Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Pesona Lelaki


__ADS_3

“Hmmpptttt ....”


Fla menginjak kasar kaki Ara. Ara lupa, bahwa ia harus menyembunyikan status Fla dan Morgan kepada mereka semua, karena Fla tidak ingin mereka sampai mengetahuinya.


Ara menahan rasa sakit itu dan berusaha tetap terlihat biasa saja di hadapan Ray dan Rafa. Mereka berdua seakan melihat Ara dengan tatapan yang heran.


“Kenapa, Ra?” tanya mereka serentak.


Ara menyeringai ke arah mereka, “ehmm … gak papa,” ucap Ara menyembunyikan apa yang ia rasakan.


Fla terlihat tersenyum kecil setelahnya, membuat Ara menjadi kesal sendiri padanya.


“Eh, waktu itu, loe kemana, Ra? Kok tiba-tiba main ninggalin aja?” tanya Rafa tiba-tiba, membuat Ara tercengang.


Ara sampai melupakan kejadian tentang malam kencan butanya itu dengan Morgan. Kalau ini sampai terbongkar, habislah riwayatnya.


“Eh? A-apa nih?” tanya Ara yang berusaha untuk tidak mengetahuinya.


“Itu lho … masa sih loe gak ingat? Baru tiga hari yang lalu sih!” ucap Rafa yang berusaha untuk memberitahu Ara tentang kejadian kemarin.


Ara menatap kaku ke arah Rafa, seakan memberi sinyal pada Rafa, karena tidak ingin dirinya membicarakan ini di hadapan teman-teman lainnya. Tapi sepertinya, Rafa sama sekali tidak peka dalam hal ini.


“Loe ngomong apa sih, Raf?” tanya Ray yang bingung dengan pernyataan Rafa yang sangat rancu.


Rafa terlihat menghela napasnya panjang.


“Jadi gini lho temen-temen … waktu itu kan gue--”


“Pagi semua,” sapa seseorang yang berasal dari balik pintu ruang kelas, memangkas ucapan Rafa.


Ara yang mengetahuinya, langsung bisa kembali bernapas, setelah menahan napas sejak tadi. Kali ini, Ara benar-benar beruntung.


‘Huft … selamat!’ batin Ara yang merasa lega.


“Eh, ada dosen!”


Mereka semua mendadak duduk pada tempat masing-masing, karena sudah ada dosen yang mengisi kelas ini.


Ara melongo kaget, melihat orang yang sama sekali tidak ingin ia lihat.


“Hah? Ngapain dia ke sini?” lirih Ara sinis, karena melihat Morgan yang masuk ke dalam ruangannya, dengan sesuka hatinya saja.


Ia duduk di kursi dosen. Semua orang menatapnya dengan taat sekali. Tak ada satu pun yang berani berbuat seenaknya lagi, saat ia masuk ke ruangan ini.


“Saya datang, untuk memberikan kabar duka,” lirih Morgan, berusaha menyampaikannya dengan intonasi sebaik mungkin, agar semua mahasiswa tidak salah menilai penyampaiannya.


“Memangnya ada apa, Pak?” tanya ketua murid di kelas Ara.

__ADS_1


Morgan memandang ke arahnya dan juga yang lain, “hari ini, Mr. Herry tidak akan mengisi jam mata kuliah Bahasa Inggris, dikarenakan kondisi beliau yang sedang mengalami perawatan medis,” lirih Morgan yang langsung membuat mellow suasana, “ternyata, beliau sudah menahan sakitnya sejak tahun 2018. Sudah dua tahun berjalan, beliau hanya menjalaninya dengan pasrah tanpa ada tindakan medis atau sekedar check up,” tutur Morgan.


Semua orang, termasuk Ara, merasa simpatik dengan apa yang baru saja Morgan ucapkan. Ara tidak menyangka, dosen favoritnya itu mengalami kejadian yang tidak terduga.


“Beliau, mengidap penyakit jantung,” sambungnya.


Ara menjadi terenyuh mendengarnya. Mengapa harus menunggu sampai semuanya terlambat? Padahal, Mr. Herry adalah salah satu dosen terbaik di kampus ini. Beliau selalu mengajarkan mahasiswanya dengan penuh kesabaran. Ara rasa, mereka semua juga merasakan kasih sayang dan perhatian dari Mr. Herry.


“Bagaimana keadaan beliau sekarang, Pak?” tanya si ketua murid.


Mungkin ia merasakan hal yang sama, seperti yang Ara rasakan. Apalagi, dia dan juga Mr. Herry, selalu berbincang setelah kelas selesai. Pasti, dia merasakan sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


“Beliau masih harus menjalani tahap pengobatan. Bahkan kalau perlu, melakukan implant jantung,” jawab Morgan.


Suasana menjadi mellow kembali. Ara pun demikian. Tapi, tidak ada yang bisa Ara lakukan selain memberikan doa terbaik yang ia miliki.


“Kami semua, turut berduka cita, Pak.” Seseorang mewakili mereka, untuk menyampaikan rasa berduka cita atas musibah yang menimpa dosen terbaik itu.


Semua orang termenung mendengar perkataan Morgan. Ara juga merasa sangat sedih karena Mr. Herry adalah salah satu dosen favoritnya. Ara jadi ingin sekali menjenguk beliau.


“Lantas, bagaimana pelajaran hari ini, Pak?” tanya si ketua murid lagi, membuat semua orang termasuk Ara, langsung menoleh sinis ke arahnya.


Dirinya celingukan, karena tidak mengerti dengan yang mereka semua pikirkan.


“Saya hanya diperintahkan untuk memberi pelajaran bab yang belum dipelajari, kepada kalian. Saya harap, kalian bisa mengerjakannya dengan benar,” ucapnya, “jangan lupa tugas minggu lalu, dikumpulkan ke ruangan saya. Perwakilan satu orang saja,” sambungnya.


“Eh, apa nih?” tanya ketua murid dengan bingung.


“Berisik, tugas-tugas mulu!” bentak Rafa yang sedang menggotong si ketua bersama dengan yang lainnya.


Morgan hanya bisa menggeleng kecil.


Walaupun favorit, Ara tidak pernah mengerjakan tugasnya. Tapi, dosen itu tidak pernah marah satu kali pun pada kami. Itulah mengapa, Ara dan yang lainnya sangat menyukainya.


“Jika sudah, kumpulkan ke Ara,” perintah Morgan, yang membuat Ara seketika kaget.


Kenapa harus aku? Pikir Ara.


“Lho, kenapa harus gue--” Ara keceplosan berteriak ke arah Morgan.


Morgan hanya memandang dingin ke arahnya. Ara melihat sekelilingnya yang semula rusuh, menjadi mendadak memperhatikan Ara. Ia malu sendiri dengan mereka semua yang memandang heran ke arahnya. Ara tidak ingin semuanya tahu tentang hubungan dirinya dan juga Morgan.


Ara hanya diam menunduk karena malu dengan semuanya.


“Sudah, tidak ada lagi yang mau dipertanyakan?” tanya Morgan, membuyarkan suasana.


Sudah dua kali Ara beruntung, tapi sudah dua kali juga masalahnya dengan Morgan hampir terbongkar.

__ADS_1


“Tidak, Pak,” jawab semua orang serentak, kecuali Ara.


“Oke, saya tunggu ya, Arasha.” Morgan dengan cepat meninggalkan ruang kelas Ara.


Hati Ara menjadi sangat jengkel dibuatnya. Bisa-bisanya Morgan menekan Ara dengan cara seperti ini? Apa tidak keterlaluan namanya?


‘Ish! Gue kesel banget kalo ada dia! Kenapa harus gue coba? Kan ada KM! Terus kalau begitu, buat apa ada KM segala di kelas ini?’ batin Ara mendengus kesal.


*KM (Ketua Murid)


“Ayo, Ra! Kerjain bareng sama gue!” ajak Fla, yang berhasil mengagetkan Ara.


Ara mengangguk kecil, kemudian berusaha mengerjakannya bersama dengan Fla.


***


Jam mata kuliah Bahasa Inggris sudah berakhir. Mereka semua mengumpulkan lembaran kertas hasil tugas di atas meja Ara.


Ara masih saja mengerjakan soal itu, dengan malas.


Ini semua karena Morgan! Kenapa harus dirinya yang mengantar tugas ini pada Morgan?


Apa dia mengetahui, masalah aku tidak pernah mengerjakan tugas dari Mr. Herry? Apa dia ingin memberiku pelajaran? Pikir Ara.


‘Ya Tuhan … cobaan apa lagi ini?’ batin Ara kesal.


“Udah, Ra, coba antar dulu ke ruangan Pak Morgan,” suruh Fla, Ara seketika menghentikan aktivitasnya.


“Iya iya. Yaudah gue mau ke sana dulu, ya.”


Tak ada yang bisa Ara lakukan, selain mengalah. Ara tidak bisa lagi berbuat apa pun karena khawatir, kalau saja Morgan mengetahui tentang permasalahannya selama ini.


Bukan hanya dalam mata kuliah Bahasa Inggris saja, Ara juga tidak mengerjakan tugas di semua mata kuliah.


Tanpa basa-basi, Ara langsung pergi ke ruangan dosen yang mengesalkan itu.


Ara melihat pintu ruangan Kaprodi tidak tertutup. Langsung saja masuk ke dalam ruangan itu, dan menuju ruangan Morgan.


“Eh ….”


Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan dari dalam ruangan Morgan. Ara mendengar suara wanita yang sedang mendesah nikmat.


Ara yang penasaran, kemudian mengintip dari balik jendela.


“Wah ….”


Benar saja!

__ADS_1


__ADS_2