Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Drama Perselingkuhan 2


__ADS_3

Morgan tiba-tiba saja menarik tangan Ara, membuat langkahnya terhenti.


“Eh, apaan sih? Lepasin!” bentak Ara, berusaha mengelak darinya.


“Kenapa sih, kamu suka banget menghindar?” tanya Morgan, masih dengan nadanya yang dingin.


Ara tidak terima dengan pernyataan Morgan yang baru saja ia dengar.


“Udah deh, gue lagi males sama loe, tau gak!” tepis Ara, berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Morgan.


“Dengerin saya dulu, Ra--”


“Gak mau!” pangkas Ara.


Ara berhasil melepaskan diri, namun Morgan langsung memegang pundaknya, tak membiarkan Ara pergi dari hadapannya.


“Aws!” rintihnya kesakitan.


Morgan terkejut dengan respon Ara, yang seperti sedang kesakitan, padahal ia hanya memegang bahunya sedikit.


“Kamu kenapa?” tanya Morgan kaget.


‘Apa dia mempunyai luka?’ batin Morgan menerka.


Ara hanya diam, tak menjawab pertanyaan Morgan. Sepertinya ia malu, dan ragu untuk menjawabnya.


Morgan hanya bisa menghela napas, tak berani memaksanya untuk mengatakan kebenaran, jika dia tidak menginginkannya.


“Saya gak akan maksa kamu buat--”


“Tadi ... Bisma ....” Ia memotong ucapannya, yang terdengar seperti ragu.


Morgan terdiam sejenak. Pikirannya sudah kacau.


Kenapa anak itu bisa melukai Ara seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Pikir Morgan.


Morgan menghela napas, mencoba menahan amarah, yang seharusnya tidak boleh ia keluarkan. Morgan khawatir, Ara akan takut lagi padanya, seperti waktu itu.


Morgan menatap matanya dengan tajam, sembari berusaha untuk menggenggam tangannya.


Ara menepisnya, sepertinya tidak ingin disentuh oleh Morgan. Lagi-lagi Morgan hanya bisa menghela napas panjang. Ia sadar, ia masih belum bisa merebut hati Ara.


Masih terlalu cepat.


Santai saja.


“Selama saya masih ada di sisi kamu, gak ada yang boleh nyakitin kamu,” tegas Morgan.


Ara hanya mendengar kata-kata itu sebagai lelucon. Tak ada satu kata pun yang bisa mengubah perasaannya pada Morgan. Ara tetap tidak ada perasaan yang spesial terhadap Morgan.


Terserah bagaimana perasaannya pada Ara.


Ara mendelik, berusaha menyampaikan perasaannya secara tersirat.


“Gue gak peduli loe mau ngomong apa kek ... mau ini kek, itu kek,” Ara mendelik ke arahnya, “inget ya, Gan, loe gak akan pernah bisa ubah apa pun yang udah ada saat ini!” tegas Ara.


Dia penasaran dengan reaksi Morgan.

__ADS_1


Ara sengaja memperhatikan bola matanya itu.


Morgan masih tetap seperti biasanya, yang hanya diam, sembari memikirkan kata apa yang selanjutnya akan ia ucapkan.


“Saya akan bikin perhitungan ke Bisma!” ucapnya secara tiba-tiba, yang membuat Ara sedikit terkejut.


Biar bagaimana pun, Ara masih menyimpan perasaan kesal pada Bisma. Jika Morgan membantunya untuk melampiaskan kekesalannya pada Bisma, bukankah itu akan sangat menguntungkan bagi Ara?


Tapi, Ara tidak boleh sampai ketahuan menginginkannya.


‘Gue harus buat alibi,’ batin Ara.


“Terserah, mau loe apa. Sekali lagi yang jelas, loe gak akan bisa ubah apapun yang ada saat ini!” jelasnya.


Ara bergegas pergi meninggalkan Morgan di sana. Tapi lagi-lagi, Morgan menahan tangannya sampai ia tidak bisa pergi.


Ara menatap matanya dengan penuh kebencian. Ara tidak suka, ia seenaknya menyentuhnya. Biar bagaimana pun, Ara masih punya harga diri.


“Apa benar, tidak ada tempat untuk saya di hati kamu?” tanya Morgan membuat Ara geli sendiri.


Tubuhnya seketika merinding. Siapa yang mau dengan om-om yang usianya jauh di atasnya?


“Lepasin!” bentak Ara, lalu segera melepaskan cengkeraman tangan Morgan dan pergi dari sana.


Ada perasaan yang belum tersampaikan pada Morgan. Namun, ia tak tahu perasaan apa sebenarnya itu. Mulutnya masih terlalu kelu jika mengatakan hal yang lebih kasar dari ini.


Benar kata Arash, biar bagaimana pun juga, Morgan masih lebih tua daripada Ara. Ia harus bisa menjaga sikap, paling tidak sedikit saja.


Sudahlah. Aku tak mau memperpanjang masalah, pikirnya.


Ara kembali ke kelasnya. Kebetulan jam mata kuliah ketiga masih belum dimulai. Ara memasuki kelas dan duduk di bangkunya. Di sana, sudah ada Fla yang menunggu Ara.


Ara duduk di bangku yang berada tepat di depan bangkunya.


“Habis ke toilet,” ucap Ara yang sengaja berbohong kepada Fla.


Ara tidak ingin Fla tahu, kalau ia baru saja menemui Morgan tadi. Ara tidak mau, ada gosip yang tidak-tidak nantinya. Bagaimana pun juga, Ara belum mengenal jauh sifat Fla.


Ara merapikan buku yang berada di mejanya, dan meletakkannya di dalam tasnya.


“Anu, Ra ...,”


Ara menoleh ke arah Fla. Ia heran, kenapa Fla malu-malu sekali berbicara?


Ara langsung menghentikan aktivitasnya, dan berusaha melihat ekspresi Fla saat itu.


Terlihat wajah yang bersemu malu di sana.


“Ayah nyuruh gue buat ngajak loe makan malam, malam ini.”


“Deg ....”


Hatinya tiba-tiba menjadi tak karuan. Padahal, Fla adalah seorang gadis.


“Makan malam?” tanya Ara untuk memperjelas ucapannya.


“Iya. Tadi gue teleponan sama Ayah. Terus ayah seneng kalau sekarang gue udah punya temen. Apalagi, dia tau kalo loe yang nolong gue barusan,” jawabnya.

__ADS_1


Ara merasa tidak enak hati dengan Fla. Lebih tepatnya, dengan ayahnya Fla. Ara sangat bingung, apa yang harus Ara lakukan?


Ia hanya iseng menolong Fla, dan akhirnya ia malah membuat dirinya terlibat jauh ke dalam pertemanan yang semakin dalam.


“Emm ... gimana ya, Fla.”


Ara merasa ragu dengan ajakan Fla. Terlihat sedikit tatapan kecewa di wajah Fla.


‘Apa salahnya sih? kan makan malem doang,’ batin Ara mengiyakan kemauannya.


Ara menjadi bimbang.


‘Makan malemnya sih gak salah, yang salah tuh pasti ada si Jess di sana,’ batin yang satunya mencela.


“Emm ... ada dia gak?” tanya Ara ragu, Fla nampak tidak mengerti dengan ucapannya.


“Hah, dia?” tanya Fla seperti tak mengerti.


“Jess,” jawabnya singkat.


Ara tidak mau mencari masalah, di kandangnya. Tak masalah jika masalah itu terjadi di luar rumahnya.


Terlihat Fla yang sepertinya ragu. Sepertinya tebakan Ara kali ini benar.


“A-ada sih ....”


Oh, i see.


Ara khawatir, Jess balas dendam padanya. Bisa saja dia nanti dia membubuhkan racun di makanan Ara? Atau meletakkan obat pencahar di dalam minumannya.


“Brrrr ....”


Ara seketika merinding membayangkannya.


Karena lebih berbahaya musuh dalam selimut, daripada musuh yang harus kita hadapi di medan perang.


“Jadi gimana?” tanya Fla bingung.


Ara diam, sembari memikirkan keputusan untuk masalah ini.


“Ya, kalau loe berkenan, dateng yaa ...” pinta Fla, “atau mau gue suruh kakak gue buat jemput loe?” ucapnya meneruskan.


Ara membatin, kenapa ia harus terlibat lagi dalam keluarganya yang lain?


‘Kakak? No! Gue gak mau terlibat lebih jauh lagi,’ batin Ara menolak keras.


Jangan sampai, Ara terlibat lagi. Cukup bersama Fla saja. Ara tidak mau terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan Fla.


“Ehh ... gak usah Fla. Gue bisa jalan sendiri ke rumah loe, kok,” tepisnya, senatural mungkin agar Fla tidak merasa tersinggung dengan ucapannya.


“Serius?”


Ara mengangguk kecil. Fla nampak girang dengan jawaban Ara yang setuju dengan ajakannya. Ia berusaha untuk memeluk Ara, namun Ara menghindarinya.


Ara tidak suka memeluk siapa pun. Bahkan, Ara tidak pernah memeluk Reza sekali pun. Selalu Reza yang memeluknya lebih dulu.


“Maap, hehe,” gumam Fla yang nampak malu dengan tingkahnya sendiri.

__ADS_1


“Gak apa-apa, gue cuma gak biasa aja berpelukan sama orang. Bahkan, sama mantan gue sendiri, gue gak pernah,” jelas Ara, sepertinya membuat Fla mengerti.


Baguslah, agar tidak ada kesalahpahaman di antara mereka.


__ADS_2