
Ara menikmati setiap detik perjalanannya bersama dengan Morgan. Ara hanya takut kalau saja cuaca hari ini tidak memungkinkan. Ternyata, setelah terbang kurang lebih hampir 8 jam, ia dan Morgan selamat sampai ke tempat tujuan.
Ara melirik ke arah Morgan yang ternyata sedang tertidur dengan pulas. Hal itu membuat Ara menjadi tak enak untuk mengganggunya. Padahal, semua orang yang berada di awak pesawat ini sudah turun sejak tadi.
Wajahnya terlihat sangat lelah, membuat Ara semakin tak tega untuk membangunkannya.
"Permisi, sudah waktunya kalian untuk turun dari kabin pesawat," ucap seseorang, yang tanpa sadar ternyata sudah berada di hadapan mereka.
Pramugari itu terlihat sangat cantik, dengan postur badan yang proposional. Ara yang wanita saja, hampir terpesona olehnya.
"Emm ... bisa bantu aku untuk bangunin calon suamiku? Aku gak tega ...," ucap Ara dengan nada lemas.
Tak bisa dipungkiri, terbang dengan waktu yang lumayan lama membuat Ara juga kehabisan energi. Apalagi, saking semangatnya, Ara sama sekali tidak bisa istirahat selama perjalanan.
Pramugari itu mengangguk dan tersenyum ramah. Ia berusaha mendekati wajah Morgan, dengan Ara yang sedang bersiap-siap.
Aktivitas Ara terhenti, karena terlihat tatapan yang agak aneh dari Pramugari itu. Ia memandangi Morgan dengan tidak biasa.
Tatapan yang mematikan.
"Permisi, Tuan. Kita sudah sampai pada tujuan akhir kita," ucapnya dengan wajah yang tidak biasa.
Ara mendelik, aku tidak yakin, apakah dia orang yang baik atau tidak, pikir Ara.
Morgan lantas terbangun, dan melihatnya dengan ekspresi yang sangat datar.
Ara pikir, Morgan tidak mengenalnya sama sekali. Aku tidak perlu risau karenanya.
"Terima kasih," lirih Morgan.
Pramugari itu pun tersenyum pada mereka, "apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Tidak, terima kasih," tepis Morgan.
"Baiklah. Saya permisi dulu," pamitnya.
Pramugari itu pun pergi dan meninggalkan mereka di sini.
__ADS_1
Ara terdiam, aku sudah tidak menghiraukannya lagi karena Morgan bersikap dingin padanya. Itu tandanya, tidak ada yang perlu dipusingkan, pikir Ara yang lalu mempersiapkan semua barang-barangnya.
Mereka pun turun dari pesawat, dan segera menuju ke arah terminal.
Mereka berhenti di depan pintu masuk. Morgan meletakkan barang-barangnya di atas kopernya.
Ara menoleh ke arahnya, "kita mau pergi ke mana?" tanya Ara pada Morgan.
Ara merasa bingung, karena ia sama sekali tidak mengenal Tokyo, dan hanya tahu sedikit mengenai Tokyo.
Morgan pun menoleh ke arah Ara, "kita pergi ke penginapan dekat sini. Besok, kita baru mulai menjelajahi Kota Tokyo ini. Saya ingin sekali ditemani untuk mengunjungi teman lama saya saat kuliah di sini," ucapnya, Ara mendadak menjadi sangat tersanjung karena mendengar ucapannya itu, yang sampai ingin ditemani untuk bertemu kawan lamanya di sini.
Sungguh Ara beruntung sekali.
Ara melontarkan senyuman ke arah Morgan, "oke deh. Terima kasih, Morgan," ucap Ara dengan senang hati.
Melihat senyuman Ara, Morgan pun membalas senyumannya dengan senyuman yang sangat tulus, setelah mendengar ucapan terima kasih Ara. Hal itu membuat Ara merasa nyaman memandangnya.
Sudah lama sekali, aku tidak melihat senyumannya itu. Kini, aku bahkan bisa melihatnya lagi, pikir Ara.
...***...
Morgan selesai mengurus reservasi. Ia pun menoleh ke arah Ara, "ayo," ajak Morgan padanya, yang sedang memainkan ikan yang ada di lobi.
Mendengar Morgan yang sudah mengajaknya pergi, Ara pun menyambar mesra tangan Morgan, yang sudah menunggunya sejak tadi.
Kini, mereka telah sampai di kamar hotel yang telah Morgan pesan. Nuansanya sangat nyaman.
Waktu di Jepang sudah menunjukkan pukul 00.01 dini hari. Ara sudah capek sekali dengan perjalanan yang menguras tenaga dan waktu ini.
"Brukk ...."
Ara menjatuhkan dirinya di atas ranjang King bed, berukuran 180 cm x 200 cm itu. Kasurnya sangat empuk, membuat Ara sangat nyaman tidur di atasnya.
"Akhirnya kita sampai juga ke sini," ucap Ara yang melepaskan lelahnya, setelah seharian beraktivitas.
Morgan yang sedang merapikan barang-barangnya, sesekali melirik ke arahnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Ara memejamkan matanya karena dirinya yang sudah sangat lelah karena seharian terjaga. Ara bahkan tidak sempat ber-selfie ria, atau sekedar memberikan kabar kepada Arash dan teman-teman yang lainnya.
Melihat Ara yang sudah tertidur pulas, Morgan pun menggelengkan kecil kepalanya, dan segera mengeluarkan kaos oblong dan perlengkapan mandi lainnya dari dalam koper.
"Pasti lelah, kan?" gumam Morgan yang masih sesekali melirik ke arah Ara.
Morgan pun melangkah ke dalam kamar mandi, untuk sekadar membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.
...***...
Malam ini di Indonesia, waktu baru menunjukkan pukul 22.01 malam, karena perbedaan waktu antara Jepang dan Indonesia yang hanya selisih 2 jam lebih lambat.
Arash dan Fla kini ada di dalam mobil. Suasana kini sangat canggung, karena mereka baru saja sampai di depan pagar rumah Fla. Bahkan, sepanjang jalan pun, mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Fla menunggu Arash di sana, yang sedang memainkan jemarinya yang masih ia letakkan di atas kemudi. Fla masih sangat canggung dengan yang Arash lakukan sewaktu di rumahnya tadi.
-FLASHBACK ON-
Pizza pesanan mereka pun datang. Fla mempersiapkan minuman, karena minuman yang Ilham berikan ternyata tidak cukup untuk porsi makan mereka.
Fla pun mengaduk-aduk sirup yang sudah setengah larut dengan air dan beberapa balok kecil es.
Dari arah sana, Bunga pun datang menghampiri Fla.
"Ada hubungan apa kamu sama Arash?" tanya Bunga tiba-tiba, membuat Fla terkejut mendengar perkataannya.
Fla meletakkan sendok yang ia pegang, di atas gelas yang sudah berisi sirup. Fla pun kini memandang ke arah wanita asing itu.
"Maaf, ada apa ya, Kak? Kenapa Kakak nanya begitu?" tanya Fla balik, membuat Bunga melontarkan tatapan meremehkan ke arahnya.
"Saya cuma mau tahu, sebenarnya ada hubungan apa kamu sama Arash?" tanya Bunga, membuat Fla terdiam karena bingung hendak menjawab apa.
Bunga menajamkan pandangannya ke arah Fla, "jangan mengelak dan cepat jawab. Saya tahu, kamu sama sekali gak ada hubungan apa pun dengan Arash, kan?" tanya Bunga yang semakin memojokkan Fla.
Fla mendelik saking bingungnya harus menjawab apa.
"Apa yang Kak Bunga maksud? Aku gak ngerti," tanya Fla kembali, berusaha untuk berpura-pura tidak mengetahui yang Bunga pikirkan.
__ADS_1
"Sudah, gak usah banyak mengelak. Kamu harus jauhi Arash. Kalau tidak--"
"Kalau tidak, kenapa?"