
Ara terdiam bingung. Apa yang ingin Morgan lakukan kali ini?
“Mau kemana?” tanyanya, masih dengan nada yang dingin.
Mata Ara memutar karena kesal mendengar pertanyaannya itu. Pertanyaannya tidak bisa Ara terima, karena tidak bermutu menurutnya.
“Ya ke kelas, lah! Gue ini udah terlambat!” jawab Ara menyeleneh, Morgan terlihat mengerenyitkan dahinya.
Suasana terlihat sangat rancu sekarang. Tidak ada yang bisa Ara lakukan, karena ia mendadak merasa sangat takut dengan perlakuan Morgan kali ini. Ternyata, terapi healing Ara selama tiga hari kemarin sia-sia belaka. Ara masih saja tidak bisa lepas dari bayang-bayang Morgan yang selalu dingin dan kasar terhadapnya.
“Ikut saya ke ruangan. Ada yang ingin saya sampaikan,” gumamnya dengan enteng.
Morgan dengan cepat langsung melepaskan tangan Ara, lalu bergegas pergi meninggalkan Ara sendiri di sana.
Aku dianggap apa olehnya? Pikir Ara yang sudah kalut dalam kemarahan.
Ara hanya menganga kesal, melihat perlakuan Morgan kali ini.
Sudah tiga hari berlalu, sejak Morgan mengajak Ara untuk kencan buta.
Ais ... bukan kencan, tapi merayakan ulang tahunnya.
Dengan berat hati, Ara melangkah menuju ruangan Morgan.
Sebenarnya, apa yang ingin Morgan sampaikan kepada Ara?
Ara tidak bisa menerima itu!
Selama tiga hari ini, Ara sudah dibuat kesal dengannya. Sampai-sampai, Ara tidak masuk ke kampus demi menghindari Morgan. Ara masih harus menata kembali hatinya yang sudah diporak-porandakan oleh Morgan. Ara tidak bisa dengan mudahnya memaafkan dirinya yang sudah membuat Ara ketakutan setengah mati.
Ya, it’s me.
Ara tidak bisa diperlakukan dengan kasar, karena merasa sudah trauma dengan kejadian ayah dan ibu yang masih teringat jelas di pikiran Ara. Mereka berpisah, menggunakan cara yang seharusnya tidak boleh dilakukan.
‘Ah, gue benci kalau ingat tentang mereka,’ batin Ara sembari tetap berjalan menuju ke ruangan Morgan.
Beberapa waktu berlalu, Ara sudah sampai di depan ruangan Kaprodi.
“Tok ... tok ....” Ara mengetuk pintu ruangan Kaprodi, kemudian ia langsung membukanya.
Terlihat dosen psikologi tampan, yang waktu itu Ara lihat.
Pak Dicky, Ia sedang merapikan buku-bukunya dengan santai. Ara pun masuk ke dalam ruangan dan menghampirinya.
“Pagi, Pak Dicky,” sapa Ara dengan penuh kelembutan.
Dicky mengubah fokusnya ke arah Ara.
__ADS_1
“Oh, pagi,” balasnya, tentu juga teriring senyuman.
Ara seketika terkesima dengan perlakuan manisnya itu.
‘Duh … pagi-pagi ngeliat senyum dia, bisa-bisa kena diabetes nih!’ batin Ara yang terkesima dengan Dicky.
Dicky terlihat seperti sedang menahan tawanya.
“Pftt ....”
Ara bingung dengan tingkahnya.
“Bapak kenapa ketawa?” tanya Ara yang kemudian tersadar dari lamunan.
Dicky masih tetap berusaha menahan tawanya.
“Kamu jangan naksir sama saya, dong,” ucapnya dengan penuh rasa percaya diri.
Ara yang mendengarnya, langsung membuang pandangannya dari Dicky.
“Dih, ge’er banget! Lagian, siapa juga yang suka sama Pak Dicky,” tepis Ara menyeleneh, karena malas mendengar pernyataannya.
“Hehe. Kamu ngapain di sini? Gimana …,” tanyanya yang menggantung, membuat Ara menoleh kembali ke arahnya.
“Apanya yang gimana?” tanya Ara penasaran dengan yang ia tanyakan.
Ia mendekatkan wajahnya ke arah Ara, membuat Ara semakin penasaran.
Ara menghindari jarak darinya. Sepertinya, Pak Dicky mengetahui kejadian malam itu, saat Morgan berada di samping Ara, menggantikan Bisma.
Mata Ara membulat kaget, tak disangka, Dicky akan mengetahui hal ini.
“Da-dari mana bapak tahu?” tanya Ara ketakutan.
Ia melontarkan senyuman mautnya.
“Saya ada di TKP, waktu Morgan sok jadi pahlawan buat menyelamatkan kamu dari Bisma. Wajar bila saya tahu,” jelasnya membuat Ara bersemu malu.
Bisa-bisanya ada orang lain yang mengetahui masalah pribadinya dengan Morgan.
Kalau seperti ini, aku jadi tidak leluasa lagi bersikap baik di hadapan Pak Dicky, pikir Ara.
Ara mendadak menjadi geram, dan berubah mood. Dia sangat kesal dengan ucapan Pak Dicky, yang terlalu open.
‘Ya, emang sih. Beliau dosen psikolog. Tapi, ya gak semuanya yang dia tahu, bisa diutarakan, apalagi menyangkut harga diri gue,’ batin Ara kembali berapi setelah berpikir matang.
“Ih … udahlah, saya tuh ke sini mau ketemu--”
__ADS_1
“Pak Morgan, kan?” potong Dicky sembari menyeringai Ara.
Kali ini Ara benar-benar kesal dengannya. Semakin lama, ia semakin tidak terkendali. Apa mungkin harus menyuapnya dulu, baru bisa membungkamnya?
“Ah … udah ah. Ngomong sama bapak mah ribet! Sok tau juga kayak dukun!” bentak Ara sinis, lalu segera pergi menuju ruangan Morgan.
Dicky masih terdengar tertawa saja di belakang Ara. Ara sudah tidak bisa lagi berhadapan dengan Dicky, yang sudah mengetahui aib dirinya itu.
Tanpa basa-basi, Ara langsung membuka pintu ruangan Morgan dengan kasar.
“Brakk ….”
Morgan spontan melihat ke arahnya. Ara pun menutup kembali pintunya yang juga dengan kasar, lalu ia duduk di hadapan Morgan.
“Maksud loe apa, nyuruh gue ke sini?” tanya Ara dengan sinis.
Morgan menatapnya seolah-olah dia tidak mengenali Ara. Ara mendelik karena sikap Morgan itu yang membuat Ara kesal.
“Pertama, kamu membuka dan menutup pintu ruangan saya dengan tidak sopan,” ia memaparkan hal yang ia tidak suka, “kedua, kamu hampir menabrak mobil baru saya, yang tak lain adalah hadiah dari pacar saya ….”
“Deg ….”
Jantung Ara seketika berhenti berdetak, karena mendengar pernyataan Morgan, yang tidak Ara mengerti maksudnya.
Apa maksud dari pembicaraannya itu?
‘Pacar katanya?’ batin Ara tak percaya dengan ucapan dan perkataan Morgan.
Rasanya, sekujur tubuhnya seketika menjadi lemas tak berdaya. Apa yang terjadi dengan Ara?
“Ketiga, kamu tidak masuk kampus selama tiga hari.”
Ara tidak mengerti, apa maksud dari semua perkataannya tadi? Ara masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bukankah, Morgan sangat menyukai Ara?
“Itu saja yang ingin saya sampaikan,” jelas Morgan.
Ara terdiam menunduk, bukan karena dirinya takut karena kesalahannya. Ara bahkan tidak mendengar dengan jelas, point penting yang Morgan ucapkan tadi. Tapi, Ara lemas mendengar kata ‘pacar’ yang tadi diucapkan oleh Morgan.
Bukankah dia bilang, dia hanya mencintaiku saja? Kenapa baru tiga hari saja, ia bisa dengan mudahnya mempunyai pacar? Padahal hanya tiga hari kami hilang kontak. Padahal, Morgan juga tidak punya handphone. Bagaimana bisa memberi kabar wanita itu? Pikir Ara dengan keras.
‘Ah,’ batin Ara gundah.
“Apa tanggapan kamu sekarang?” tanyanya membuat Ara menatap tajam ke arahnya.
Air mata Ara hampir jatuh. Ara tak ingin Morgan sampai menganggapnya gadis yang lemah. Apalagi kalau dia sampai berpikiran, Ara menangis karena semua kesalahan yang ia perbuat.
Tidak! Aku bukan menangis karena itu! Pikir Ara bersikukuh.
__ADS_1
“DASAR ORANG GAK PUNYA HATI!” bentak Ara yang kemudian langsung pergi meninggalkan Morgan.
“Greppp ….”