
Arash baru selesai membersihkan tubuhnya yang lengket, karena sudah seharian ia mengajak Aresh untuk bermain di pantai. Saat ini, tubuhnya sudah didominasi dengan pasir pantai, hingga sangat sulit untuk membersihkannya dari tubuhnya.
Ia melihat ke arah cermin, yang berada di dalam kamar hotel. Terlihat tubuhnya yang masih basah, dan juga tetesan air mandi yang masih mengucur dari rambutnya.
Ia memandangi dirinya dengan saksama. Beberapa tetes air mengucur bebas, dari rambutnya melewati lekukan six pack yang terdapat pada perutnya.
“Apa sih kurangnya gue, sampe Monic lebih milih bocah itu?” lirih Arash, sembari memandang sendu dirinya.
“Salah, bukan Monic, tapi Jessline,” ucapnya lagi, membenarkan dan berusaha menerima kenyataan.
Ia beberapa kali menghela napasnya, berusaha melupakan kejadian yang sudah terjadi antara dirinya dan juga Jessline.
Arash mulai memakai pakaiannya, kemudian menutup kembali lemari bajunya.
“Kakak ...,”
“Haaaa!!” Arash terkejut, karena tiba-tiba saja muncul seorang gadis manis dari balik pintu lemari, yang baru saja ia tutup.
Arash mendelik ke arahnya, “Ares, bikin kakak kaget aja,” lirih Arash yang geram dengan kelakuan gadis manis yang ada di hadapannya saat ini.
Amarahnya tertahan, karena memang Arash yang tidak pernah bisa memarahi gadis manis ini. Ia tidak sampai hati untuk melakukan itu, kepada gadis kecil ini.
Arash bersimpuh di hadapannya, “Ares, ini udah malam. Kenapa Ares gak bobo di kamar?” tanya Arash dengan lembut, gadis kecil bernama Aresha itu, hanya bisa tersenyum ke arah Arash.
Arash menyapu lembut ujung rambut Ares, “ada apa sih? Kok senyum-senyum gak jelas gitu?” tanya Arash yang ceria, berbanding terbalik dengan perasaan hati yang saat ini sedang melandanya.
“Ares mau bobo sama Kakak,” lirihnya, membuat Arash agak sendu mendengarnya.
“Ares ... Ares kan udah besar, masa mau bobo sama kakak, sih? Ares gak malu?” tanya Arash, membuat Ares melontarkan wajah kesalnya.
“Ares masih kecil! Ares mau bobo sama Kak Arash, pokoknya Ares mau bobo sama Kak Arash,” ucapnya yang memang tidak akan pernah bisa ditolak oleh Arash.
“Ares ...,” lirih seseorang dari arah pintu kamar Arash, membuat Arash dan Ares melihat ke arahnya.
__ADS_1
Terlihat sosok wanita cantik nan mempesona, di ambang pintu kamar. Namanya adalah Bunga.
Ya! Dulunya dia adalah gadis yang lugu. Gadis cantik yang merupakan selingkuhan dari ayahnya Arash, yang seusia dengan Arash.
Gadis yang sudah tumbuh menjadi seorang wanita cantik itu, memiliki anak hasil perselingkuhannya bersama dengan Bram, ayah dari Arash dan Arasha. Putri kecilnya ia namakan hampir sama dengan nama Arash dan Arasha.
Gadis kecil itu bernama Aresha. Usianya masih menginjak di angka 10 tahun. Kurangnya kasih sayang dari ayahnya, membuat Aresha merasa sangat senang jika Arash bisa menghabiskan waktunya bersama dengannya.
Bukan kurang, tapi malah tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya. Aresh bahkan belum pernah bertemu dengan ayahnya, karena di saat Bunga mengandung dirinya, ayahnya sudah tiada, akibat perkelahian dengan Arash waktu itu.
Arash tidak pernah mengatakan hal ini pada Ara, karena Arash tidak ingin Ara menanggung semua rasa sakit, yang sudah ditinggalkan ayahnya. Di samping itu, Arash tidak ingin kalau nantinya Ara merasakan, kasih sayang dari dirinya yang sudah terbagi.
“Mama ...,” lirih Ares, membuat Arash bangkit dari posisinya.
“Mama cari daritadi, ternyata kamu di kamar Kak Arash,” lirih Bunga dengan sangat lembut.
Wajah dan perangainya memanglah sangat manis. Tapi, yang namanya pelakor, tetap saja pelakor. Tidak ada manis-manisnya.
Ares merampas tangan Arash, dan berlindung di balik tubuh Arash, membuat Arash merasa terkejut dengan perlakuannya itu.
“Ares mau tidur bareng sama Kak Arash,” lirih Ares, membuat Bunga menggeleng kecil sembari menghela napasnya.
Arash memandang ke arah Bunga, “biarlah satu malam ini Ares tidur sama saya,” lirih Arash, berusaha membuat Ares bahagia.
Mendengar ucapan Arash, gadis manis itu tersenyum bahagia, karena kakaknya yang selalu menuruti kemauannya.
“Ayo mama tidur bareng sama kita,” lirih Ares dengan riang, membuat Bunga melontarkan senyuman ke arahnya.
“Gak akan muat ranjangnya. Ya udah, Ares jangan nakal ya, jangan gangguin Kak Arash, dan janji akan langsung tidur,” lirih Bunga, membuat Ares mengangguk senang mendengarnya.
Bunga memandang ke arah Arash, “maaf merepotkan,” lirih Bunga.
“Tidak apa-apa,” jawab Arash dengan datar.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri, hati Arash masih sangat terpukul tentang kejadian yang menimpa ibunya. Sampai detik ini pun, ia masih tidak menyangka, kalau wanita yang berdiri di hadapannya ini, adalah selingkuhan dari ayahnya. Meskipun usianya sebaya dengan Arash.
“Nanti, temani saya bicara,” lirih Bunga, Arash hanya mengangguk kecil.
Bunga meninggalkan mereka di sana, membuat Ares merasa senang karena bisa berduaan dengan kakaknya itu.
“Kita tidur?” tanya Arash, membuat Ares mengangguk.
Ares berbaring di atas ranjang, kemudian Arash menyelimutinya dengan sangat lembut. Arash membaringkan tubuhnya menghadap ke arah Ares.
“Gimana sekolahnya?” tanya Arash.
“Ares ikut seleksi lomba voli putri, dan Ares dipilih untuk persiapan lomba nanti,” jelas Ares, membuat Arash sedikit senang mendengarnya.
‘Ternyata, wanita itu merawat Ares dengan sangat baik, sampai membuatnya menjadi berbakat seperti ini,’ batin Arash, yang sedikit banyaknya merasa senang dengan perkembangan yang terjadi pada adiknya itu.
Walaupun masih berusia cukup muda, dan masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, Ares sudah banyak mencetak prestasi di bagian olahraga. Bukan hanya voli saja, basket, sepak bola, bahkan sampai bela diri pun, ia turut serta di dalamnya.
Ares merupakan anak emas bagi kepala sekolahnya.
“Wow, bagus dong? Jadi, kapan lombanya dimulai?” tanya Arash yang merasa simpatik dengannya.
“Iya, lombanya dimulai tanggal 2 Februari nanti. Aku pengen Kak Arash dateng buat ngeliat aku lomba,” ucapnya membuat Arash mendelik.
‘Februari? Ulang tahun Ara,’ batin Arash yang merasa kaget dengan yang ia katakan.
Inilah yang Arash takutkan. Arash selalu bersama Ara, saat Ara merayakan ulang tahunnya. Tetapi, nanti, adalah hari di mana Ares melangsungkan perlombaan. Arash tidak bisa menolak permintaan Ares, tapi Arash juga tidak bisa menolak berlibur bersama dengan Ara, karena itu sudah merupakan tradisi mereka.
Setiap Ara ulang tahun, Arash selalu mengajak Ara untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Tapi, bagaimana jadinya jika tepat di hari spesial Ara nanti, Arash tidak berada di sampingnya?
Arash mendelik, tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut adik bungsunya itu.
“Kak Arash datang kan nanti?” tanya Ares.
__ADS_1
Pertanyaan Ares, membuat Arash menelan salivanya, tidak bisa berkata apa pun lagi.
...***...