
Seketika jantung Ara terpacu, karena mendengar perkataan Morgan yang menurutnya sangat romantis itu. Setiap detik yang terasa, mampu membuat kehidupan Ara menjadi lebih berarti jika bersama dengan Morgan.
Ucapan Morgan membuat Ara tidak bisa mencerna pikirannya. Matanya membulat, terus memikirkan hal yang memang semestinya ia pikirkan.
Jadi selama ini, dia selalu menelan habis semua hal yang tidak aku sukai? Aku tidak bermaksud demikian. Tapi aku jadi sadar dengan satu hal. Saat ia mulai meluapkan emosinya, saat itulah mungkin ia sudah benar-benar merasa kenyang dengan semua sikap kasarku yang sudah ia telan habis. Terima kasih, aku jadi paham satu hal, pikir Ara.
Ara meletakkan piringnya di atas meja, kemudian memandang lekat ke arah Morgan, membuat Morgan seketika memandang ke arahnya.
Mereka saling memandang satu sama lain. Ara tidak merasakan apa pun, selain rasa sayangnya pada Morgan, yang sudah menggebu, menusuk kalbu.
“Jangan jatuh cinta sama saya,” lirih Morgan dengan sangat tenang, membuat genangan air di kedua pelupuk mata Ara.
Ara terisak, tapi Morgan hanya diam sembari melihat respon Ara selanjutnya.
Ara tersenyum, “bodoh, kenapa berbicara hal yang tidak akan mungkin terjadi?” lirih Ara sembari tetap menahan tangisannya.
Morgan memiringkan kepalanya, membuat Ara semakin tidak bisa menahan diri lagi.
‘Gak akan aku biarin kamu pergi. Aku sayang sama kamu,’ batin Ara yang sudah tidak bisa membohongi perasaannya lagi.
Ara langsung memeluk erat tubuh Morgan, membuat Morgan agak terkejut dengan yang Ara lakukan.
Ara merasa sangat bahagia saat ini. Pikiran dan hati yang tidak selaras, membuat Ara sedikit kesal dengan keadaan.
Meskipun begitu, meski ia selalu bersikap egois dan punya emosional yang tinggi, tapi jauh di lubuk hatinya, Ara sangat menyayangi pria yang ada di dalam pelukannya ini.
Aku menyayangi Morganku, pikir Ara.
“I love you,” ucap Ara.
Morgan tersenyum ketika mendengar pertama kali Ara menyatakan perasaannya secara sadar, tanpa paksaan seperti ini. Ia merasa getaran yang aneh di dalam hatinya, yang membuat dirinya merasakan cinta yang begitu besar dari dalam diri Arasha.
Ara merenggangkan pelukannya karena Morgan sama sekali tidak membalas pelukannya itu.
Ara memandang lekat wajah Morgan, yang ternyata sedang berseri-seri.
‘Inilah kisah yang sudah saya tunggu,’ batin Morgan yang masih bersikap tenang, meskipun jiwanya sudah memberontak dan menggebu.
“Hai, aishiteru, Arasha-chan,” ucap Morgan dengan logat Jepang yang ia punya.
__ADS_1
Morgan tersenyum membalas ucapan Ara.
Mereka saling berpelukan kembali, membuat Ara sangat senang kali ini, mendengar pengakuan langsung dari Morgan.
A
ra tak bisa melepaskan pelukan Morgan, saking terasa nyaman sekali.
Bagi Ara, ini adalah bahu ternyaman setelah ayah, kakaknya, dan Reza.
Apa aku bisa menjalin hubungan ini sampai menuju pelaminan nanti? Atau ... harus kandas kembali sebelum akhirnya aku bisa bersama dengannya? Pikir Ara, yang sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi.
Entahlah. Aku hanya bisa berharap demikian. Aku juga tidak bisa menantang takdir. Karena untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, sepertinya aku butuh waktu, pikir Ara.
Morgan melepaskan pelukannya itu.
Ia memberikan Ara segelas air mineral. Ara sampai lupa, sudah makan tapi belum minum.
Haha, ada-ada saja kalau sedang jatuh cinta.
Ara mengambil gelas dari tangan Morgan. Tapi, Morgan menarik gelasnya hingga Ara mengikuti arah gelas itu.
Satu kecupan berhasil mendarat di pipi kanan Ara, membuatnya terdiam beberapa saat, sembari mengatur deruh napasnya yang memburu.
Ara mendadak malu saat Morgan memperlakukan Ara seperti ini.
“Ih ... sini ...,” rengek Ara yang seperti anak kecil.
Morgan tertawa kecil, lalu memberikan gelas itu pada Ara.
Ara melihat Morgan dengan tatapan imut yang ia miliki, sembari mengambil gelas itu.
“Cieeee ... yang lagi kasmaran,” ledek bibi tiba-tiba.
Ara dan Morgan spontan menoleh ke arah bibi yang sedang berdiri di belakang mereka.
Ara dan Morgan tertawa kecil melihat aksi jahil Bibi.
Tidak disangka, Ara dan Morgan kini sudah menjadi ‘mereka’. Tinggal bagaimana caranya Ara bisa mempertahankan hubungan yang sudah terbina ini.
__ADS_1
Karena Ara pasti sudah tahu, kalau kekasihnya itu bukanlah orang biasa. Morgan memiliki banyak fans di mana-mana.
Meskipun Ara juga tahu, kalau Morgan bukan artis, tapi banyak teman-teman sebaya Ara, kakak tingkat, bahkan setingkat dosen yang menyukai Morgan.
Banyak sekali saingan berat Ara di luar sana. Belum lagi hantu Putri yang mungkin masih terngiang di pikiran Morgan.
Haha, lucu sekali ya, saingan dengan hantu? Hanya aku yang berpikir konyol seperti itu, pikir Ara.
***
Cuaca di sore hari ini tidak terlalu bersahabat. Angin yang berembus dengan kencang, dengan awan yang sudah mulai menjadi kelabu, serta gesekan awan yang sudah bergemuruh, membuat hawa menjadi lebih dingin dari sore biasanya.
Arash sudah tiba di kampus Ara saat ini. Ia memarkirkan mobilnya agak sedikit jauh dari gerbang kampus, khawatir bertemu dengan orang yang ia kenal.
Arash melirik ke arah jam yang ada di tangannya. Waktu menunjukkan pukul lima petang, membuat Arash semakin kesal karena harus menunggu lebih lama.
Arash yang sudah tidak sabar, membuatnya keluar mobilnya untuk melihat lebih jelas orang yang ia cari.
Dari arah koridor, Fla berjalan bersama dengan Farha, yang sebelumnya berencana mengajaknya untuk bermain ke apartemennya.
“Yah ... sayang banget ada pelajaran tambahan. Kalau gak ada, gue pengen banget ke apartemen loe, Far,” ucap Fla yang sangat menyayangkan dengan gagalnya rencana untuk berkunjung ke tempat tinggal Farha.
“Gak apa-apa, mungkin lain waktu,” lirih Farha, yang masih tetap membuat Fla merasa sendu.
“Iya, tapi kalau ada waktu luang, gue pasti ke tempat loe, kok!” ucap Fla yang bertekad pada Farha, membuat Farha tersenyum mendengar ucapan Fla itu.
Dari sudut sana, terlihat Aca, Yusfira dan Lisa yang sedang bersembunyi, dengan memegang sebuah ember berisi air dingin. Mereka hendak menjahili Fla, karena mereka berpikir untuk menjahili Ara mereka tidak bisa, karena Ara sedang tidak ada di kampus.
Aca memberi aba-aba agar mereka mengecilkan volume suaranya.
Di sisi lain, Arash sama sekali tidak bisa menemukan orang yang sedang ia cari. Arash terus merasa gelisah dengan keadaan sekitarnya, mengingat hari yang sudah semakin gelap dan hampir hujan.
“Kemana sih,” lirih Arash yang masih tetap menunggu dengan setia, walaupun pada dasarnya Arash memang sangat tidak suka untuk menunggu, dan membuat orang lain menunggu dirinya.
“Tsett ....”
Orang yang Arash tunggu pun tiba. Gadis itu berjalan dengan sangat terburu-buru, membuat Arash membulatkan matanya.
Arash berhambur, berusaha untuk mendekatinya.
__ADS_1
“Greppp ....”