang sedang dirawat itu.


Arash berusaha tersenyum ke arah Ares yang sudah menghawatirkannya, "kakak gak apa-apa, Res. Cuma kecapean aja," lirih Arash, membuat genangan air mata tiba-tiba saja muncul di pelupuk mata Ares.


"Kak Arash kok bisa kayak gini? Gak mungkin kecapean bisa sampai begini," ucap Ares yang tidak percaya dengan perkataan Arash.


Arash mengalihkan pandangannya ke arah Ilham.


Melihat signal yang diberikan Arash, Ilham segera paham dengan maksud Arash.


Ilham menghampiri Ares yang saat itu sudah sangat sedih melihat kondisi Arash.


Ilham meletakkan tangannya di bahu Ares, "Ares ... Kak Arash gak apa-apa, kok. Kak Arash hanya terlalu lelah bekerja, sampai-sampai Kak Arash sakit deh," ucap Ilham, yang berusaha menenangkan suasana hati Ares.


Ares pun berusaha mengerti dengan yang Ilham ucapkan.


"Makanya, Ares harus jaga kesehatan, ya. Jangan sampai Ares ikutan sakit seperti Kak Arash. Nanti kasihan Kak Arash nanti," tambah Ilham, membuat Ares mengangguk kecil karenanya.


Ilham tersenyum, melihat respon Ares yang sangat mudah diarahkan itu.


"Aku mau ke toilet dulu ya, Kak," ucap Ares yang mendapat anggukan dari Ilham, kemudian segera menuju ke toilet yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


Ilham pun menoleh ke arah Arash yang masih terlihat lemas di sana.


"Gimana, sudah membaik?" tanya Ilham, membuat Arash tersenyum padanya.


"Kamu mau ngeledekin saya, hah?" tanya Arash yang masih terdengar lemas, membuat Ilham tak kuasa menahan tawanya.


Ilham tertawa kecil mendengar sikap sentimentil dari Arash, membuat Arash tak bisa berkata apa pun lagi.


"Hilangkan sifat kamu yang kelewat berkorban seperti itu," ucap Ilham, membuat Arash menafikan pandangannya.


"Entah kenapa, saya selalu menyia-nyiakan nyawa saya, untuk keselamatan orang lain. Saya juga gak paham," lirih Arash, membuat Ilham menghela napasnya panjang.


"Ya, ada bagusnya. Tapi, tahu tidak? Semalam Jessline melihat kamu sedang bercumbu dengan Fla," ucap Ilham, membuat Arash mendelikkan matanya.


"Jadi, yang saya lihat kemarin, benar Jessline?" tanya Arash, membuat Ilham sedikit bingung karenanya.


"Tunggu, kemarin kamu ... sedang tidak mengonsumsi absinthe, bukan?" tanya Ilham, membuat Arash tersenyum pasrah ke arahnya.


Ilham memasang tampang datar, sembari menggelengkan kepalanya.


"Pantas saja kamu berhalusinasi," lirih Ilham, yang tak bisa lagi dielakkan oleh Arash.


"Jika kalian saling mencintai, gak mungkin hanya kamu yang berjuang sendiri. Pasti kalian berjuang bersama-sama untuk mempertahankan hubungan," ucap Ilham, yang lagi-lagi membuat Arash berpikir.


"Hmm ... gimana? Saya sudah terlanjur mencintai dia. Apa saya bisa membuka hati untuk orang lain?" tanya Arash dengan ragu, membuat Ilham menghela napasnya.


"Kamu sudah pernah keluar dari masa kelam, dan bisa melupakan Bunga. So, kenapa kamu gak bisa melupakan Jessline?" tanya Ilham, membuat Arash mendelik tak percaya dengan ucapan Ilham.


'Betul juga,' batin Arash yang akhirnya berpikiran terbuka, setelah mendengar ucapan Ilham.


"Ckrekk ...."


Ares pun datang dari balik pintu toilet, dan menuju ke arah Arash dan juga Ilham.


Mereka bersikap seperti biasa kembali, agar Ares tidak berpikiran yang macam-macam.


"Udah selesai?" tanya Arash.


"Udah, Kak," jawab Ares.

__ADS_1


"Sekarang, kakak mau tanya ke Ares tentang sekolah," ucap Arash, membuat Ares sendu mendengarnya.


Pasalnya, letak sekolah Ares cukup jauh dari rumah Arash, membuatnya merasa tidak mampu untuk menjalaninya setiap hari.


"Bagaimana, apa kamu mau lanjutkan, atau tidak?" tanya Arash, membuat Ares memandang ke arahnya.


"Bagaimana bisa Ares gak lanjut? Ares mau ...," gumamnya yang menggantung, karena ia tiba-tiba saja menafikan pandangannya.


"Mau apa?" tanya Arash penasaran dengan yang dimaksud Ares.


Ares menatap ke arah Arash dengan lantang, "Ares mau seperti kakak, yang sangat hebat, di mata Ares. Masa Ares gak lanjut sekolah, sih?" ucap Ares, membuat Arash dan juga Ilham, tersenyum ke arahnya.


"Kalau Ares mau seperti Kak Arash, Ares harus melanjutkan sekolah, jangan putus di tengah-tengah begini, ya? Sudah beberapa hari ini, lho, Ares gak masuk sekolah," ucap Arash, membuat Ares merasa sendu.


Ares menatap Arash, "tapi gimana? Jarak dari sini ke sekolah aku kan ... jauh. Gimana bisa aku sekolah dengan jarak yang jauh, kak?" tanya Ares, berusaha menyangkal semuanya.


"Gimana ... kalau home schooling?" usul Ilham, membuat Ares menggeleng kecil.


Ilham mengerenyitkan dahinya, "lho, kenapa? Ada apa dengan home schooling?" tanya Ilham bingung.


"Sebenarnya ... ada satu sekolah yang pengen banget Ares datangi," ucap Ares, membuat Ilham dan Arash saling melempar pandangannya.


Arash memandang ke arah Ares, "memangnya di mana? Dan apa alasan Ares mau masuk ke sekolah itu?" tanya Arash yang bingung dengan kemauan adiknya itu.


Ares menundukkan pandangannya, "di Foundation Galasky Internasional School. Karena ... sudah beberapa kali ini, tim voli sekolah Ares yang lama, kalah telak sama tim voli sekolah itu. Ares mau masuk ke tim voli mereka, dan merasakan kemenangan seperti yang mereka rasakan selama beberapa tahun berturut-turut ini," lirih Ares, membuat Arash mendelikkan matanya.


"Duh ... begitu ceritanya. Ya sudah, besok kakak pastikan kamu bisa masuk ke sana," ucap Arash, membuat mata Ares berbinar terang.


"Wah ... serius, Kak?" tanya Ares, membuat Arash melemparkan pandangannya ke arah Ilham.


"Bukan begitu, Ham?" tanya Arash, yang langsung membuat Ilham mengerti dengan maksudnya.


Ilham merasa dirinya kali ini sudah diintimidasi oleh Arash.


Ilham melontarkan senyumannya ke arah Ares, seperti senyuman terpaksa, karena Ilham tahu kalau Arash pasti akan menyuruhnya untuk mengurus semua hal menyangkut administrasi.


Yah ... nasib menjadi kaki-tangan seorang CEO.


...***...

__ADS_1


__ADS_2